Muslimah dan Pakaiannya

Oleh : Mulyaningsih, S.Pt (Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK) Kalsel)



Manusia Allah SWT ciptakan dengan seperangkat kelebihan-kelebihan di dalamnya. Hal tersebut tentulah yang membedakannya dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Akal, itulah pembeda nyata antara manusia dengan tumbuhan dan hewan serta makhluk lain. Dengan akal tersebut manusia mampu mempelajari dan melaksanakan segala apa yang diperintahkan oleh Allah SWT. 

Berbicara tentang wanita, Allah pun memberikan kelebihan tersendiri padanya. Dan dengan syariat Islam wanita tersebut dilindungi dan dijaga. Begitupun dengan perintah yang terkait dengan wanita, salah satunya adalah wajib menutup aurat secara sempurna jika hendak bepergian. Kadang hal ini masih sulit sekali di laksanakan. Bisa jadi karena ketidaktahuan ataukan pembangkangan. Hanya manusia itu sendiri yang mengetahuinya. Tulisan berikut ini memaparkan terkait dengan batasan aurat wanita serta bagaimana selayaknya wanita berbusana keluar rumah.

Menutup Aurat

Islam adalah adalah agama yang sempurna dan paripurna. Mengatur hubungan dirinya dengan sang Pencipta (Allah SWT), dirinya sendiri dan orang lain. Menutup aurat ini terkait dalam hal berpakaian, hal ini termasuk pada konteks hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Berarti wajib bagi seorang muslimah ketika ia hendak bepergian atau keluar dari ranah privat menuju pada umum harus menutup aurat secara sempurna. Hal ini tersirat dalam Al Qur’an surat An Nur ayat 31 yang berbunyi: 

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) Nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya…

Ditambah dengan Sabda Rasulullah: Wahai Asma’, sesungguhnya seorang perempuan, apabila telah baligh (mengalami haid), tidak layak tampak dari tubuhnya kecuali ini dan ini (seraya menunjuk muka dan telapak tangannya). (HR. Abu Dawud).

Dari dalil di atas sudah jelaslah bahwa seorang muslimah wajib untuk menutupi seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan. Artinya adalah selain dari kedua bagian tersebut maka tidak boleh terlihat oleh laki-laki yang bukan mahram-nya.

Kerudung dan Jilbab

Setiap manusia Allah berikan rambut yang tumbuh di atas kepala. Sebagian besar orang berpandangan bahwa mahkotanya seorang wanita ialah pada rambutnya. Sehingga tak sedikit orang yang akhirnya lalai untuk mengerjakan perintah Allah SWT terkait dengan menutup rambut. Karena rambut adalah termausk pada ranah aurat seoarang wanita, sehingga harus ditutup.

Kerudung adalah penutup kepala yang menutupi rambut, leher dan bukaan baju “al-jayb”. Allah SWT berfirman dalam Surat An nur ayat 31: … “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya”…

Muslimah dalam kesehariannya harus terikat dengan hukum syara. Karena dia begitu istimewa, maka islam memberi perlakuan yang khusus pula padanya. Muslimah diwajibkan menutup aurat secara sempurna ketika ia keluar rumah. Seperti gambaran diatas, ia hanya boleh menampakkan muka dan telapak tangannya, artinya selain kedua hal tersebut maka wajib untuk dilindungi atau ditutup. 

Jika bagian kepala termasuk rambut didalamnya ditutup oleh kerudung, maka badan ditutupi dengan jilbab. Pakaian luas yang menutupi pakaian yang ada di dalam dan diulurkan untuk menutupi kedua kaki disebut dengan jilbab. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Ahzab ayat 59.

Hai Nabi, katakanlah kepada Istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Peyayang.

Jilbab harus dijulurkan sampai kedua kaki agar ada irkha’. Artinya adalah jilbab tersebut jatuh (menjulur) ke bawah secara menonjol sebagai bukti realisasi dari firman Allah SWT dalam Surat Al Ahzab ayat 59 tadi. Hal ini berarti jilbab sampai tanah jika kedua kaki terbuka (tidak tertutup) dan cukup sampai kedua kaki jika ia menggunakan sepatu atau kaos kaki.

Atas dasar itulah maka tidak boleh bagi seorang muslimah dalam kehidupan umum mengenakan celana panjang dan di atasnya mengenakan jubah panjang hingga lutut. Hal ini tidak memenuhi makna syar’iy untuk jilbab. Makanya dia wajib untuk mengenakan jilbab ketika dia hendak keluar rumah, jika tidak mempunyainya maka bisa pinjam dengan teman atau saudaranya. Sebagaimana hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh imam Muslim di dalam shahihnya dari Ummu Athiyah, ia berkata

“Rasulullah SAW memerintahkan kami agar kami mengeluarkan pada hari Idul fitri dan Idul Adha, perempuan yang dipingit, wanita yang sedang haid dan yang memiliki halangan (udzur). Adapun wanita haid maka ia memisahkan diri dari shalat dan menyaksikan kebaikan dan seruan terhadap kaum muslimin”. Aku katakana: “Ya Rasulullah, salah seoarang dari kami tidak memiliki jilbab.” Beliau bersabda: “ Hendaklah saudaranya meminjaminya jilbabnya.”

Dari gambaran diatas maka sudah selayaknya bagi seorang muslimah untuk terikat terhadap segala sesuatu yang Allah SWT perintahkan. Maka tanpa menunda-nunda lagi, selama nyawa masih bersatu dengan tubuh, selagi mentari masih muncul dari ufuk timur maka segeralah taat pada segala perintahNya. Karena kita yakin bahwa segala sesuatu yang Allah SWT perintahkan pada kita tentulah baik untuk kita. Dan jika kita laksanakan dengan ikhlas maka palaha insya Allah akan didapat. Pergunakan waktu dengan sebaik mungkin agar kata sesal tak akn menghampiri. So, be the best not be asa. Wallahu a’lam. [ ].



Mulyaningsih, S.Pt
Ibu Rumah Tangga
Pemerhati keluarga, anak dan remaja
Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK) Kalsel

Post a Comment

0 Comments