Miras Oplosan Renggut Nyawa Lagi

Oleh : Tri Silvia (Ummahat Peduli Umat, Aktivis Revowriter Tangerang) 




Rabu (04/04/2018), korban tewas akibat miras oplosan kembali bertambah jadi 13 orang. Penyidik Polres Metro Jakarta Timur terus memburu peracik sekaligus pedagang miras oplosan yang merenggut nyawa tersebut. Para korban tersebar di lima wilayah Jakarta Timur yakni Duren Sawit, Jatinegara, Matraman, Pulogadung dan Cakung (Liputan6.com, 04/4/2018). 
Adapun secara keseluruhan, tercatat ada 31 nyawa melayang akibat menenggak miras oplosan ini. Korban tersebar di wilayah Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Depok, dan Bekasi. "Ada di Bekasi tujuh orang, Depok enam orang, Jagakarsa delapan orang, dan Timur 10 orang," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Kamis (Liputan6.com, 5/4/2018).
Begitu dahsyat kejadian ini, hingga Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno angkat bicara soal korban miras oplosan di Jakarta yang terus bertambah. Beliau menegaskan, warga Jakarta harus berhati-hati dan tidak terjerumus mengonsumsi miras oplosan (Liputan6.com, 05/4/2018). 
Sandi mengatakan, pihaknya akan kembali menggalakkan program RT/RW di lingkungan setempat untuk kewaspadaan dini. Lebih jauh, Pemprov DKI juga akan menggandeng stakeholders resmi demi memberantas peredaran miras oplosan ini.
Di Jakarta, peredaran miras diatur dalam Pasal 46 Perda Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Pasal itu menyatakan: Setiap orang atau badan dilarang mengedarkan, menyimpan dan menjual minuman beralkohol tanpa izin dari pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
"Jadi Perdanya kan tertera siapa yang boleh jual, miras seperti apa kemasannya, itu harus diikuti dan yang diikuti miras oplosan ini menyalahi perundangan," pungkas Sandi.
Sementara itu, Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis memerintahkan jajarannya membentuk tim khusus untuk menindak pengedar dan penjual miras oplosan di Jakarta Timur, Jakarta Selatan, hingga Bekasi yang telah memakan korban jiwa. "Kita buat satu satgas (satuan tugas) khusus untuk melakukan penindakan tegas kepada para pengedar dan penjual miras oplosan," kata Idham, Kamis (5/4/2018).
Idham juga mengatakan, pihaknya telah melakukan razia pada para pedagang miras di wilayah hukumnya. Hal itu dilakukan agar tak ada lagi warga yang tewas akibat menenggak miras oplosan. "Saya perintahkan kepada kapolres dan kapolsek untuk mengawasi peredaran miras di wilayahnya masing-masing," kata dia.
Sebelumnya, pihak kepolisian telah menetapkan status tersangka terhadap pemilik warung inisial RS yang menjual miras oplosan di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Solusi Praktis yang Parsial
Permasalahan miras oplosan yang merenggut nyawa, tidak hanya terjadi saat ini, melainkan telah berulang kali terjadi dan merenggut banyak sekali korban akibat pesta miras ini.
.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia WHO, setiap tahunnya lebih banyak orang tewas akibat konsumsi alkohol daripada akibat AIDS, TBC dan kejahatan dengan kekerasan di seluruh dunia. WHO memperingatkan dampak fatal dari konsumsi alkohol. Sekitar 3,3 juta jiwa tewas di tahun 2012 sehubungan dengan konsumsi alkohol yang berlebihan (m.dw.com, 31/08/2015). Di Indonesia sendiri, dalam catatan Gerakan Nasional Anti Miras (Genam), setiap tahunnya jumlah korban meninggal akibat miras  mencapai  18.000 orang. Baru-baru ini, misalnya 14 korban tewas akibat minuman keras oplosan di Jalan Remaja III Nomor 12, Sumur Batu, Kemayoran (sp.beritasatu.com, 2/09/2013). 
