Pelajaran dari Uwais al-Qarni dan Al-qomah

Oleh : Yulia Elisa


Setiap manusia terlahir kedunia tidak terlepas dari peran kedua orang tuanya khususnya seorang ibu. Yang mengandung, melahirkan, menyusui serta membesarkan anak-anak nya. Islam sebagai agama yang sempurna dengan seperangkat aturannya juga mengatur masalah ini. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an


Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (Q.S. Al-Ahqaaf : 15)

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (QS Luqman: 14)

Dapat dipahami berbakti kepada kedua orangtua (birrul walidain) adalah perkara yang penting. Bisa diwujudkan dalam bentuk menyayangi, mengasihi, menghormati serta patuh dan taat kepada keduanya namun, kita tidak boleh taat kepada perintah yang membawa kepada ketidak ta'atan kepada Allah SWT. 

Dan jika keduanya memaksa kamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka jangan lah engkau mematuhi keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembali kamu, maka Ku-beritakan kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan .” (Q.S Luqman: 15)

Suatu riwayat menyebutkan bahwa ayat tersebut turun berkaitan dengan peristiwa yang terjadi pada masa sahabat Sa'ad bin Abi Waqosh Radhiyallahu 'anhu. Ketika itu Sa'ad masuk Islam namun ibunya tidak menyetujui bahkan mengancam akan tidak makan dan minum hingga anaknya tersebut melepaskan keimanannya. Ancaman ibunya tersebut benar-benar dilakukan sehingga membuat kesehatannya menurun dan mengalami kritis.

Saat kondisi ibunya kritis seperti itu Sa'ad bin Abi Waqosh berkata lembut kepada ibunya "ketahuilah wahai ibu, demi Allah seandainya ibu memiliki seratus nyawa dan nyawa itu keluar satu persatu dari tubuh ibu, niscaya aku tidak akan meninggalkan agama ini walau apapun yang terjadi. Aku tidak akan perduli dengan segala macam ancaman ibu".

Uwais al-Qarni

Uwais al-Qarni terkenal sebagai seorang muslim yang taat beribadah dan berbakti kepada ibunya yang sudah tua dan lumpuh. Segala permintaan ibunya ia dapat penuhi kecuali satu permintaan yang sulit untuk dikabulkan yaitu mengerjakan ibadah haji karena pada waktu itu perjalanan dari Yaman tempat asalnya ke Mekah sangatlah jauh melewati Padang gurun yang gersang tandus dan panas. Biasanya orang-orang akan menggunakan unta dan menyiapkan perbekalan yang banyak. Namun kehidupan Uwais sangat miskin serta tidak memiliki kendaraan yang bisa ia gunakan.

Kemiskinan tidak menghalangi Uwais untuk berusaha mengabulkan permintaan ibunya tersebut, akhirnya ia menggendong ibunya untuk pergi berhaji dengan berjalan kaki dari Yaman ke Mekah dengan menempuh perjalanan yang jauh dan sulit untuk membuktikan baktinya kepada ibu tercinta.

Inilah contoh seorang anak yang taat kepada ibunya walau dengan keterbatasan namun tetap tidak menghalangi ketaatan kepada ibunya tersebut sampai-sampai nama Uwais al qorni terdengar ke langit.

Al-qomah 

Pada masa Rasulullah, ada seorang pria yang bernama Alqomah. Pada suatu hari, menderita sakit yang kemudian menjadi semakin parah bahkan tidak bisa beranjak dari tempat tidur karena penyakit parahnya itu. Berita itu pun sampai pada Rasulullah SAW. Kemudian beliau mengutus tiga orang sahabatnya untuk menjenguk Alqomah.

Di sana, ketiga sahabat menemui Alqomah yang sedang dalam sakaratul maut, namun dia kesulitan untuk mengucap lafal la ilaaha illallaah. Setelah itu, Rasulullah memerintahkan sahabatnya untuk mencari ibu dari Alqomah. Setelah menemui sang ibu, ternyata diketahui bahwa Alqomah telah melupakan ibunya sendiri. Sejak menikah, Alqomah lebih mementingkan istrinya daripada ibu kandungnya. Ibu Alqomah merasa sakit hati dengan sikap anaknya tersebut.

Kemudian, Rasulullah memerintahkan untuk mencari kayu bakar untuk membakar Alqomah. Sang ibu merasa tidak sampai hati melihat sikap Rasulullah. Singkat cerita, ibu Alqomah memaafkan kesalahan anaknya sehingga Alqomah dapat menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang. Walau kisah al-qomah ini masih di perdebatkan namun kita bisa mengambil pelajaran berharga tentang pentingnya bakti kepada ibu.

Nah sahabat dari penjelasan di atas semoga bisa diambil pelajarannya Tentang bagaimana sikap kita terhadap kedua orang tua kita terutama ibu. Apakah kita menjadi anak yang berbakti atau sebaliknya. Wallahu'alam

Post a Comment

0 Comments