Revolusi Gender Mewabah Atas Dalih Hak Asasi Manusia

Oleh : Ummu Aqeela (Pemerhati Media sosial)



Isu transgender kembali hangat diperbincangkan. Kali ini berita itu datang dari artis ibukota, penyanyi dangdut dengan inisial LL. Perempuan cantik yang digadang – gadang sebagai pengganti Jupe ini, diisukan seorang transgender. Berita ini sontak membuat media sosial dan infotainment ramai memperbincangkannya. Terlepas dari benar atau salah berita itu, namun kita dapati bahwa akhir – akhir ini begitu banyak bermunculan kaum transgender, yaitu kaum yang memiliki indentitas gender atau ekspresi gender yang berbeda dengan saat dia dilahirkan. Contohnya laki-laki menyerupai perempuan ataupun sebaliknya perempuan menyerupai seperti laki-laki. Bahkan tidak sedikit pula dari mereka yang sudah bertransformasi secara fisik dan sexual, tetapi berubah juga secara kodrat lahiriah dengan cara melakukan tindakan operasi kelamin yang saat ini bisa dilakukan dengan kecanggihan tekhnologi. 

Sebenarnya situasi yang terjadi sekarang bukan hal yang baru lagi. Jauh sebelum ini, fenomena Transgender dan Transexual sudah pernah kita jumpai. Salah satu yang fenomenal adalah kasus transgender public figur “DG”. Dikutip dari Wikipedia, “DG” dengan jenis kelamin pria. Dua puluh tahun setelahnya tepat tahun 1983 “DG” melakukan perubahan besar dalam hidupnya, yaitu melakukan oprasi perubahan jenis kelamin yang dilakukan di RS Dr Soetomo dan kemudian disahkan secara hukum di Pengadilan Negeri Surabaya. Hal itu menjadi pertentangan hebat di kalangan masyarakat, Karena saat itu peristiwa tersebut masih dianggap tabu dan menjijikan.

Lalu bagaimana jika dibandingkan dengan fenomena transgender sekarang ini? Pada 2009 populasi gay hanya sekitar 800 ribu jiwa. Mereka berlindung di balik ratusan organisasi masyarakat yang mendukung kecenderungan untuk berhubungan seks sesama jenis. Sampai akhir 2013 terdapat dua jaringan nasional organisasi LGBT yang menaungi 119 organisasi di 28 provinsi. Pertama, yakni Jaringan Gay, Waria, dan Laki-Laki yang Berhubungan Seks dengan Laki laki Lain Indonesia (GWLINA) didirikan pada Februari 2007. Jaringan ini didukung organisasi internasional. Jaringan kedua, yaitu Forum LGBTIQ Indonesia, didirikan pada 2008. Jaringan ini bertujuan memajukan program hak-hak seksual yang lebih luas dan memperluas jaringan agar mencakup organisasi-organisasi lesbian, wanita biseksual, dan pria transgender. Gerakan LGBT pun hampir mendapatkan legalitasnya saat Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM) menggelar rapat paripurna pada Juli 2013 untuk membahas pengakuan tentang LGBT. Hanya, pada akhirnya rapat tersebut menyatakan jika Komnas tak berwenang mengakui LGBT karena Komnas tak mewakili aspirasi seluruh rakyat Indonesia.(Republika,26/03/18)

Dilihat dari data tersebut kaum transgender mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dengan meningkatnya keberadaan mereka, meningkat pula berbagai penyakit yang berhubungan dengan orientasi yang menyimpang tersebut dari penyakit kelamin sampai HIV. Dan bahayanya lagi dengan gencarnya kampanye akan keberadaan mereka akan banyak pula generasi-generasi yang tersugesti untuk mengikutinya. Naudzubillah

Apa yang menyebabkan mereka berkembang begitu pesatnya di Indonesia?

Peran media offline ,online ataupun media TV yang digunakan para pelaku untuk tampil dan mencitrakan diri membentuk pola pikir dan pandangan masyarakat secara perlahan berubah . Ketika dulu sebagian besar masyarat umum menentang dan menghujat kini perlahan mulai memberikan dukungannya. Bahkan Hukum Negarapun saat ini mulai memberikan kemudahan dalam proses transisinya.

Fenomena ini sebenarnya sudah pernah ada di jaman Nabi Luth, dimana kaumnya di adzab oleh Allah gara-gara melakukan kemaksiatan yaitu hubungan sesama sejenis. Sehingga dengan fenomena revolusi gender yang sedang mewabah, sebenarnya dunia menantang musibah. 

Dalam Al Quran sendiripun sudah jelas :

”Dan Dia (Allah) menciptakan dua pasang dari dua jenis laki-laki dan perempuan.“ (Qs An Najm : 45)

“Wahai manusia Kami menciptakan kamu yang terdiri dari laki-laki dan perempuan.“ (Qs Al Hujurat : 13).

Kedua ayat di atas, menunjukkan bahwa manusia di dunia ini hanya terdiri dari dua jenis saja, laki-laki dan perempuan, dan tidak ada jenis lainnya. Tetapi di dalam kenyataannya, kita dapatkan seseorang tidak mempunyai status yang jelas, bukan laki-laki dan bukan perempuan. Fenomena yang sekarang terjadi adalah hasil dari kebebasan yang disalah artikan. Pergantian gender yang mereka lakukan hanya berdasarkan nafsu dan syahwat, bukan karena alasan yang berhubungan dengan ketidaksempurnaan biologisnya. Mari kita pertimbangkan, karena semua akan dimintai pertanggungjawaban.

Wallahu a’lam bi ash showab.

Post a Comment

0 Comments