Romantisme Isra' Mi'raj

Oleh : Rindoe Arrayah

       

GAUNG peringatan Isra' Mi'raj yang berlangsung serentak di beberapa wilayah di negeri yang penuh berkah ini begitu memantapkan hati, betapa perjuangan suci yang selalu berusaha untuk dikungkung semakin tak terbendung.
       
Suasana itu serta merta menyeret rasaku untuk duduk dengan khusyuk akan persaksian atas bingkisan pelipur lara yang di hadiahkan oleh Sang Maha Daya kepada kekasih tercintaNya Al Musthofa. Di kala selimut duka sepeninggal dua sosok penopang dakwah yang sungguh dikasihi, yaitu Sayyidah Khadijah sosok istri yang sepenuh jiwa mencintanya, tiada berkeluh kesah dengan hempasan perlawanan atas dakwah yang ditimpakan kepada separuh nyawanya yang telah beri balas cinta dengan mendalam pula. Sosok lain yang dikasihinya yaitu pamanda Abu Thalib yang tiada henti berikan bela meski harus bertaruh nyawa. Hingga tahun itu digelari tahun kesedihan.
       

Jibril adalah malaikat yang telah diutusNya untuk membawa sebuah bingkisan perjalanan. Malam itu merupakan malam pertaruhan bagi orang-orang yang beriman. Apakah mereka tetap bertahan dengan kekuatan iman? Ataukah sebaliknya terjatuh ke dalam lembah kekufuran? Pekatnya gulita mengiringi perjalanan mengesankan dengan buraq sebagai tunggangan. Tak butuh sehari semalam, hanya dalam hitungan jam perjalanan mengesankan mengantarkan Al Musthofa membelah langit demi langit. Selain dipersuakan dengan para Nabi dan Rasul terdahulu, perintah sholat lima waktu yang mengantarkannya bertatap muka dengan Sang Pencipta Semesta, ditunjukkannya slide surga dan neraka, Al Musthofa diberi kuasa menjadi imam bagi seluruh Nabi dan Rasul. Ini merupakan pertanda baginya untuk memikul amanah tanpa pongah akan sebuah kepemimpinan bagi seluruh alam. Abu Bakar adalah salah seorang sahabat yang pertama kali mengimani Isra' Mi'raj itu tanpa di dahului dengan tawar menawar di dalam hati. Oleh karenanya, sudah sepantasnya gelar Ash-Shiddiq disandingkan dengan namanya. Di kala teknologi belum secanggih sekarang, bukan suatu hal yang mustahil jika ada sebagian di antaranya menggadai imannya dengan kekufuran. 
       

Isra' Mi'raj adalah tonggak estafet kepemimpinan yang bermula dari Rasulullah SAW, kemudian dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin dan para Khalifah setelahnya dalam sebuah institusi Khilafah, hingga berakhir di masa kekhilafahan Utsmaniyah, tepatnya pada tanggal 3 Maret 1924. Kemal Pasha Attaturk yang telah menghancurkan itu semua.
       

Hal inilah yang menjadi pelecut bagi kaum muslimin ingin bersegera mengembalikan kehidupan Islam yang telah lama dirindukan dalam naungan Khilafah Islamiyah. Sekian lama hidup tanpa Khilafah dalam kurun waktu 94 tahun lamanya, kondisi umat Islam semakin terpuruk karena tiada perisai (junnah) yang mampu melindungi dari berbagai kedholiman dan ketidakadilan.
       
Saatnya berjuang tanpa ragu. Mari rapatkan barisan. Hanya dengan Khilafah, Islam rahmatan lil 'alamin bisa terwujudkan. Wallahu 'alam.

Post a Comment

0 Comments