Penistaan Terhadap Syariat Terus Berulang, Ko Bisa!?

Oleh: Dede Yulianti (revowriter Bogor)



Betul Indonesia pada mulanya berbudaya Hindu, itu fakta. Kerajaan-kerajaan Hindu menguasai Nusantara benar adanya. Namun jangan lupakan sejarah, Sobat! Islam datang dengan damai ke negeri ini. Penduduknya yang berakal dan beradab menerima agama Islam dengan damai. Tanpa pertumpahan darah juga tanpa paksaan tentunya. Ini membuktikan bahwa ajaran Islam sesuai dengan fitrah manusia dan menentramkan jiwa. Berbondong-bondong kerajaan Nusantara pun memeluk Islam. Itulah fakta sejarah yang tak terbantahkan. Maka wajar saat ini Indonesia menjadi negeri muslim terbesar di dunia. 

Sejarah pun mencatat negeri ini dijajah bangsa Eropa. Ga tanggung-tanggung Sobat, 300 tahun negeri kita dijajah Portugis dan Belanda. Hingga membakar semangat jihad kaum muslimin. Kalimat takbir menggelorakan pertempuran melawan penjajah. Bambu runcing menjadi saksi perlawanan yang tak pernah padam. Hingga hengkang penjajah dari bumi pertiwi.

Namun rupanya penjajahan yang ratusan tahun itu menyisakan tanda penjajahan. Yup, warisan penjajah Belanda dipelihara dalam bentuk aturan kehidupan. Undang-undang Belanda tetap dijadikan rujukan. Dimulailah episode baru penjajahan, melalui penancapan sekulerisme di negeri ini. Memisahkan agama dari negara. Beriringan dengan gempuran Islamofobia di dunia Barat. Semakin jauh umat Islam meninggalkan syariatnya. Boleh agama hadir, tapi hanya dalam ranah pribadi. Jangan tanya tentang aturan perzinahan, miras dan LGBT. Semua masih menginduk pada dasar aturan hidup sekulerisme. Betul atau betul?!

Rupanya geliat kebangkitan Islam di Indonesia semakin menampakkan wajahnya. Sobat tentu masih ingat, puncaknya pada aksi 212. Jutaan umat Islam dari penjuru negeri berkumpul, menyatukan perasaan umat yang terluka akan penistaan terhadap agamanya. Ruh pembelaan agama kian merasuk dalam jiwa umat. Alhamdulillah semangat persatuan dan pembelaan agama itu membuahkan hasil. Sang penista pun divonis bersalah.

Namun penistaan tak berhenti sampai di sana. Islamofobia yang semakin memanas terus dihembuskan ke negeri ini. Berbagai pelecehan dan penghinaan terhadap ajaran Islam dilakukan, dari komedian, politikus, akademisi hingga budayawan. Dalam bentuk pernyataan, lawakan hingga puisi. Kata maaf pun seolah cukup mengobati luka umat Islam.

Mengapa demikian? Sebab virus sekulerisme, yang terus menyalakan bentrokan agama dengan kehidupan, belum juga musnah. Alasan kebebasan berpendapat dan berekspresi pun kerap dijadikan tameng membenarkan perilaku rendahan tersebut. Di sisi lain, sekulerisme seolah menjadikan agama, khususnya Islam sebagai biang kerusuhan. Selama sekulerisme dipelihara, tak akan ada damai dan tentram di negeri ini. Menghentikan penistaan agama pun bak mimpi di siang bolong. 

Meski demikian, kita sebagai umat Islam harus tetap optimis Sobat. Perubahan suatu hal yang niscaya dan senantiasa akan terjadi. Termasuk perubahan menuju negeri bersyariat. Sekuat apapun upaya memadamkan cahaya Islam. Justru geliat kebangkitan semakin menyala. Perubahan itu kian nampak. Berhijab bagi muslimah di negeri ini sudah membumi. Tren fashion kekinian justru dengan hijab. Kaum muslimah telah memahami menutup aurat adalah kewajiban. Begitupun gerakan Indonesia antipacaran, semakin mengokohkan keinginan generasi muda meninggalkan pergaulan bebas. Tumbuhnya kesadaran meninggalkan riba pun semakin terlihat, dengan banyaknya karyawan Bank mengundurkan diri. 

Lalu mungkinkah Ibu Pertiwi menerapkan syariat Islam? Pastinya sangat mungkin, sebab sejatinya Islam adalah Rahmat bagi semesta. Hadirnya akan menghapus segala bentuk ketundukan manusia selain kepada penciptanya. Penyembahan pada materi dan kekuasaan lenyap dengan keimanan dan penjagaan aturan Islam. Bahkan Allah SWT telah menjanjikan masa depan dunia, sebelum musnahnya bumi, ada di tangan orang-orang beriman. Semoga kita semakin memahami kebaikan dan kewajiban menjadikan syariat Islam sebagai aturan kehidupan. Sehingga berbagai olok-olok dan bentuk penistaan agama benar-benar dihentikan dan dihukum seadil-adilnya.

Post a Comment

0 Comments