Mudik ke Kampung Surga

Oleh : Siti Rahmah


BICARA mudik (mulang ke Udik) alias pulang kampung, biasanya identik dengan idul fitri dan libur hari - hari besar. Semua sepakat siapapun yang punya kampung halaman pasti merindukan tempat kelahirannya itu. Sejauh manapun ia berkelana dan sesukses apapun dia di negeri rantau dia pasti merindukan pulang ke kampung asal.

Misalnya saat ini aja walaupun hari raya idul fitri masih jauh tapi nuansa mudik sudah mulai terasa. Persiapan perjalanan pun sudah mulai di siapakan, pemesanan tiket - tiket kendaraan sudah mulai rame bahkan ada beberapa yang sudah habis. Menteri perhubunganpun sudah menambah berbagai armada untuk perjalanan. Begitupun dengan perusahaan yang menyelenggarakan mudik bareng, sudah mulai membuka pendaftaran - pendaftaran.

Persiapan Mudik

Sepertinya banyak hal yang perlu di persiapkan ketika hendak mudik, apalagi yang mudiknya ke kota yang jauh disana. Mulai dari perbekalan untuk di perjalanan, transfort dengan segala hal yang bisa membuat nyaman perjalanan. Bekal selama di kampung halaman dan yang tidak ketinggalan menyiapkan oleh - oleh untuk keluarga tercinta.

Ada hal yang bisa membuat mudik lebih di rindukan dan menjadi moment yang paling di tunggu - tunggu. Yaitu ketika kita siap dengan bekalnya, ketika kita bisa memastikan keluarga yang akan kita kunjungi juga merindukan kita dan yang terakhir kita tau tujuan mudik kita alias kita punya kampung halaman.

Mudik Sesungguhnya

Pada dasarnya mudik pulang ke kampung halaman bukan hanya sekedar bicara kehidupan dunia dan kampung kelahiran saja. Karena pada dasarnya kita semua manusia akan merasakan mudik yang sesungguhnya, mudik yang abadi, mudik kekampung akhirat. 

Mudik kekampung akhirat ini jarang di sadari oleh manusia, padahal itu sesuatu yang pasti sebagaimana firman Allah dalam surat Al Anbiya ayat 35 Allah SWT berfirman:

كلّ نفسٍ دآئقة الموت
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati." (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 35)

Dalam ayat tersebut menjelaskan dengan tegas bahwasanya manusia pasti akan mati, sedangkan kematian adalah akhir dari kehidupan dunia dan awal dari memasuki negeri akhirat. Manusia mengira bahwasanya setelah mereka mati semua urusan selesai, mereka mengira semua masalah yang di hadapi selesai dengan datangnya kematian. Padahal ketahuilah bahwasanya kematian adalah pemutus semua kenikmatan dunia dan awal dari perjalanan panjang yaitu negeri akhirat.

Manusia ketika dia tidak menyadari ada kehidupan setelah kematian maka dia akan menjadi orang yang lalai, dia akan menjadi orang yang hanya di sibukan dengan urusan - urusan dunia nya saja. Dia lupa bahwasanya dia akan pulang, dia lalai sampai - sampai dia tidak punya persiapan.

Ketika hendak mudik kekampung halaman saja dia persiapakan bekalnya, nabung dari jauh - jauh hari supaya bisa mudik dengan nyaman. Tapi dia lupa dia pun akan mati akan melewati perjalanan panjang yang membutuhkan perbekalan, yaitu bekal amal. Bahkan pada suatu hari Rasululloh pernah di tanya, siapakah orang paling cerdas? Ternyata Orang yang paling cerdas menurut Rasululloh bukan orang yang dengan IQ tinggi tapi dia adalah orang yang mempersiapkan diri untuk kematiannya. 

Sebagaimana sabda Rasululloh dari Ibnu Umar berkata; "Suatu hari aku duduk bersama Rasululloh saw, tiba - tiba datang seorang laki - laki dari kalangan anshor. Kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi saw dan bertanya: Wahai Rasululloh siapakah orang mukmin yang paling utama? Rasululloh saw menjawab; Yang paling baik akhlaqnya. Kemudian ia bertanya lagi; Siapakah orang mukmin yang paling cerdas? Beliau saw menjawab: Yang paling banyak ingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapakan kematian tersebut. Itulah orang yang paling cerdas." (HR. Ibnu Majah, Thabrani dan Al Khaitsamy)

Dalam hadits tersebut jelas orang cerdas adalah orang yang ingat mati dan mempersiapakan diri untuk menghadapinya. Sehingga ketikapun saatnya kematian itu tiba, maka dia sudah memiliki bekal untuk perjalanan, diapun sudah memiliki tujuan yang jelas untuk kembali, yaitu Surga yang tinggi. Dengan amal yang disiapkan untuk bekal tersebut, dia pun akan menyadari bahwa tempat kembalinya merindukannya. 

Itulah hakikat mudik yang sesungguhnya, mudik ke kampung halaman manusia yaitu surganya Allah. Karena manusia berasal dari nenek moyang yang menjadi penghuni surga yaitu nabi Adam dan Hawa maka tempat kembali atau kampung halaman manusia juga surga.

waallahu 'alam

Post a Comment

0 Comments