Miras Menghantui Semua Orang

Oleh : Mulyaningsih, S. Pt (Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK) Kalsel)



Lagi dan lagi, publik kembali digegerkan dengan berita meninggalnya beberapa orang setelah menenggak miras oplosan. Berdasarkan berita yang ada bahwa 8 orang meninggal di Jakarta Selatan, 10 orang di Jakarta Timur, 8 orang di Depok, dan di daerah Pondok Gede sebanyak 2 orang. Kemudian disusul dengan tambahan korban sebanyak 6 orang yang merupakan warga Bekasi Selatan dan Jati Bening. Total hampir 34 korban jiwa yang meninggal setelah menenggak minuman ginseng tersebut.


Kepal Kepolisian Daerah Metro jaya Inspektur Jenderal Idham Azis akan membentuk tim khusus untuk menyelidiki kasus minuman keras oplosan ginseng tersebut. “Iya, saya akan bentuk tim untuk usut kasus miras oplosan,” kata Idham, Kamis 5 April 2018 (metro.tempo.co).
Setelah ditelusuri, ternyata sang pemilik sebelumnya pernah terciduk dalam operasi razia minuman keras. 


Namun kenyataanya beliau dibebaskan sebelum 24 jam. “Pernah ditangkap juga dia di tahun ini, tapi besok paginya sudah keluar lagi. Kan aneh juga ya,” ujar Indra (warga sekitar). Minuman racikan uda tersebut warnanya seperti air seduhan teh, banyak yang mencarinya. Mulai dari anak-anak sampai dewasa, laki-laki maupun perempuan serta anak punk. Ketenaran minuman tersebut menyebar dari mulut ke mulut. Uda biasa menjual minuman ginsengnya itu dengan harga sepuluh ribu rupiah untuk dua gelas. Untuk tiga gelas cukup merogoh koceh lima belas rupiah dan dua puluh ribu rupiah untuk empat gelasnya (m.cnnindonesia.com).


Astagfirullah, begitu mudahnya barang haram tersebut beredar di negeri ini. Dari beberapa korban yang meninggal ternyata ada setidaknya dua orang remaja yang terenggung nyawa sangat disayangkan sekali, tak bisa dianggap sepele. Miras oplosan ini melenggang bebas tanpa ada aturan yang terikat untuknya. Lantas, tak adakah perlindungan nyata dari pemerintah lewat aparat yang berwenang? Akankah generasi penerus rusak oleh oknum-oknum yang tak bertanggung jawab?



Pandangan Islam


Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna, tidak hanya sekedar mengatur masalah ibadah saja. Islam memiliki peraturan yang lengkap, yaitu mengatur hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, dengan dirinya sendiri dan dirinya dengan yang lain. 
Ketika manusia hendak melakukan makan dan minuman maka keduanya termasuk dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Karena Islam punya rambu-rambu yang tegas pada dua hal tersebut. Rambu-rambu tersebut haruslah dijadikan pedoman bagi kaum muslimin dalam kesehariannya. Makan dan minum yang halal saja serta mampu menahan agar tidak menyentuh bagian haramnya. Sebagaimana yang tercantum dalam Fimam Allah SWT.


“ Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang terkecik, yang dipukul, yang jatuh ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali kamu sempat menyembelihnya” (TQS Al Maidah: 3)

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi,(berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (TQS Al Maidah: 90).


Pada ayat diatas tergambar jelas mana makanan dan minuman yang halal bagi kaum muslimin. Dalam hal ini khamr termasuk dalam minuman yang diharamkan. Sehingga tak boleh sedikitpun meneguknya atau memegangnya walaupun dengan kadar alkohol yang sedikit. Jika sudah jelas-jelas haram maka tidak bisa diganggu-gugat lagi, tidak ada toleransi didalamnya.


Ketika syariat Islam diterapkan maka peluang penyalahgunaan akan tertutup. Hal ini dikarenakan pondasinya adalah akidah Islam yang kokoh. Jika akidahnya kuat maka membentuk ketakwaan. Dengannya akan mencegah seseorang terjerumus dalam kejahatan. Baik kejahatan yang berupa mencuri, membunuh, ataupun mengkonsumsi serta mengedarkan narkoba Dengan akidah tersebut maka seorang muslim bisa memilah dan memilih mana yang diperbolehkan serta dilarang oleh Islam. Sejatinya dia adalah benteng pertama dari seseorang, sehingga benar-benar harus tahan terhadap terjangan badai, topan, tiupan angin dan ganasnya api. Berarti negara wajib membina ketakwaan individu (rakyatnya). 


Kontrol masyarakat juga harus berjalan, karena mempunyai andil yang besar didalamnya. Saling nasehat-menasehati serta amar ma’ruf adalah sesuatu hal yang wajib dilakukan. Hal ini tak lain adalah untuk mengokohkan ketaqwaan individu-individu muslim. Ditambah juga harus ada peran negara yang mampu menerapkan sistem yang baik agar terwujud individu serta maasyarakat yang baik pula. Tentunya ini tidak lepas dari sistem atau aturan yang akan diterapkan. 
Aturan Islam bersifat jawabir (pencegah) dan jawajir (penebus). Dengan begitu, maka memungkinkan kepada manusia yang lain tidak akan melakukan hal yang sama. Hal ini dikarenakan sitem persangsian dalam Islam jelas dan tegas. Tidak tebang pilih dan taam kebawah saja. Semua akan diperlakukan sama. Ini adalah gambaran dari pencegahnya. Sedangkan penebusnya adalah ketika manusia sudah terlanjur terjerumus dalam dunia narkoba, ketika dia dihukum dengan sistem Islam maka insya Allah itu akan menebus perbuatannya. Di akhirat dia tidak lagi di siksa karena perbuatannya tadi. Tentunya dengan catatan, harus ada negara yang memang menerapkan sistem Islam secara sempurna.


Hanya dengan penerapan sistem Islam yang dapat memutus rantai peredaran miras tersemasuk narkoba. Sangat mustahil apabila kita akan mewujudkan masyarakat bersih dari narkoba dalam sistem demokrasi transaksional sekarang ini. Hal itu hanya bisa diwujudkan melalui penerapan syariat Islam secara total dengan segenap kesungguhan untuk mewujudkannya. Wallahu ‘alam.[ ]



Mulyaningsih, S. Pt
Ibu rumah tangga
Pemerhati masalah anak, remaja dan keluarga
Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK) Kalsel

Post a Comment

0 Comments