Saat Kebencian Terhadap Syariah Ditampakkan Sang Pembesar Negara....

Oleh : Nur’Aini Nora (Seorang Muslimah dan Ibu rumah tangga di Bandar Lampung)



Beberapa hari belakangan ini, Indonesia dihebohkan oleh sebuah peristiwa penistaan agama yang kembali terjadi. Ironisnya, penistaan itu kembali dilakukan oleh seorang tokoh wanita yang selama ini publik mengenalnya karena embel-embel nama besar dibelakang namanya. Rasa-rasanya hampir seluruh warga negeri ini tau dan mengikuti peristiwa ini, minimal mendengar beritanya. Dan, beragam reaksi pun bermunculan dari semua lapisan masyarakat yang notabene mereka adalah muslim yang merasa terluka dan marah karena simbol dan ajaran agamanya dilecehkan.


Dalam puisi yang dibacakan oleh ibu Sukmawati Soekarno Putri berjudul “Ibu Indonesia” tersebut, jelas sekali tercantum kalimat-kalimat membandingkan antara budaya nusantara, dalam hal ini khususnya budaya Jawa dengan ajaran Islam. Konde versus cadar, rambut tergerai versus hijab, kidung versus adzan dan tarian versus ibadah. Tentu saja ini sebuah perbandingan yang tidak ‘apple to apple’, sama sekali bukan dua hal yang setara untuk dibandingkan. Karena yang satunya adalah buah karya dan karsa manusia, dimana manusia adalah makhluk yang diciptakan dan tidak memiliki daya upaya apapun tanpa adanya kemampuan yang diberikan Sang Penciptanya. Sedangkan, yang satunya lagi adalah syariat atau aturan yang datang dari Allah SWT, Dzat yang menciptakan alam raya ini dengan segenap isinya termasuk si pembaca puisi tersebut. 


Maka wajar jika berbagai reaksi luapan ketersinggungan, kemarahan dan aneka sikap tidak terima dari kalangan kaum muslimin bermunculan. Disamping kemarahan yang besar karena merasa agama sedang dinista oleh seseorang yang selama ini juga menyebut dirinya beragama dan katanya muslim pula, saya juga memiliki kesediihan dan rasa iba yang juga besar kepada diri ibu Sukmawati, kepada keluarganya dan juga kepada orangtuanya yang sudah kembali menghadap Allah SWT sejak lama.


Mengapa yang ada justru rasa kasihan kepada mereka? Karena dari awal bait dalam puisinya bu Sukma berkata “Aku Tidak Tahu Syariat Islam”. Sungguh, ini adalah sebuah pengakuan jujur yang menyedihkan bagi siapapun yang mencoba mendengarnya dengan iman. Seorang muslim yang tidak tahu syariat Islam bukanlah orang yang beruntung dalam kehidupannya, meski mungkin secara lahiriah dia terlahir sempurna tanpa cacat, hidup berkecukupan atau bahkan mungkin bergelimang harta, berpendidikan tinggi, dan memiliki kedudukan dan popularitas yang membanggakan di tengah masyarakat. Namun, tanpa mengerti syariat maka sesungguhnya dia tidak mengetahui hakikat dirinya, dari mana dia berasal, apa tujuan hidupnya, dan akan kemana setelah kehidupan dunianya berakhir.


Seorang muslim yang tidak tahu syariat, tentu juga tidak akan mengerti bagaimana cara yang harus ditempuhnya agar bisa mendapatkan kebahagiaan hakiki. Padahal kebahgiaan hakiki adalah ketika Allah SWT ridho kepadanya sebagai seorang hamba. Dan bagaimana mungkin bisa mencapai ridho itu jika dia tidak tau syariat Islam, sedangkan untuk mecapai ridho Allah SWT hanya bisa dilakukan dengan melaksanakan seluruh syariat Islam dengan total, sempurna dan menyeluruh. Pengakuan bu Sukma bahwa dia tidak tahu syariat adalah pengakuan yang sangat menyedihkan dan saya kasihan kepadanya.


