Sarden Bercacing Bikin Merinding

Oleh : Rindoe Arrayah
( Pelajar Kehidupan di Komunitas Jelajah Pena 


       
Beberapa hari ini kita dikejutkan dengan keluaran produk ikan sarden dengan "varian rasa cacing" yang menurut ibu Menteri Kesehatan RI Prof. Nila Farried Moeloek SpM (K), bukanlah suatu hal yang perlu dikhawatirkan karena cacing yang bercampur ikan sarden dalam satu kaleng itu mengandung protein. Benarkah demikian?
       
Kasus ini di awali dari sebuah video penemuan cacing dalam produk sarden kemasan kaleng di Kepulauan Riau. Video tersebut menjadi viral dan meresahkan masyarakat ( Kompas.com 29/3/2018 ).
       
Berangkat dari temuan fakta inilah kemudian Badan Pangan Obat dan Makanan ( BPOM ) RI bergerak untuk melakukan pemeriksaan di beberapa pasar dan toko yang menjual produk - produk tersebut. BPOM RI menguji dari 541 sampel ikan sarden dari 66 merek, sebanyak 27 merek positif mengandung cacing pita. Adapun rinciannya adalah 16 merek produk diimpor dari Cina dan 11 merek produk dalam negeri.
       
"Hasil pemeriksaan dan pengujian BPOM RI menemukan adanya cacing dengan kondisi mati pada produk ikan makarel dalam saus tomat atau sarden kaleng berukuran 425 gram," kata Kepala BPOM Kepri Yosef Dwi Irean, Kamis ( tribunnews.com 22/3/2018 ) lalu. Yosef juga mengatakan, bahwa produk sarden bercacing tidak layak untuk dikonsumsi.
        
Pernyataan yang diutarakan oleh ibu Menteri Kesehatan sangat kontradiktif dengan apa yang diungkapkan Kepala BPOM Kepri. Hal ini memunculkan pertanyaan yang semakin mengusik hati sanubari. Apa yang sedang terjadi di negeri ini? Mengapa berbagai ucapan yang keluar dari lisan beberapa orang yang bisa dibilang memiliki jabatan beserta gelar pendidikan justru membuat rakyat merasa semakin jauh dari rasa aman dalam menjalani kehidupan?
       
Sistem kehidupan kapitalis sekuleris yang rusak dan merusak saat ini memang semakin nyata menampakkan kebobrokannya. Azas manfaat yang selalu dijunjung tinggi mereka gunakan dalam menjalani kehidupan, menjadikan manusia tidak peduli lagi apakah aktifitas yang dilakukannya itu merugikan orang lain atau tidak. Bagi mereka yang terpenting bisa mengambil kemanfaatan sebanyak-banyaknya agar mendapatkam keuntungan yang banyak pula.
       
Berita tentang penemuan makanan yang tidak layak untuk dikonsumsi masyarakat sudah sering terjadi, hal ini bukanlah yang pertama kali. Ternyata dari setiap kasus yang ada tidak membuat para pelaku jera. Semakin hari semakin tidak jelas situasi di negeri ini.
       
Kisah ironi seperti ini akan terus dihadapi umat manakala pemimpin negeri ini tidak mau menerapkan aturan Ilahi. Seorang pemimpin dalam pandangan Islam bukanlah hanya sekedar kontrak sosial antara pemimpin dengan rakyat semata, akan tetapi merupakan ikatan perjanjian dengan Allah SWT.
       
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai (junnah), di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya." (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll). 
Umat Islam saat ini tidak memiliki perisai (junnah) sebagai tempat berlindung, sehingga tak heran jika hidupnya semakin merana. Ada juga yang mengumpamakan kondisi kaum muslimin saat ini, bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya, tiada yang bisa membela manakala ada musuh yang menyerangnya. 
       
Masihkah kita mematri janji dengan sistem kehidupan kufur seperti ini? Yang hanya bisa mengantarkan rakyat pada penderitaan serta ketidakberdayaan. Sudah saatnya umat Islam bersatu dalam perjuangan suci demi kebangkitan Islam yang akan mewujudkan kejayaan dan menghapus kedholiman. Dengan syari'at, hidup akan penuh rahmat.

Post a Comment

0 Comments