Perubahan Ditanganmu

Oleh : Mulyaningsih, S. Pt (Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK) Kalsel) 



REMAJA, mendengar kata itu tentulah banyak yang kita lihat. Ada sudut negatif dan positif yang muncul. Belakangan ini sudut negatif yang lebih dominan muncul. Pasalnya beberapa bulan ke belakang banyak sekali kejadian-kejadian yang berkaitan dengan remaja. Kasus pemukulan kepada gurunya sendiri hingga berujung pada meninggalnya sang guru, narkoba, seks bebas dan kenakalannya. Luar biasa, mungkin mereka sedang berusaha mencari jati diri dan menapaki lika-liku kehidupan dunia.

Sempat terbersit dalam pikiran kita, mengapa remaja sekarang lebih arogan dan cenderung sebagai pemberontak? Keinginan untuk melampiaskan apa yang dipikirkannya makin tinggi? Berbeda dengan remaja ketika tahun 90-an kebawah. Patuh, tunduk, taat dan menerima segala sesuatu yang disampaikan oleh orang lain termausk orang tua dan guru. Tak ada sedikitpun wajah pemberontak, hanya nerimo (menerima) yang tersirat darinya. Kemudian pertanyaan lanjutannya adalah apakah mereka tidak mempunyai sopan santun dan kepribadian? Apakah semua itu sudah hilang?

Menilik pada beberapa pertanyaan diatas maka patutlah orang akhirnya memunculkannya karena memang remaja di era zaman now ini mengindahkan apa yang dimaksud dengan tata karma, sopan santun dan mengindahkan kepribadian. Yang penting saya bisa eksis, terkenal serta mendunia. Mungkin itulah gambaran nyata remaja zaman now, mereka mengindahkan sesuatu yang berbau dengan Islam dan akhirat. Jangankan belajar tentang itu, pelajaran yang terkait dengan science saja mereka ogah-ogahan. Kata serius serta sungguh-sungguh nampaknya telah pudar ditelan oleh perkembangan zaman.

Pandangan Islam

Islam memandang bahwa rentetan demi rentetan kejadian yang menimpa remaja zaman now adalah wajar adanya. Dimasa-masa pubertas, keinginan melakukan segala sesuatu begitu besar. Rasa tenar, populer serta dikenal menjadikan mereka akhirnya lupa akan segala hal. Lupa bahwa mereka adalah calon-calon penerus bangsa dan agent of change. Dari sini dapat kita tarik bahwa sejatinya kondisi remaja zaman now ini sangat jauh dari Islam. Kepribadiannya juga tak tercermin oleh warna Islam.

Pandangan Islam terkait dengan kepribadian (syaksiyah) ini erat kaitannya dengan pola pikir (‘aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah). Keduanya harus sama dan sejalan. Jika tidak, maka tidak akan pernah muncul kepribadian yang khas (unik) berbeda dengan yang lain.

Pola Pikir (‘Aqliyah)

Pola pikir adalah cara yang digunakan untuk memikirkan sesuatu; yakni cara mengeluarkan keputusan hokum tentang sesuatu, berdasarkan pada kaidah tertentu yang diimani serta diyakini oleh seseorang. Artinya jika seseorang memikirkan tentang sesuatu untuk mengeluarkan keputusan hukum padanya dengan akidah Islam sebagai sandaran, maka ‘aqliyahnya adalah ‘aqliyah Islamiyah. Sedangkan jika tidak bersandar pada Islam maka ‘aqliyah-nya merupakan ‘aqliyah yang lain.

Pola Sikap (nafsiyah)

Pola sikap adalah cara yang digunakan seseorang untuk memenuhi tuntutan naluri (gharizah) dan kebutuhan jasmani (hajat al-‘adhawiyah). Dalam konteks ini adalah upaya memenuhi tuntutan tersebut dengan dasar kaidah yang diimani serta diyakininya. Sebagai gambaran bahwa ketika pemenuhan naluri dan kebutuhan jasmani dilakukan dengan sempurna atas dasar akidah Islam maka nafsiyah-nya disebut sebagai nafsiyah Islamiyah. Sedangkan jika pemenuhannya tidak atas dasar Islam maka dinamakan nafsiyah yang lain.

Dua hal tadi tentunya harus berdasarkan pada hal yang sama. Dengan begitu akan menjadi khas. Jika ‘aqliyah dan nafsiyahnya berlandaskan pada hal yang sama, yaitu Islam maka akan terwujudlah syakhsiyah Islamiyah. 


Yang Harus Dilakukan

Belajar atau mengkaji Islam adalah modal dasar yang semestinya dilakukan. Dengan begitu maka setidaknya ada modal pada seseorang untuk berbuat sesuatu. Mengetahui segala hal yang diperintahkan oleh Allah SWT termasuk didalanya adalah halal-haram. Mampu memenuhi naluri serta kebutuhan jasmani yang selalu melekat pada diri-diri manusia. Serta mampu menempatkan sesuai dengan porsinya. Layaknya contoh para sahabat Rasulullah SAW yang begitu sangat menggambarkan syaksiyah Islamiyah. Sehingga begitu hebatnya mereka, sangat berakar kuat Islam pada diri mereka. 

Sebagai contoh yang layak ditiru adalah sebaik-baik panglima perang, Muhammad Al Fatih dan sang penakluk Madinah Mus’ab bin Umair. Muhammad Al Fatih dididik dengan cara Islam termasuk didalamnya adalah ‘aqliyah dan nafsiyahnya terikat pada Islam. Sehingga membuat beliau tahu benar mana musuh sesungguhnya umat Islam. Dengan begitu mampu melakukan strategi agar Islam berjaya serta menaklukkan benteng yang sangat luar biasa. Begitupun dengan mush’ab bin Umair dengan jiwwa mudanya beliau mampu mengislamkan penduduk madinah, sehingga melancarkan usaha Rasulullah untuk membangun negara yang berlandaskan pada sistem Islam.

Begitulah layaknya pemuda seharusnya, mampu bergerak demi perubahan yang hakiki. Karakter yang terbentuk juga sesuai dengan Islam sehingga mampu bekerja dengan hasil yang luar biasa. Semoga para pemuda (remaja) mampu mencontoh dari para sababat serta mampu bersyaksiyah Islamiyah. Karena di tangan pemudalah peradaban serta kejayaan Islam akan dipertaruhkan. So, be the best not be asa kawan. Wallhu ‘alam. [ ]



Penulis : Mulyaningsih, S. Pt
Ibu Rumah Tangga
Pemerhati masalah anak, remaja dan keluarga
Anggota Komunitas Akademi Menulis Kreatif (AMK) Kalsel

Post a Comment

0 Comments