Miras Oplosan, Si Banyu Setan

Oleh : Sunarti



Berulang kali pemberitaan digegerkan dengan kasus terenggutnya nayawa oleh "Si Banyu Setan" alias miras oplosan. Tak tanggung-tanggung korban yang meninggal, ada 11 orang. Layaknya pesta, Si Banyu Setan sebagaibsajian minumannya. Maka tak mengherankan apabila korban berjatuhannsecara serempak. Sebagaimana yang terjadi beberapa haribini, lima warga Sukabumi tewas usai minum miras oplosan. (Senin, 9 April 2018)

Tak hanya di Cicalengka, lima orang warga Sukabumi, Jawa Barat meninggal dunia, setelah meminum miras oplosan. Sementara empat orang lainnya dalam kondisi kritis di rumah sakit.
Korban meninggal dunia satu jam setelah dirawat di RSUD Palabuhan Ratu. Dari hasil pemeriksaan pihak rumah sakit, terdapat zat cair yang mengandung racun di dalam tubuh korban yang diduga berasal dari minuman keras oplosan.
Diduga kesembilan korban membeli dari penjual miras yang sama. Pihak kepolisian hingga kini masih menyelidiki kasus ini. 11 Orang Tewas Akibat Menenggak Miras Oplosan.(Minggu, 8 April 2018).

Satu dari sebelas korban tewas akibat miras oplosan di Cicalengka merupakan perempuan. Korban tewas lainnya berkisar antara usia 20 hingga 50 tahun. Menurut Humas RSUD Cicalengka sebagian besar korban meninggal miras oplosan tewas di tempat kejadian.
Berulangnya kasus miras oplosan menunjukkan ketidak seriusan negara dlm menuntaskan kerusakan moral generasi akibat miras. (TRBUNNEWS.COM).

Sungguh sebuah ironi yang menyedihkan memang, namun semakin hari peristiwa semacam ini tak pernah terhenti. Miras seolah sudah menjadi minuman biasa di tengah-tengah masyarakat. Sehingga tatkala minuman ini diteguk tidak menjadikan peminumnya mabuk dan mendapatkan manfaat yang mereka inginkan, yaitu perasaan ringan yang melayang-layang (halusinasi), muculah keinginan yang levih dari sekedar halusinasi.
Kata orang Jawa "nek wes ndekek, omben kuwi ora marai mendem" (kalau sudah kecanduan (peminum berat) , miras tidak akan memabukkan).
Maka akan sangat wajar di benak mereka menginginkan sensasi yang berbeda dari hanya sekedar miras. Munculah inisiatif dari para peminumnya untuk mencampurkan dengan minuman atau obat-obatan yang lain. Berangkat dari rasa penasaran, jadilah kebiasaan. Semakin hari semakin nikmat dan tubuh akan kebal terhadap miras oplosan yang biasa mereka minum. Maka mereka mencoba lagi yang lebih "menantang". Dengan rasa penasaran yang tinggi, mereka mencampur miras dengan yang belum pernah dicoba, dengan takaran yang semakin hari juga semakin bertambah. Untung punya untung mereka masih bernasib baik, tubuh mereka masih kuat menahan reaksi miras oplosan. Di kala tubuh sudah tidak mampu menahan oplosan di luar kekuatan lambung dan usus memerima Si Banyu Setan. Shock hingga nyawa terenggutlah, justru yang ditemui. Perforasi lambung yang menjalar ke usus, maka tak ayal lagi jika meregang nyawa dengan kondisi yang mengenaskan. 

Miras memang semakin mudah didapatkan., selain banyak miras buatan rumahan juga banyak miras kemasan pabrik. Sebenarnya tidak ada perbedaan antara kemasan pabrik maupun produksi rumahan, karena pada dasarnya memabukkan.