Kejadian seperti di atas sudah sering diangkat ke permukaan guna mendapatkan solusi, salah satunya sebagaimana yang disampaikan di atas, yakni menyiagakan berbagai pihak (hingga ke satuan terkecil RT/RW) untuk mengawasi peredaran miras di lingkungannya juga menggalakkan program-program untuk melancarkan kegiatan tersebut.
.
Namun nyatanya itu tidak bisa menghentikan jumlah korban yang berjatuhan akibat miras. Semua miras mengandung bahaya, bukan hanya yang oplosan. Fakta tersebut harus dipahami oleh berbagai pihak. Sangat disayangkan pemerintah Indonesia justru melegalkan penjualannya di tengah masyarakat (walau dengan beberapa catatan), maka tidak aneh jika bapak Wakil Gubernur memberikan solusi untuk menggandeng stakeholder resmi untuk menyelesaikan masalah miras oplosan.
.
Dengan hanya melarang peredaran miras oplosan dan membiarkan miras yang dianggap 'legal' tersebut, maka permasalahan tidak akan pernah selesai. Karena baik miras oplosan ataupun miras yang dijual secara resmi, mereka sama-sama berbahaya untuk masyarakat.
.
Solusi Islam 
Islam mengatur secara paripurna segala masalah umat, termasuk masalah minuman keras.
.
Islam melarang meminum khamr, dalil tegasnya ada dalam QS. Al-Maidah : 90-91, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (Qs Al Maidah : 90-91)
.
Juga hadits dari Anas, ia berkata, "Rasulullah SAW melaknat tentang khamr sepuluh golongan : 1. yang memerasnya, 2. pemiliknya (produsennya), 3. yang meminumnya, 4. yang membawanya (pengedar), 5. yang minta diantarinya, 6. yang menuangkannya, 7. yang menjualnya, 8. yang makan harganya, 9. yang membelinya, 10. yang minta dibelikannya". [HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah]
Hadits di atas menekankan haramnya meminum khamr. Adapun mengenai hukumannya, para ulama sepakat bahwa cambuk adalah hukuman bagi para peminum khamr. Sedangkan tentang jumlahnya, para ulama berbeda pendapat. Imam Malik dan Abu Hanifah mengatakan bahwa hukumannya 80 kali cambuk. Sedangkan Imam Syafi’i dan beberapa Ulama pengikut Imam Ahmad mengatakan hukumannya cukup 40 kali Cambuk. Pendapat ini diperkuat dengan hadits riwayat Husain bin Munzir tatkala Ali menghukum cambuk walid bin uqbah. Rasulullah telah menghukum 40 kali cambuk begitu juga Abu Bakar namun Umar menghukum sebanyak 80 kali cambuk dan yang ini aku lebih suka (HR. Muslim).
.
Hukuman yang sangat tegas, namun efektif. Hukuman di atas berfungsi sebagai penebus dosa bagi yang melakukan, juga sebagai pencegah untuk orang-orang yang melihatnya. Kedua fungsi di atas tidak akan terwujud tanpa adanya Khilafah Islam yang akan menerapkan hukum tersebut. Inilah yang harus diperhatikan, karena saat ini umat masih berada di bawah cengkaman ideologi kapitalis dimana segala sesuatunya hanya diukur dengan uang. Maka dari itu, pemerintah kini sangat kesulitan untuk memutus ikatan dengan para produsen barang haram tersebut. Hingga dibuatlah peraturan untuk membatasi bukan melarangnya. Akibatnya, orang-orang tertentu masih bisa mengaksesnya dan orang-orang yang tidak mampu maka mereka berusaha untuk mendapatkannya dengan cara ilegal ataupun justru meraciknya sendiri, inilah yang menjadi asal mula adanya istilah miras oplosan. 
.
Miras oplosan menjadi sorotan karena mengakibatkan banyak korban yang langsung meregang nyawa setelah meminumnya. Adapun para korban lainnya yang juga tewas karena berbagai penyakit akibat miras, tidak diperhatikan.
.
Sungguh ironis bangsa yang berada di bawah sistem kapitalis ini, ia tidak akan mampu menyelesaikan permasalahan miras secara tuntas selama tidak mau menerapkan syariat islam secara kaffah.
.
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96)
Wallahu a'lam bis shawab

Post a Comment

0 Comments