Petaka Dibalik Miras Oplosan

Oleh Suhaeni, SP., M.Si (Dosen Tetap UNSIKA)


MIRAS oplosan kembali merenggut ratusan nyawa. Kasus ini sudah kesekian kalinya. Seolah mereka tidak mengambil pelajaran dari kejadian sebelumnya. Jumlah korban minuman keras (miras) oplosan di Cicalengka terus bertambah. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cicalengka mencatat jumlah korban kini mencapai 189 orang, 38 diantaranya meninggal dunia seperti dilansir Viva (11/04/2018).

Kasus tewasnya warga karena miras oplosan juga terjadi di daerah Bekasi. Tak tanggung-tanggung, jumlah warga tewas akibat menenggak miras berjamaah jumlahnya 31 orang. Kabar ini dibenarkan oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono menerangkan, ada 31 orang dinyatakan meninggal dunia akibat miras oplosan yang tersebar di tiga tempat kejadian perkara. Salah satu diantaranya adalah seorang perempuan atas nama Anissa.

Argo menerangkan, Polres Metro Bekasi Kota sudah menangkap dua tersangka dalam kasus itu. Masing-masing bernama Ugi selaku penjual minuman keras oplosan. Lalu satu tersangka lain, yakni pengoplos minuman keras bernama Nischa Romadoni di Kampung Pondokbenda, Jalan Setia Kawan Nomor 21 RT 09 RW 03 berikut barang buktinya. Mungkin masih banyak lagi kasus serupa di tempat lain yang belum terkuak oleh media. 

Seberapa bahayakah miras oplosan?
Psikiater Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (UNPAD), Teddy Hidayat menjelaskan, konsumsi miras oplosan menyebabkan kerusakan syaraf secara irreversible atau tidak bisa dikembalikan seperti semula. Artinya, jika minum miras oplosan lalu buta, maka butanya permanen. Jika kenanya di otak, maka salah satu syaraf otak tidak berfungsi. Jika keracunan, maka bahaya terparah adalah menyebabkan kematian. 

Miras oplosan di Cicalengka diduga mengandung alkohol jenis meranol. Metanol inilah yang meneybabkan kerusakan fungsi syaraf.
 
"Nah, yang kemarin dicampur itu dengan segala macam dan mungkin menggunakan alkohol yang murah biasanya memunculkan metanol. Metanol itu, apabila masuk dikonsumsi maka akan menimbulkan keracunan," tegas Teddy.

Miras Berjamaah, Bikin Mati Konyol
Berulangnya kasus miras oplosan menunjukkan ketidakseriusan negara dalam menangani kerusakan moral generasi. Bahkan, semakin hari jumlah korban semakin banyak. Pemerintah harus serius dalam menangani kasus ini. Jangan hanya menangani ketika terjadi korban saja, tapi juga harus mengantisipasi jangan sampai terjadi koban-korban berikutnya. 

Miras sangat mudah diperoleh oleh para remaja dan pelajar. Minuman ini tidak hanya meracuni mereka, tapi miras juga menjadi pangkal krimininalitas lainnya, misal perkosaan, pembunuhan dan tindak kejahatan lainnya. Begitu juga dengan miras oplosan yang telah menjadi pintu kematian bagi rakyat miskin. 

Miras opolosan diperoleh dengan sangat mudah dan harga murah. Sehingga para remaja dan mudah untuk mengaksesnya. Pendidikan moral yang kurang dan rasa penasaran yang tinggi, akhirnya membuat para remaja nekad melakukan prilaku berisiko tersebut. 

Akar masalah ini tidak lepas dari sistem yang diterapkan di Indonesia saat ini. Dalam sistem demokrasi sekuler, para penguasa cenderung abai terhadap urusan moral. Moral dianggap urusan privat. Negara tidak berhak ikut campur dalam ranah privat warganya. Hal ini sejalan dengan prinsip kebebasan yang melekat pada sistem demokrasi. Yakni, kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, kebebasan kepemilikan dan kebebasan bertingkah laku.

Lalu, solusi apa yang bisa diterapkan dalam menghadapi problematika ini? Solusi yang paling tepat dan shohih tidak lain dengan menerapkan Islam secara kaffah dalam kehidupan bernegara. Penerapan Islam kaffah akan menjamin terjaganya masyarakat dari kerusakan moral. Pendidikan moral generasi senantiasa menjadi perhatian serius bagi negara. Selain itu, Para penguasa dalam sistem Islam tidak akan membiarkan tersebarluasnya miras yang bisa membahayakan umat. 
Wallahu a’lam bishawab

Post a Comment

0 Comments