Remaja Bicara Utang (Indonesia)

Oleh : Risa Septiani Indah, Santri Pesantren Darul Bayan




Salah satu penyebab yang dapat menghancurkan suatu negara ialah utang yang besar kepada negara lain. Hal ini seperti yang dikutip oleh ketua Perhimpunan Masyarakat Madani (PRIMA) Sya'roni yang menegaskan bahwa dalam catatan sejarah, untuk menaklukkan suatu bangsa tidak hanya melalui perang. Penaklukan bisa dilakukan dengan cara lain, misalnya dengan utang yang menumpuk dan narkoba. 



Berbicara mengenai utang, menurut KBBI utang ialah uang yang dipinjami dari orang lain. Utang diperlukan suatu negara untuk menjalankan rencana kerja dan target-target yang telah ditentukan, seperti modal membangun negara, menutupi kekurangan anggaran, dan lain sebagainya. Bagaimana dengan negeri ini? Apakah Indonesia perlu berhutang kepada negara lain? Apakah indonesia tidak memiliki anggaran sendiri? Tentu, Indonesia memiliki pemasukan untuk anggaran belanja negara, yang berasal dari perpajakan, hasil pengelolahan Sumber Daya Alam (SDA), hasil ekspor, bea-cukai, dan lainnya.



Namun tercatat bahwa utang negara Indonesia sebesar Rp. 3672,33 triliun per mei 2017 dan meningkat menjadi Rp. 4636 triliun per september 2017 (harianterbit.com). Sebagai negara yang memiliki salah satu sumber daya alam terbesar di dunia, sepatutnya Indonesia tidak perlu repot-repot menhutang kepada negara lain, karena SDA yang melimpah ruah, seperti batu bara, minyak bumi, tembaga, bahkan emas, semuanya dapat ditemukan di negeri tercinta ini. Tapi mengapa utang Indonesia terus meningkat setiap tahunnya? 



Jika Indonesia bisa mengelola SDA sendiri, tidak menyerahkannya kepada asing mungkin Indonesia akan menjadi negara paling makmur di muka bumi ini. Karena kekayaan alam dikuasai asing, Indonesia kembali terjajah dan terlilit utang. Banyaknya perusahan asing yang beroperasi di Indonesia membuat Indonesia tidak mampu mandiri dalam mengelola SDA. Mereka seolah-olah menyerahkan SDA yang dimiliki kepada pihak asing. Tapi apa yang Indonesia dapatkan? Hanya tamparan keras, rakyat yang terkena imbasnya, mereka tidak tahu-menahu mengenai utang terus meningkat tetapi pelayanan publik masih sangat kurang dari kata layak, masih banyak warga miskin yang harus berjuang demi sesuap nasi. 



Masalah utang luar negeri tidak akan terbebas dari istilah bunga yang dapat dikategorikan sebagai riba. Padahal jelas dalam surah Al-Baqarah ayat 278 bahwa Allah SWT telah mengharamkan riba dan melaknat semua yang terlibat di dalamnya. Dan masalah riba di Indonesia bukan masalah yang dihindari atau ditakuti oleh kaum muslim. Mereka menganggap hal tersebut seperti hal yang biasa dilakukan seperti tidak adanya perasaan takut akan siksa-Nya. 



Mengapa pada saat ini masalah utang dan riba telah merajalela dan merebak di tanah air? Sebab karena Indonesia sangat bergantung kepada asing dan para pengambil kebijakan pun pro kepada neoliberalisme / kapitalisme. Pemerintah tak pernah mempersoalkan tentang utang yang mereka pinjami itu halal / haram. Mereka candu akan permainan asing, mereka menutup mata dari bahaya yang akan terjadi kedepannya. 



Lalu apa yang harus kita benahi saat ini? Tentu saja ada yang tidak beres dengan semua kekacauan yang melanda negeri ini. Itu semua terjadi karena kita tak menuruti aturan yang dibuat oleh Tuhan kita, pencipta kita, Allah SWT. Padahal jelas bahwa bumi dan seluruh isinya ini milik-Nya. Semua yang Dia ciptakan beserta dengan aturan-Nya. Dia tak akan membiarkan ciptaannya menjalani kesulitan dunia. Oleh karena itu mari kita kembali kepada aturan-Nya, kembali memegang tali agama yang di ridhoi-Nya, kita mesti beislam secara kaffah atau menyeluruh. Karena hukum-hukumnya yang sangat sesuai dengan fitrah manusia, kita tidak akan dirugikan, bahkan kita akan sejahtera di bawah naungan-Nya. 

Post a Comment

0 Comments