Remaja Hebat: Peduli Gaza

Oleh: Novita Sari Gunawan
(Anggota Akademi Menulis Kreatif, Pembina SDM Remaja Muslimah)



Sobat, sudah dengar belum berita tentang saudara kita di Palestina? Kini, Gaza kembali berduka. Pasalnya, aksi yang dilakukan mereka ditindak represif oleh Israel. Aksi ini ditujukan agar seluruh dunia menyaksikan polemik yang terjadi. Mereka menuntut ingin mengambil alih tanah air yang saat ini diduduki oleh Israel.

Aksi tersebut berlangsung selama beberapa pekan. Dan akan diakhiri pada 15 Mei. Aksi ini dirancang untuk memperingati Nakba atau bencana ketika ratusan ribu warga Palestina harus tersingkir meninggalkan tempat tinggal mereka. Dalam perang tahun 1948 yang membuahkan berdirinya negara Israel.

Kekerasan yang dilakukan tentara Israel terhadap massa aksi telah menyebabkan sedikitnya 15 warga Palestina tewas dan 1.481 lainnya luka-luka. Para korban luka, baik akibat terkena peluru karet maupun peluru tajam, dirawat di sejumlah rumah sakit sesuai wilayah masing-masing.

Lalu bagaimana tanggapan para penguasa muslim khususnya pemimpin di Indonesia ini? Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir, mengatakan pemerintah dan rakyat Indonesia menyampaikan duka cita mendalam dan solidaritas kepada korban dan keluarga korban akibat serangan tentara Israel tersebut. Indonesia menegaskan bahwa pemerintah Israel memiliki tanggung jawab di bawah hukum HAM dan kemanusiaan internasional untuk melindungi warga sipil. 
(republika.co.id/18/04/01)

Kemudian pertanyaan selanjutnya, apakah bentuk kepedulian seperti ini solutif menyelesaikan pesoalan mereka? Ibarat seorang dokter yang memberikan obat penurun demam. Kepada pasien yang menunjukkan gejala demam akibat radang tenggorokan. Efek penyembuhannya kuranglah efektif jika tidak dibarengi dengan pemberian obat untuk radang tenggorokan. Solusi yang diberikan tidak tuntas menyentuh sampai akarnya.

Jika membayangkan sebuah drama, dimana seorang adik sedang disiksa oleh orang jahat. Sang kakak hanya mematung sambil mengecam. Tak ada yang bisa dilakukan, karena kedua kaki dan tangannya diikat. Begitulah kiasannya atas kondisi yang terjadi saat ini. Dimana kaum muslim di belahan bumi lainnya yang notabene adalah saudara bahkan selayaknya satu tubuh, disandera oleh jeratan sekat nasionalisme.

Sejatinya, yang dibutuhkan oleh saudara kita di Gaza dan juga kaum muslimin lainnya yang sedang tertindas seperti di Suriah, Rohingya, Uyghur, dan Pattani adalah aksi nyata. Sebuah kekuatan yang setara, yakni militer kaum muslim yang diterjunkan berperang melawan mereka.

Namun hal itu hanya akan menjadi mimpi di siang bolong selama sistem demokrasi masih diadopsi oleh negeri-negeri muslim. Solusi yang paripurna hanya bisa dilakukan saat kaum muslim bersatu dalam sebuah institusi. Darinya akan lahir adidaya politik yang dapat menuntaskan derita panjang yang dialami oleh mereka.

Dan sebagai kaum muslim termasuk juga remaja, tak boleh abai dengan derita yang menimpa saudara kita. Walaupun kita dan mereka tak dilahirkan dari rahim tanah air yang sama. Berwarna kulit dan suku yang berbeda, tak menjadi belenggu persaudaraan yang sejatinya dibangun diatas ikatan akidah yang kokoh.

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]

Wallahu a'lam bi ashshowab.

Post a Comment

0 Comments