Rajab, Kemuliaanmu Kini Telah Hilang

Oleh : Hamsina Halik


Dalam setahun ada 12 bulan. Dan diantaranya Allah SWT telah menetapkan bulan-bulan tertentu sebagai bulan haram. Mengapa dikatakan bulan haram? Sebab, Allah telah menetapkan ada kemuliaan dan kehormatan yang wajib dijaga dalam bulan-bulan tersebut. Itu adalah bulan suci, sebagaimana dalam firman-Nya:

"Sungguh bilangan bulan menurut Allah SWT ada dua belas bulan dalam catatan Allah pada hari ketika Allah 6 menciptakan langit dan bumi. Diantaranya terdapat empat bulan haram (suci). Itulah agama yang lurus. Karena itu janganlah kalian menzalimi diri kalian pada bulan-bulan itu". (TQS. at Taubah: 36).

Juga dalam sabda Rasulullah SAW:
"...Tahun itu ada dua belas bulan, diantaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga berurutan, yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah dan Muharram; serta Rajab bulan Muharram yang terdapat diantara Jumadi dan Sya'ban". (HR. Muslim)

Pada ayat diatas kita diberi gambaran dengan tegas agar tak melakukan kezaliman pada bulan-bulan haram tersebut. Sebab, jika melakukannya berarti ketegasan Allah SWT itu terkait dengan larangan yang sangat tegas, maka dosanya tentu lebih besar lagi. Sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Syafi'i bahwa beliau telah melipatgandakan diyat (uang tebusan) pembunuhan karena salah yang dilakukan pada bulan haram.

Imam al Baihaqi pun mengatakan bahwa Allah SWT telah menetapkan dosa yang dilakukan pada bulan-bulan akan lebih besar nilainya dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Juga, menetapkan pahala yang sangat besar atas amalan-amalan sholih yang kita lakukan.

Itulah sedikit gambaran bagi kita bagaimana umat terdahulu sangat memuliakan bulan haram ini. Mereka sangat menghormati kemuliaan dan kesucian bulan ini, termasuk diantaranya bukan Rajab. Lalu, bagaimana dengan kondisi saat ini? Sungguh sangat jauh berbeda dari para umat terdahulu. Umat saat ini seolah tak mengenal apa itu bulan haram dan yang mana saja bulan haram itu. Jika, mengenal saja tidak apatah lagi memuliakan dan menghormatinya. Umat tak paham, sehingga lebih memilih menyia-nyiakan bahkan menodai kemuliaan dan kesuciannya.

Lihatlah, beberapa hari lalu dibulan Rajab ini kita disuguhi sebuah tindakan penistaan Islam, yang pelakunya sendiri adalah muslim. Puisi yang isinya menyandingkan konde dengan cadar dan kidung dengan suara adzan, telah berhasil membuat umat Islam geger, tidak ridho menerima perbuatan tersebut. Sungguh suatu perbuatan yang menodai kemurnian dan kesucian bulan haram ini. 

Momen Mulia di Bulan Rajab

Sepanjang perjalanan sejarah umat Islam, Rajab sebagai salah satu bulan haram, telah menorehkan momen mulia dari masa ke masa. Diantaranya; 

Pertama, sebagai momentum hijrah untuk pertama kalinya buat umat Islam ke Habasyah pada tahun ke-5 kenabian. 

Kedua, moment yang paling istimewa yaitu isra mi'raj Rasulullah SAW pada tahun ke-10 kenabian. Masjid Baitul Maqdis sebagai saksi sejarah momen ini. Dalam peristiwa ini, disinilah perintah shalat pertama kali diterima oleh Rasulullah SAW dari Allah SWT. Selain perintah shalat, Rasulullah pun menerima pengukuhan sebagai pemimpin seluruh umat manusia. Imam para nabi dan rasul sebelumnya.

Ketiga, momen pertemuan Rasulullah SAW untuk pertama kalinya dengan kaum Anshor. Yang kemudian melalui merekalah Daulah Islam pertama tegak di Madinah. Dengan demikian, nyawa dan harta kaum muslimin pun akan terjaga. 

Keempat, momen pemindahan kiblat kaum muslimin. Yang sebelumnya berada di Masjidil Aqsa kemudian dialihkan ke Masjidil Haram. 

Itulah beberapa moment yang sangat mulia yang terjadi di bulan Rajab. Disamping itu ada pula momen yang terjadi untuk generasi selanjutnya. Tentu saja ini moment yang sangat berarti pula dan sangat penting. Diantaranya; (1) Pembebasan Kota Damaskus di bawah panglima Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah dan Khalid bin al-Walid tahun 14 H. (2) Terjadinya perang Yarmuk menghadapi Romawi dibawah pimpinan Khalid bin al-Walid pada tahun 15 H. (3) Pembebasan Hirah dan Irak juga oleh Khalid bin al-Walid. Serta (3) berhasil merebut kembali Baitul Maqdis di tahun 583 H dibawah kepemimpinan Shalahuddin Al Ayyubi setelah mengalahkan pasukan salib dalam perang Hittin. 

Redup dengan Hilangnya Junnah

Seiring berjalannya waktu, zamanpun berubah. Jika, dahulu umat begitu menghormati kemuliaan dan kesucian bulan haram, termasuk bulan Rajab, maka berbeda dengan saat ini. Umat semakin jauh dari pemahaman Islam. Kesadaran umat akan kemuliaan ini tak ada lagi. Terlebih, saat ketika Islam tak lagi menjadi asas kehidupan. Tak lagi menjadi pandangan hidup. Islam telah terbuang jauh dari lubuk hati pemeluknya. Islam hanya sebatas identitas agama belaka.


Ini bermula saat dimana malapetaka yang dahsyat menimpa umat Islam. Saat dimana lenyap sudah kepemimpinan umum atas umat Islam (Khilafah Islamiyyah), telah hilang Junnah (pelindung) Islam dan umatnya. Hingga tak ada lagi yang tersisa selain serbuan malapetaka yang tak kunjung selesai hingga saat ini. Umat terpecah belah, disekat oleh nasionalisme. Umat tak lagi bagaikan satu tubuh, yang jika bagian yang satu kesakitan maka bagian tubuh yang lainnya akan ikut merasakan. Tak ada lagi keadilan bagi umat Islam. Segala kedzaliman telah menghiasi hidupnya. 


Kini, saatnya untuk mengembalikan Junnah itu. Sebab, Allah SWT telah berjanji bahwa kejayaan Islam akan kembali dibawah penerapan syariat-Nya. Akan tegak kembali melalui tangan-tangan umat Islam, umat Nabi Muhammad, yang telah memberikan waktunya siang dan malam terus menerus berjuang, meskipun ada rasa lelah. Tapi lelah karena lilLah


Menjadi bagian dari barisan-barisan pejuang ini adalah suatu kehormatan. Sebab, Allah SWT memberikan kemuliaan kepada para pejuang agama-Nya. Perjuangan menerapkan syariah, tegaknya hukum-hukum Allah SWT dimuka bumi ini. Apalagi di bulan Rajab ini, meraih amalan-amalan Solih dengan pahala yang berlipat ganda.
Wallahu a'lam.

Post a Comment

0 Comments