Kemudian, kita juga kasihan kepada keluarga bu Sukma, karena tidak tahu syariat lalu bagaimana ia mendidik anak-anaknya sehingga bisa menjadi manusia-manusia yang berharga dihadapan Tuhannya?, bagaimana ia menjalankan perannya sebagai seorang istri dan ibu bagi rumah tangganya? Bagaimana ia berinteraksi dengan saudara-saudara dan kerabatnya? Jika ia tidak tahu syariat tentu akan banyak sekali terjadi kesalahan dalam setiap tingkah laku dan perbuatannya. Jika mungkin selama ini ia merasa baik-baik saja dan tidak merasakan ada masalah dalam rumah tangga dan hubungan keluarganya, pasti karena mereka tidak mengetahui ada yang salah, dan karena sudah terbiasa dalam kesalahan sehingga semakin jauh tenggelam dalam ketidak tahuan. Sehingga kita merasa iba sebuah keluarga yang sepi dari lantunan ayat-ayat alquran, merasa terganggu dengan senandung azan dan merasa tersiksa dengan balutan hijab. Maka bagaimana mungkin kasih sayang Allah tercurah kepada keluarga itu?


Pengakuan bu Sukma yang tidak tahu syariat membuat kita juga merasa kasihan kepada kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Mengapa bisa begitu? Karena orang tua adalah tokoh sentral peletak batu pertama pondasi aqidah bagi anak-anaknya. Apakah ketidak tahuan bu Sukma tentang syariat Islam juga dialami oleh saudara-saudaranya yang lain?Jika begitu, apakah kedua orangtuanya dulu juga tidak tahu syariat Islam? Sehingga mereka tidak mampu mendidik anak-anak mereka dengan syariat Islam? Betapa malangnya keluarga ini. Berganti generasi tanpa tahu syariat agamanya, padahal mereka semua kelak akan kembali menghadap Tuhannya dan akan ditanya tentang semua yang sudah diperbuatnya dalam kehidupan dunia ini. Lalu mereka akan menjawab apa?


Seorang muslim yang tidak tahu syariat Islam, lantas tidak berusaha mencari tahu, bahkan bangga dengan ketidak tahuannya, sejatinya adalah manusia yang bodoh meski tampak seperti orang-orang berpendidikan. Saya, dan juga mungkin banyak orang muslim diluar sana pasti juga merasa kasihan dengan bu Sukma, dan orang –orang yang semisal dengannya. Kasihan dan iba kepada mereka. 


Karenanya, saya mengajak dengan rasa cinta –walau bagaimanapun dia tetap saudara sesama muslim bagi kita-, ayo bu Sukma, dan siapapun anda yang menyadari bahwa anda belum tahu syariat islam, mari mendekat kepada majelis-majelis ilmu, datangi para ulama dan guru yang sholih, reguk sebanyak-banyaknya air ilmu pengetahuan, kaji alquran karena dianya adalah pedoman dan petunjuk bagi setiap laku kehidupan kita. Bentang sajadah anda, tundukkan kepala anda, bersimpuh dan bersujudlah di hadapan Allah Azza Wa Jalla memohon ampunan, ridho dan limpahan kasih sayangNYA. Segeralah bertaubat dan raihlah kesempatan memasuki syurgaNYA (Q.S. Ali Imran ; 133 : “Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurgaNYA yang luasnya seluas langit dan bumi, yang telah disediakan untuk orang-orang bertaqwa”). 

Sesungguhnya Allah itu maha luas ampunan dan rahmatNYA bagi siapapun yang berusaha mendekat kepadaNYA. Semoga masih ada waktu dan kesempatan untuk anda belajar sehingga anda tidak lagi buta syariat agama anda sendiri. 
Wallahu a’lam.

Post a Comment

0 Comments