Minimnya Ketentraman di Dalam Rumah Tangga

Oleh : Putri Mayang




Tak habis-habisnya pemberitaan kasus KDRT dalam rumah tangga seharusnya keluarga sejatinya merupakan tempat dimana kita memiliki peran serta mendapatkan ketentraman dan kasih sayang. Tapi faktanya, Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman didunia serta benteng pertahanan untuk generasi penerus, kini mulai dihantui berbagai persoalan rumah tangga yang berdampak pada kehilangan peran bagi anggota kekuarga.

Banyaknya pemberitaan tentang kasus perzinaan dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), semakin menunjukkan bahwa keluarga di Indonesia mengalami permasalahan disfungsi atau kehilangan peran dan fungsi dalam rumah tangga itu sendiri. 

Baru-baru ini Ketua Komnas Perempuan Azriana mengatakan ada 348.446 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dicatat oleh beberapa lembaga terkait pada 2017. KDRT tercatat menjadi kasus dengan angka paling tinggi, yaitu 335.062 kasus. "Dalam kasus ini, pembunuhan terhadap istri, tingginya cerai gugat istri banyak disebabkan oleh situasi rumah tangga yang tidak aman," ujarnya dalam konferensi pers 'Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2018' di Jalan Latuharhari No. 4B, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (7/3/2018) (detiknews.com). 

Permasalahan ini bergulir dari tahun ketahun. Motif kekerasannya pun beragam. Ada yang disebabkan faktor ekonomi, kecemburuan, perselingkuhan dan tempramental. Akibat adanya kekerasan ini kondisi keluarga jauh dari kata tentram dan harmonis. Rasa trauma yang mendalam serta minimnya pengetahuan membuat sebagian besar kaum perempuan mengalami stress dan depresi. Ujung-ujungnya perceraian sebagai langkah terbaik untuk mengakhiri biduk rumah tangga. 

Ketika Ketua Komnas Perempuan Azriana mengatakan ada 348.446 kasus kekerasan terhadap perempuan dan KDRT tercatat menjadi kasus dengan angka paling tinggi, yaitu 335.062 kasus. Maka ini akan terus seperti itu, bergulir terus menerus, karena bukan hanya sekedar kasusnya saja yang harus ditindak lanjuti dengan pihak kepolisan melainkan faktor penyebabnya pun harus dipelajari.

Faktor ekonomi menjadi salah satu faktor pemicu kekerasan dalam rumah tangga. Contohnya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) ini membuat, perekonomian semakin sulit dan tingkat kestabilan emosional terkadang sulit untuk dikontrol, karena himpitan ekonomi mingkatkan stress yang menimbulkan pertengkaran diantara keluarga, bahkan tak jarang berujung pada perceraian, tak tanggung-tanggung hanya karena himpitan ekonomi mampu memicu tindak pembunuhan dalam anggota keluarga. 

Adapun faktor lain penyebab kekerasan dalam rumah tangga adalah, kurangnya pengetahuan tentang persiapan rumah tangga, menjadi faktor pemicu kekerasan dalam rumah tangga, pengetahuan tentang persiapan rumah tangga ini penting agar anggota keluarga memahami peran dan tanggung jawabnya. Gaya hidup sekuler juga menyumbang penyebab kekerasan dalam rumah tangga, karena ketika agama tak lagi menjadi ukuran dalam membangun rumah tangga maka tidak tercipta ketaqwaan individu sebagai ukuran akhlaq dalam adab berumah tangga.

Islam dengan kesempurnaan aturannya mampu memberikan perlindungan dan kesejahteraan bagi ummat muslim. Termasuk perekonomian Islam yang cenderung stabil, yang mampu meminimalisir adanya PHK dan kenaikan harga bahan pokok, sehingga tidak akan terjadi himpitan ekonomi yang bisa memicu stress. Tidak hanya itu, Islam juga memelihara ketaqwaan individu yang mampu menjaga akhlaq individu sebagai tolak ukur serta pengendali perbuatan agar tidak terjadi kekerasan dalam rumah tangga. 

Wallahu a'lam bishowab.

Post a Comment

0 Comments