Sekulerisme dan Terjangkitnya Virus Merah Jambu

Oleh: Tika Sekarsari Sunaryo



BANGKAPOS.COM Mayat bayi ditemukan diselokan sebuah kebun di Jl.Rawa Indah Dusun IV RT 10 Desa Kece Timur Mendobarat Bangka, Jumat (13/4/2018) sekitar pukul 14.30 WIB.



Korban bayi perempuan usia lebih kurang dua hari. Mengenai pelaku, masih dalam penyelidikan sedangkan modusnya diduga korban (bayi) dibuang setelah dilahirkan oleh orang tuanya.


Miris memang, berita seperti ini bukan kali pertama terjadi, sudah puluhan bahkan ratusan kasus serupa terulang kembali setiap tahunnya. Hal ini bisa saja terjadi karena fungsi dan peran orangtua sebagai pelindung, pengayom, sekaligus pendidik tak terlaksana sebagaimana mestinya.


Seharusnya Ayah adalah seorang pemimpin keluarga yang mempunyai andil besar dalam menjaga kepribadian islam, peluh dan keringatnya dipertaruhkan untuk kelangsungan nafkah anak dan istrinya. Sedangkan ibu, ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Posisinya sebagai ummun wa rabbatul bayt adalah kunci mewujudkan pendidikan yang benar sesuai syariat islam, sehingga terlahir generasi khoir ummat, generasi hafidzoh, generasi tangguh yang memiliki kepribadian islam.


Sekulerisme adalah penyakit sangat berbahaya yang telah menggerogoti pilar-pilar penyangga fungsi tersebut. Dimana remaja kita disibukkan dengan gemerlapnya gaya hidup hedonis, sedangkan para orangtua yang seharusnya memberikan pendidikan dan penanaman tsaqofah islam terlalu sibuk dengan perburuan materi ditengah desakan kebutuhan ekonomi yang  kian hari kian mencekik. Tak sampai disitu, pengaruh sekulerisme juga tak kalah pesatnya berkembang ditengah masyarakat. Budaya seperti Ikhtilath ( bertemunya laki-laki dan perempuan yang bukan mahram disuatu tempat secara campur baur dan terjadi interaksi antara laki-laki dan perempuan tersebut) menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat. Hal inilah yang kemudian memicu pertemuan antara remaja laki-laki dan perempuan yang tidak kuat tsaqofah islamnya sehingga timbul ketertarikan yang kemudian dilanjutkan dengan tindakan yang bertentangan dengan syariat islam, seperti "pacaran". 


Tak sedikit pula remaja perempuan yang merelakan kehormatannya demi membuktikan cinta pada sang pria. Alih-alih mendapat balasan cinta dan kesetiaan, kebanyakan pria lebih memilih lari ketika dimintai pertanggungjawaban. Alhasil janin tak berdosa yang menjadi korban, bila tak digugurkan, puluhan kasus bayi diluar nikah dibuang oleh orangtuanya sendiri. Beginilah jika syariat islam hanya digunakan sebagai agama mesjid yang tak boleh turut campur dalam mengatur berbagai aspek kehidupan. Dalam Al-Qur'an dengan jelas Allah mengatakan;


"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk"(QS.Al-Isra' : 32).


Islam sendiri telah memiliki aturan dari berbagai aspek kehidupan, dari bangun tidur sampai tidur kembali. Sebagai manusia wajar jika kita mempunyai rasa tertarik terhadap lawan jenis dan islam mengaturnya dengan pernikahan. 

Gharizah nau atau naluri kasih sayang memang tak dapat kita hilangkan namun kita dapat mengalihkannya dengan hal-hal yang positif. Jika memang kita belum siap menikah alihkan perasaan-perasaan tersebut dengan terus memperbaiki diri, berbakti pada orangtua, fokus pada dakwah, dan terus berkarya untuk kemajuan agama dan negara. Karena sesungguhnya cinta yang haqiqi adalah cinta pada Allah swt dan rasulNya dengan menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. 

Post a Comment

0 Comments