Mudahnya didapat miras di tengah-tengah masyarakat, bukan tanpa alasan. Sejak dilegalkan peredaran miras ("dengan kadar yang ditentukan"), memudahkan masyarakat mudah menjangkau produk haram tersebut. 
Ditambah lagi dengan keuntungan jual beli Si Banyu Setan ini, membuat para pengusaha tidak merasa jikalau produknya merugikan masyarakat. Tidak cukup demikian, yang terlebih lagi adalah rusaknya generasi, baik secara akal, mental maupun spiritual. Kondisi diperparah dengan tidak ada jerat hukum pada pemabuk, pengedar maupun pembuat barang najis dan haram ini.

Negara sebagai perisai umat justru berperan sebagai penyedia panggung rusaknya generasi oleh Banyu Setan. Produksi bebas, penjualan bebas, peminum bebas dan peredaran bahkan terlindung hukum. Penguasa demokrasi sekuler neolib cenderung abai terhadap urusan moral yang dianggap urusan pribadi masing-masing, sejalan dengan prinsip kebebasan yang melekat pada sistem demokrasi, yaitu hak azazi manusia. 

Peran masyarakat sebagai pengontrol lingkungan dan penguasa sudah tidak ada lagi taringnya. Apatis akan kondisi di sekitarnya dan pesimis terhadap suara mereka yang tak pernah didengar pengayomnya, akhirnya masyarakat memilih diam. 
Dan kehidupan individualistis semakin kuat. 
Merasa yang penting diri sendiri dan keluarga berperilaku baik dan tidak mengalami hal yang sama (sebagaimana kasusbl miras oplosan), baginya sudah cukup.

Islam sebagai pengatur individu, masyarakat dan negara dari kematian akibat menggak Banyu Setan. Dalam ajaran Islam, miras hukumnya haram. Segala hal yang memabukkan adalah haram, meskipun jumlahnya sangat sesikit. 
Miras adalah benda najis, sehingga mengkonsumsinya juga haram, walaupun meminumnya tidak mengakibatkan mabuk.
Semua ini disadari oleh kaum mislimin, secara individu maupun berjamaah. Jadi segala bentuk maupun perbuatan yang menyangkut benda haram, adalah haram. 
Negara sebagai penyelenggara aturan, akan memberikan sanksi yang tegas bagi pengguna, pengedar, pengantar dan yang memproduksi benda haram tersebut. 
Islam mengatur urusan moral sebagaimana urusan-urusan lain. Penerapan Islam kaffah menjamin terjaganya masyarakat dr kerusakan moral, termasuk tersebarluasnya miras yang mmbahayakan umat


Allah melarang keras khamr, salah satunya yang difirmankanNya dalam QS al-Maidah ayat : 90
Setiap minuman yang memabukkan adalah khamer dan yang setiap memabukkan adalah haram. Barang siapa yang kecanduan minuman keras dan mati kemudian tidak bertaubat maka nanti ia tidak akan meminumnya di akhirat.


Minuman keras adalah induk dari segala perbuatan keji (Usman RA.) 
Dari Qatadah bahwa nabi Muhammad SAW. Bersabda: ada 4 kelompok manusia yang tidak dapat mencium bau surga, padahal baunya bisa tercium dari jarak (perjalanan) 500 tahun, yaitu: 1) orang kikir, 2) orang yang suka menyebut-nyebut shadaqohnya, 3) orang yang selalu minum minuman keras, 4) orang yang durhaka kepada orang tuanya.
Dari Ibnu Mas’ud RA berkata: ada 10 pihak yang mendapatkan kutukan masalah minuman keras, antara lain, oang yang memerasnya, orang yang minta diperaskan, oang yang meminumnya, orang yang memberikan minuman, orang yang membawanya, orang yang dibawakan, orang yang menjualnya, orang yang menyediakan tempat (toko) menanamnya, orang yang menjualkannya, orang yang membelinya.(al-Hadits).

Waallahu alam bisawab

Post a Comment

0 Comments