Nasehat itu Nikmat


Oleh: Yuyun Rumiwati
(Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)



Sobat, ada yang bilang nasehat itu ibarat obat. Pahit tapi bikin sehat. Ada juga yang menyebut nasehat itu bukti cinta. Siapa yang tidak ingin dicinta? Siapa pula yang tidak ingin sehat? Bukankah, semua itu nikmat?

Rasulullah pun mengabarkan dalam hadist Qudsi, Bahwa ibadah hambaku yang paling kucintai adalah memberi nasehat" (HR. At-Thabrani). Begitupun dalam Qs. Al-Asrh, bahwa salah satu orang yang disebut tidak merugi, ketika saling sehat menasehati dalam kebaikan dan kesabaran.

Namun, tak jarang sebagian diantara kita serasa deman ketika nasehat tiba. Panas, dingin meriang yang dirasa. Bukannya terasa sehat dan nikmat. Namun, bikin tambah penat dan "mumet" bin pusing tujuh keliling. Bahkan ada yang merasa nasehat berupa kritik dianggap hujatan dan ujaran kebencian..wauw..

Kenapa demikian, karena manusia memiliki gharizatul "baqo" (naluri mempertahankan diri). Jadi, ketika naluri ini berjalan tanpa dikendalikan pemahan yang benar. Bisa berpotensi mempertahankan diri . Yang muncul pertahanan, perasaan bahwa dirinya paling benar . Dan sulit menerima nasehat dari luar. Walau kadang akal sehatnya tidak bisa menyangkal ada kebenaran yang hadir. Namun, tingginya baqo' yang menolaknya.

Lalu bagaimana agar kita bisa merasakan nikmatnya nasehat? 
Pertama: Mengokohkan keaimanan dan keikhlasan. Betapa iman yang kokoh melahirkan hati yang lapang dan ikhlas menerima kebenaran dari siapapun. Maka, selalu kita berdoa dengan doa pembuka hati, " Ya Allah mudahkanlah urusanku dan lapangkanlah dadaku (Qs. Thaha:25).

Kedua: Menanamkan jiwa husnudzon (berpikir positif) terhadap nasehat. Betapa nasehat adalah cara Allah menjaga kita agat selamat. Sehingga sepahit apapun serasa nasehat. Kita akan lapang menerima dan melihat. Karena itu demi kebaikan untuk kita. Bukankah dalam doa kita, selalu meminta keberkahan. Dalam makna bertambah kebaikan?. Dan pijaran hikmah dan kebaikan itu tersembunyi dalam nasehat. Entah, nasehat secara langsung atau tidak. Maka beruntunglah orang menjadikan setiap kejadian menjadi pelajaran. Sehingga hikmah dan nasehatpun didapatkan.

Ketiga: Membiasakan saling sehat menasehati (dakwah) karena Allah. Ikatan ruh karena Allah memperkuat ketulusan. Baik, bagi pemberi nasehat maupun, yang menerima nasehat. 

Bagi si pemberi nasehat akan selalu merasakan nikmat, apakah nasehatnya diterima atau ditolak. Karena ia lakukan semata karena rabb-Nya. Begitu pun, yang menerima nasehat akan berpotensi besar untuk "legawa" atau lapang menerima. Karena mindset (pola pikir) nya menancap bahwa nasehat adalah wujud jalinan cinta karena Allah.

Keempat: Rayakan dengan bersyukur dan berterima kasih. Karena nasehat itu nikmat. Maka bersyukur kepada Allah butuh terus diingat. Berterima kasih pada saudara pemberi nasehat, kian menambah nikmat nasehat.

Yuk, saatnya, berbekal ilmu dan kokohkan iman di tengah arus kapitalis. Yang berefek membawa orang cenderung individualis. Cuek dan sulit menasehati pun sulit menerima nasehat. Sambil tingkatlan kualitas individu, terus konsisten berjuang menuju sistem Islam, khilafah ala min hajji nubuwah. Sistem yang menebarkan rahmad, sehingga nasehat pun kian terasa lezat dan nikmat.

Post a Comment

0 Comments