Puisimu Harimaumu

Oleh Ammylia Rostikasari, S.S. (Alumni FIB Universitas Padjadjaran dan Anggota Akademi Menulis Kreatif)



Geram! Saat mendengar puisi bernada penghinaan syariat Islam yang dibacakan oleh Sukmawati Soekarno Putri pada event pagelaran busana Anne Avanti di Jakarta pada hari Kamis, 29 Maret 2018. Videonya viral di jejaring sosial, efeknya menuai kontroversi.

Jika ada idiom mengatakan “Mulutmu harimaumu”, bagi Sukmawati mungkin juga berlaku “Puisimu Harimaumu”. Sejatinya ingin meluapkan ekspresi dengan berpuisi. Namun, aksinya menuai petaka. Esensi puisi yang dibacakan jelas mengobarkan ujaran kebencian. 

Satu persatu ajaran syariat dibenturkan dengan nilai-nilai adat. Hijab dan cadar dilecehkan. Azan sebagai panggilan untuk bersujud kepada Ilahi pun dihina-dinakan. Sementara konde juga kidung Ibu Indonesia dipuja-puji seraya mengandung kesucian.

Entah apa yang ada di benak anak wanita Mendiang Soekarno ini, dengan lirik yang diulang-ulang “Aku Tak Tahu Syariat Islam”, tapi begitu jumawanya menjatuhkan kemuliaan syariat Islam. 

Menyikapi hal demikian, beberapa pelapor telah berdatangan ke Polda Metro Jaya. Menuntut agar Sukmawati segera diadili karena jelas diduga menodai agama. Perilakunya menyalahi pasal 156a KUHP “Barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau perbuatan: a. Yang pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap sesuatu agama yang dianut Indonesia”.

Jika penegak hukum di negeri ini masih berhati nurani, sekiranya kasus ini akan segera disikapi. Sang pengobar kebencian segera diadili.

Sudut Pandang Sastra dan Agama 
Puisi memanglah sebuah luapan eskpresi penulisnya. Apa yang diekpresikan tentulah sesuai dengan apa yang ada di dalam benak penciptanya. Namun, menurut Ahmadun Herfanda, Satrawan, yang dimintai keterangan oleh TV One. Dia menyatakan bahwa puisi sebagai karya satra bukan berarti bebas nilai. Ada rambu-rambu yang mesti ditaati dalam pengaryaannya.

Ada beberapa komparasi yang tak tepat dalam puisi karya Sukmawati. Ia membandingkan nilai agama dengan budaya. Budaya dituangkan dalam syair dengan penuh keagungan. Sementara syariat agama terkhusus Islam didiskreditkan.

Amanat yang merupakan unsur intrinsik puisi tersebut begitu potensial menuai kemarahan umat Islam. Jelas ini menyalahi.

Islam sebagai agama dan pandangan hidup yang sempurna. Adanya untuk menjadi rambu-rambu dalam menjalani kehidupan dunia. Pun ada rambu etika dalam membuat sebuah karya. Isinya tak boleh menghina dan menistakan agama. 
Allah swt berfirman yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan pintu-pintu langit (ampunan) dan mereka tidak (pula) masuk surga, hingga unta masuk ke lobang jarum.  Demikianlah Kami membalas orang-orang yang berbuat kejahatan.”(TQS. Al -A’raaf:40).

Maraknya penghinaan terhadap Islam yang terjadi saat ini, tak lain karena adanya ide kebebasan. Paham rancu yang dihasilkan dari penerapan ideologi kapitalisme-sekularisme. 4 freedom yaitu kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi, kebebasan beragama juga kebebasan dalam kepemilikan. Nyata telah mengobrak-abrik nilai keislaman.

Sudah saatnya Indonesia menerapkan Syariat Islam secara kaffah dalam bingkai Daulah Islamiyah. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh nabi Muhammad Saw dan khulafaur rasyidin. Agar Ibu Indonesia terselamatkan dari segala paham keliru yang bertentangan dengan syariat Islam. Pun Ibu di seluruh dunia. Sosok tangguh yang akan melahirkan generasi pejuang agama Allah. Wallahu’alam bishowab

Post a Comment

0 Comments