Perempuan Bermartabat Ta'at Syari'at

Oleh : Rindoe Arrayah


       
Meski sudah memasuki pergantian bulan, dari bulan Maret hingga bulan April saat ini, ternyata perbincangan tentang perempuan tiada habisnya. 
       

Jika diingat lagi International Women's Day ( IWD ) atau Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret, seolah menjadi tonggak kebangkitan dan kesejahteraan seluruh perempuan di dunia. Apakah memang demikian?
        

Ketika ditelusuri sejarah kemunculannya, ternyata ada beberapa versi yang menceritakannya. Salah satunya ada yang menyebutkan bahwa International Women's Day ( Hari Perempuan Internasional ) pertama kali dirayakan pada tanggal 28 Maret 1909 di New York, Amerika Serikat ( AS ) dan diselenggarakan oleh Partai Sosialis AS. Demonstrasi pada tanggal 8 Maret 1917 yang dilakukan untuk para perempuan di Petrograd memicu terjadinya Revolusi Rusia.
       

Hari Perempuan Internasional secara resmi dijadikan sebagai hari libur nasional di Rusia pada tahun 1977. Kemudian dirayakan secara luas di negara Sosialis Komunis.
       

Pada tahun 1977, Hari Perempuan Internasional diresmikan sebagai perayaan tahunan oleh PBB untuk memperjuangkan hak perempuan dan mewujudkan perdamaian dunia ( Google.com ).
       

Tujuan awal perjuangan Hari Perempuan Internasional adalah untuk mencapai kesetaraan gender secara utuh bagi perempuan di dunia. 
       

Melihat fakta kemunculannya dan apa yang menjadi tujuan perjuangannya, serta hasil yang didapati saat ini ternyata sangat jauh api dari panggang, dengan kata lain sesuatu yang mustahil untuk mengantarkan perempuan di seluruh dunia menuju kebangkitan dan kesejahteraan. Justru nasib perempuan hingga sekarang semakin terpuruk karena telah menyalahi fitrahnya.
       

Sistem kehidupan kapitalis sekulerislah yang telah menghambat laju kebangkitan dan kesejahteraan perempuan. Tatanan kehidupan yang telah rusak dan merusak sejak dari awal kemunculannya ini sebenarnya sangat tidak layak apabila masih dijadikan sebagai dasar pijakan hukum.
       

Bagaimana caranya mengembalikan perempuan ke posisi yang bermartabat? Suatu hal yang sangat mudah manakala para perempuan mau kembali kepada fitrahnya.
       


Selain menjamin hak-hak perempuan, Islam pun menjaga kaum perempuan dari segala hal yang dapat menodai kehormatannya, menjatuhkan wibawa dan merendahkan martabatnya. Bagai mutiara yang mahal harganya, Islam menempatkan kaum perempuan sebagai makhluk mulia yang harus dijaga. Atas dasar inilah Allah SWT menetapkan sejumlah aturan bagi perempuan. Di antara aturan yang khusus bagi perempuan adalah tata cara berpakaian yang berbeda dengan laki-laki. Allah SWT memerintahkan demikian agar mereka bisa selamat dari pandangan keji para lelaki dan tidak menjadi fitnah bagi mereka. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Ahzab ayat 59 yang artinya :
"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin. "Hendaklah mereka menutupkan jilbab ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
       

Begitu juga dalam QS. An-Nuur ayat 31 yang artinya :


"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya ( auratnya ), kecuali yang ( biasa ) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudunh ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya ( auratnya ), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka...dst."
       

Rasulullah SAW, manusia termulia dan terbaik sepanjang masa sangat memuliakan perempuan. Hal ini dibuktikan dengan salah satu haditsnya :



Dari Abdullah bin 'Amr ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda ; "Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah."
( HR. Muslim, Nasa'i, Ibnu Majah dan Ahmad )
       

Adapun di sisi lain perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama dalam hal ibadah dan mendapatkan pahala. Hal ini telah disebutkan dalam QS. An-Nisa' ayat 124 yang artinya :


"Barangsiapa yang mengerjakan amal sholih, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam suraga, dan mereka tidak dianiaya walau sedikit."
       

Perempuan adalah partner laki-laki dalam amar ma'ruf nahyi munkar. Sesuai dengan QS. At-Taubah ayat 71 yang artinya :
"Dan orang-orang beriman, baik laki-laki dan perempuan, sebagian mereka ( adalah ) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka ( mengerjakan ) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan mereka ta'at kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
       

Betapa Allah SWT dan Rasulullah SAW sangat memuliakan kaum perempuan. Tidakkah kalian sadari wahai kaum perempuan? Hanya Islam yang menjadikan perempuan bermartabat ketika taat syari',at.

Post a Comment

0 Comments