Muslimah Dipersimpangan Jalan

Oleh : Vio Ani Suwarni Karmo



Kalau kita mendengar kata persimpangan otomatis kita berada diantara dua pilihan mau ke sebelah kiri ataukah mau ke sebelah kanan. Problem ini juga yang sedang dihadapi para muslimah zaman now. Muslimah zaman now senantiasa diselimuti kegalauan yang hinggap di dalam pikirannya. Pasti sahabat muslimah bertanya-tanya pilihan apa sih yang membuat muslimah menjadi super duper galau? Muslimah seolah dipaksa untuk memilih mau eksis di luar rumah (bekerja) ataukah menjadi ummu wa rabbatul bayt (menjadi seorang ibu plus pengelola rumah tangga).


Dimata Allah SWT laki-laki dan perempuan itu sama, yang membedakannya hanyalah ketakwaannya saja kepada Allah SWT. Secara manusiawi perempuan dan laki-laki sama. Namun secara fitrah, keduanya berbeda. Contoh misalnya, perempuan itu melahirkan dan menyusui, sedangkan laki-laki menafkahi, perempuan di dalam rumah, sedangkan laki-laki keberadaannya di luar rumah. Laki-laki kewajibannya bekerja, sedangkan untuk perempuan hukum bekerja itu mubah. Ada peranan yang berbeda antara perempuan dan laki-laki yang tidak bisa disamakan. 


Perempuan boleh melakukan apa yang dilakukan oleh laki-laki, dan laki-laki boleh melakukan apa yang dilakukan oleh perempuan. Perempuan boleh bekerja, tapi perempuan tidak diwajibkan untuk bekerja. Laki-laki boleh mengasuh anaknya, tapi laki-laki tidak diwajibkan untuk mengasuh anaknya. Laki-laki boleh membereskan rumah, tapi hal tersebut tidak diwajibkan ataupun dikenakan beban untuk laki-laki. Perempuan bertugas untuk mengelola apa saja yang ada di dalam rumahnya. Sedangkan laki-laki bertugas untuk mendatangkan segala macam yang ada di dalam rumahnya.


Perlu pelajari kembali ternyata tabiat perempuan dan laki-laki itu berbeda. Karena perempuan dan laki-laki memiliki tabiat yang berbeda maka fungsinya pun berbeda. Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling melengkapi, memahami dan mengisi, bukan untuk saling menyayingi. Penulis teringat kisah Ali Bin Abi Thalib dengan Fatimah Azzahra Binti Muhammad SAW. Inti dari kisahnya adalah Nabi Muhammad meminta agar Fatimah melaksanakan aktivitasnya di dalam rumah. Sedangkan Ali diminta untuk melaksanakan aktivitasnya di luar rumah. Sungguh pembagian yang sangat mengesankan menurut penulis pribadi. Panutan kita Nabi Muhammad SAW sudah jauh-jauh hari menyiapkan pembagian yang sangat relavan untuk perempuan dan laki-laki.

Sebetulnya hukum bekerja untuk perempuan adalah mubah, yang diwajibkan untuk perempuan adalah menjadi seoarang ibu plus pengelola rumah tangganya. Lalu bagaimana dengan sebagian muslimah yang bekerja? Itu boleh saja kok, asalkan yang menjadi catatan adalah semua pekerjaan di dalam rumah dan mendidik serta mengasuh anak sudah terselesaikan dengan baik. Niat kita bekerja pun untuk menyalurkan ilmu dan pengetahuan kita serta semata-mata untuk meraih ridha Allah SWT.


Kita harus selalu ingat bahwa dibalik cerdasnya Imam Syafii, ada ibundanya yang super banget mendidik beliau. Maka sudah bisa dipastikan bahwa di balik anak yang cerdas, pasti hasil didikan ibundanya yang cerdas pula. Muslimah diharapkan tidak galau lagi ya, karena fungsi kita yang sesungguhnya mencetak generasi bangsa yang cerdas untuk kehidupan yang gemilang yang sesuai dengan ketentuan Islam. Semoga dari sahabat-sahabat muslimah lahir anak-anak yang shalih dan shalihah yang bisa memperjuangkan syariah Islam.

Post a Comment

0 Comments