Muslimah, Ini Perisaimu



Oleh: Hamsina Halik
(Anggota Komunitas Revowriter)

Wanita diciptakan dengan bentuk yang berbeda dari laki-laki. Menjadikannya setiap bagian tubuhnya itu bisa mengandung fitnah. Dengan keindahan tubuh mampu membangkitkan syahwat para lelaki. Maka, tak jarang diluar sana didapati banyak para wanita yang menjadi objek pelecehan seksual hingga kekerasan seksual.

Akhirnya para wanita pun banyak yang  merasa tak aman ketika beraktivitas di kehidupan umum. Dimana, disinilah perjumpaan antara wanita dan laki-laki tak bisa dihindari. Adanya keperluan dan kebutuhan sehari-hari menjadikan  wanita berada di kehidupan umum. Disinilah wanita perlu perisai atau pelindung agar mereka terhindar dari gangguan para lelaki tak bertanggung jawab.

Islam sebagai agama yang sempurna telah menetapkan sebuah aturan terkait hal tersebut. Aturan- aturan ini mampu memelihara setiap muslim. Tak hanya laki-laki tapi juga para wanita. Sehingga tak keluar dari nilai-nilai mulia. Aturan atau hukum-hukum inilah yang akan menjadi perisai. Sehingga keduanya akan senantiasa terhindar dari pandangan yang tak diinginkan. Pandangan yang tak biasa yang dapat membangkitkan syahwat, yaitu pandangan seksual.

Diantara perisai itu adalah: pertama, Menundukkan pandangan serta memelihara kemaluan. Baik laki-laki maupun wanita. Sebagaimana dalam firman-Nya:

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman hendaklah
mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya;
yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah
kepada wanita yang beriman hendaklah mereka menahan
pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (TQS an-Nur: 30-31)

Ini adalah perlindungan hakiki, yang senantiasa menjaganya agar tak terjatuh dalam hal-hal yang diharamkan. Sebab, mata adalah sarana yang paling utama mampu menghantarkan pada perbuatan-perbuatan yang terlarang. Ketika pandangan ditundukkan maka saat itu pula kemungkaran tercegah.

Kedua, bertakwa kepada Allah SWT. Sebab, dengan ketakwaan yang tinggi akan ada rasa takut terhadap azab Allah SWT. Sehingga akan senantiasa menjaga diri dari perbuatan maksiat. Ini adalah bentuk pencegahan diri yang lahir dari akidah Islam yang kokoh. Keyakinan yang telah menancap dalam diri bahwa ada yang Maha Mengawasi atas segala tindak tanduk kita. Firman-Nya:

“Dan bertakwalah kamu (hai isteri-isteri Nabi) kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (TQS
al-Ahzab: 55)

Ketiga, senantiasa menjaga kesucian dan memiliki kemampuan dalam mengendalikan diri.
Salah satu potensi yang diberikan Allah SWT kepada manusia adalah adanya gharizah (naluri), diantaranya gharizah nau'. Yaitu adanya kecenderungan untuk menyukai lawan jenis (naluri seksual). Pemenuhannya harus dengan cara yang benar, sesuai syara'. Syara' mensyariatkan pernikahan agar kehormatan dan kesucian diri terjaga. Bukan, malah melampiaskannya dengan cara yang haram. Terlibat dalam hubungan cinta yang tak diridhoi Allah, pacaran.

Namun, jika tak mampu menikah  maka Syara' memerintahkan agar berpuasa. Semata-mata untuk menghindari gejolak naluri seksual yang tak terhindarkan, sehingga diri akan terjaga dan disibukkan dengan hal-hal yang lebih utama dan mulia. Rasulullah SAW bersabda:

“Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang telah mampu
menanggung beban, hendaklah segera menikah. Sebab, pernikahan
itu lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan.
Siapa saja yang belum mampu menikah, hendaklah ia berpuasa,
karena puasa adalah perisai baginya.” (Muttafaq ‘alayhi)

Keempat, bersikap sopan dan berpakaian sempurna di kehidupan umum.
Islam telah menetapkan bahwa kita hidup akan dalam kehidupan umum juga kehidupan khusus dengan masing-masing aturan berpakaiannya. Dalam kehidupan khusus yaitu dalam rumahnya, wanita hidup bersama  mahramnya. Sehingga pakaian yang dikenakan adalah   pakaian keseharian, yang  tentu saja harus  mengandung kesopanan. Sedangkan dalam kehidupan umum (luar rumah) wanita diwajibkan mengenakan pakaian yang menutup aurat dengan sempurna, yaitu menutupkan kain kerudung atas kerah bajunya
sehingga terulur menutupi kepala, leher dan dadanya.
Firman Allah SWT:
"“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya”
(TQS an-Nur: 31)

Serta
mengulurkan jilbabnya (gamis) sehingga terulur
 hingga ke bawah agar tertutup seluruh tubuh hingga kedua
telapak kakinya. Itu berarti bahwa wanita tersebut disamping sempurna dalam berpakaian juga berhati-hati dalam  mengenakannya, maka akan tampak  pula kehormatan atau  kesopanannya.

Firman Allah SWT:
“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak
perempuanmu, dan isteri-isteri orang Mukmin, hendaklah mereka
mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian
itu supaya mereka lebih mudah dikenal sehingga mereka tidak
diganggu.” (TQS al-Ahzab: 59)

Dengan pakaian inilah wanita beraktivitas diluar rumahnya. Ketika telah nampak kesopanannya dalam berpakaian,  dirinya terjaga juga dalam kondisi terhormat, maka ia pun akan terlindungi dari pandangan orang-orang yang tak bertanggung jawab, yang tidak  bertakwa kepada Allah  SWT.

Wallahu a'lam.

Post a Comment

0 Comments