Sebuah Catatan Lepas Untuk Ibu

Oleh : Rindoe Arrayah

    
   
Ibu, aku tak menahu siapa sesungguhnya yang membuat puisi itu? Apakah dirimu ataukah dirinya? Yang pasti, ku hanya tahu dirimulah yang telah membacakannya di hadapan khalayak ramai dengan sambutan riuh rendah tepuk tangan, seolah pertanda sebuah kemenangan. Apakah memang demikian?
       

Ibu, aku tak yakin semua puisi itu murni dari hati kecilmu. Bisa jadi ada pesanan khusus yang meminjam bungkus kepadamu.
       


Ibu, aku teramat takjub dengan aksimu. Kau begitu memukau para pendukung suara parau. 
       

Ibu, puisimu hanya imajinasi semu. Khayalan tingkat tinggi yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi. Bahkan, kau seolah melupa akan sejarah. Jangan jangan...dirimu terjangkiti amnesia di usia tua ataukah pura-pura lupa? 
       

Ibu, permintaan maafmu telah menoreh luka. Tidak hanya satu, dua ataupun tiga, namun tak terhingga. Ada peribahasa yang mengatakan, "Luka badan bisa diobati, luka hati dibawa mati." Sanggupkah dirimu mempertanggungjawabkan semuanya di depan peradilan keabadian? 
      
 
Ibu, segeralah bersimpuh, karena tiada yang tahu sampai kapan umurmu akan setia bersanding denganmu?

NB : 
*Teruntuk anak negeri, diriku teramat bangga pada kalian. Dengan serentak telah melakukan pembelaan. Memang seperti itulah yang harus dilakukan, ketika Allah, Rasulullah dan Syari'atNya dihinakan.
Tetaplah membela tanpa jumawa.

Pekikkan takbir...!!!
Allahu Akbar!!!
Allahu Akbar!!!
Allahu Akbar!!!
Hamparkan selalu di setiap dzikir.

#AkuIbuIndonesia
#AkuRinduSyariatNya

Post a Comment

0 Comments