Mewaspadai Virus Merah Jambu Dikalangan Aktivis

Oleh :  Asma Ridha (Member Revowriter Aceh)



Ngomongin soal virus merah jambu pasti identik dengan kata dan rasa cinta,  dan seakan tak ada habisnya bukan.  Baik di kalangan remaja, orang tua bahkan kakek--nenek juga semangat untuk membahasnya.

Rasa cinta ini adalah naluriah dan kodratnya manusia ingin dicintai dan mencintai. Tapi,  untuk kamu pemuda ataupun pemudi kudu waspada dengan benih-benih ini.  Mengapa?  Tak jarang benih cinta ini membawa petaka. Tidak hanya di kalangan remaja umumnya,  bahkan yang memiliki predikat aktivis Islam pun rasa ini juga mudah terjangkiti dan jatuh pada cinta yang semu. Aktivis Islam yang nota bene aktif mengikuti pengajian saja mudah sekali virus merah jambu ini merasuki,  apatah lagi bagi kamu yang alergi dengan ungkapan majlis ta'lim,  pengajian,  kegiatan Lembaga Dakwah Kampus lainnya.  Maka wajar pandangan terhadap cinta kepada lawan jenis berbeda penafsirannya.  Maka buat kamu yang sudah punya lebel aktivis,  virus cinta ini bisa saja terjangkiti. Karena kesholehannya,  ketawadhuannya, suara yang merdu ketika menjadi imam sholat di mushala kampus,  bahasanya yang lugas ditambah lagi kecerdasan yang mumpuni dan tampang yang memadai bikin hati para wanita semakin jatuh hati. Dan perempuan sering menyebutnya dengan julukan "Ikhwan Sholeh".

Demikianpula di kalangan perempuan. Kesholehannya, kecerdasannya keistiqamahannya ditambah lagi dengan kecantikan wajahnya membuat lelakipun berdesir jantung ketika melihatnya.  Dan lelakipun menyebutnya dengan " akhwat sholehah".

Maka tak jarang para aktivis pun jatuh pada cinta syahwati yang dibungkus dengan cinta Islami.  Seakan taaruf, namun aktivitas tak ubahnya pacaran dua sejoli. Sekalipun tak melakukan aktivitas khalwat,  namun saling chat yang tak pernah henti.  Dengan kedok mengingatkan shalat, shaum sunnah dan tahajud dan berbagai aktvitas lainnya, tak jarang cinta nafsupun hadir di kalangan para aktivis.

Cinta Adalah Naluriah Manusia

Sejatinya tak ada yang salah dengan ungkapan "cinta" ini.  Karena pada hakikatnya Allah swt yang telah menganugerahkan hal ini ada pada diri manusia.  Dan suatu hal yang wajar lelaki menyukai perempuan,  demikian pula sebaliknya perempuan menyukai lelaki. Dan ini adalah manifestasi dari salah satu gharizah na'u (naluri melangsungkan keturunan) yang telah Allah swt anugerahkan pada diri msnusia.

Gharizah na'u adalah naluri yang sejatinya muncul dari faktor luar diri manusia yang berbeda dengan kebutuhan hidup jasmani manusia. Gharizah akan bangkit ketika ada realita atau fakta yang terindera,  bisa pula bangkit ketika adanya imajinasi-imajinasi yang muncul dalam benak seseorang. Dan dari sinilah awal mula virus merah jambu menerpa seseorang, maka tidak salah jika ada ungkapan "cinta datang dari mata dan jatuh ke hati".  Tidak terkecuali bagi para aktivis remaja muslim yang sering berkecimpung dalam kajian-kajian Islam.

Adanya kegiatan yang terkadang menuntut adanya kerjasama antara ikhwan dan akhwat, tak jarang hati keduanya seakan berguncang.  Maka jika itu terjadi,  waspadalah si virus merah jambu telah ada pada diri anda.

Islam Mengatur Tata Pergaulan

Laki-laki dan wanita seakan memiliki daya tarik menarik yang sangat kuat. Maka jika hal ini dibiarkan rasa ketertarikan ini akan jatuh pada lembah kenistaan.  Tak jarang kita mendengar aksi modus (modal dusta) seorang remaja menjadi bagian dari aktivis Islam hanya untuk mencari perhatian seseorang. 

Islam dengan seperangkat aturan dalam pergaulan laki-laki dan perempuan haruslah memenuhi beberapa syarat,  agar si virus merah jambu membawa keberkahan dan ketentraman dunia dan akhirat.

Pertama,  Wajibnya ghadhul bashar (menundukkan pandangan) baik laki-laki maupun perempuan. Sebagaimana Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya : 

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya,

dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". (Q.S : An-Nur : 30)

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ....
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya...." 
(Q.S : An-Nur : 31)

Gadhul bashar di sini adalah menundukkan pandangan dari segala hal yang dapat merangsang syahwat. Termasuk melihat akhwat jilbaber atau ikhwan berjenggot namun jantung berdetak cepat ketika saling jumpa.  Maka sepatutnya untuk menghindar dan menundukkan pandangan. Jika memang sudah mampu untuk menikah,  khitbah adalah solusi utamanya.

Kedua,  tidak boleh berkhalwat (berdua-duaan dengan yang bukan mahramnya). Sebagaimana sabda Rasulullah saw :

لا يخلون أحدكم بامرأة فإن الشيطان ثالثهما

"Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad 1/18, Ibnu Hibban [lihat Shahih Ibnu Hibban 1/436], At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awshoth 2/184, dan Al-Baihaqi dalam sunannya 7/91. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 1/792 no. 430).

Jadi untuk kamu ikhwan dan akhwat,  tak ada alasan apapun untuk terjebak pada aktivitas ini. Sekalipun dalam bentuj forum pengajian, haruslah terpisah antara jamaah laki-laki dan perempuan serta membatasi interaksi keduanya pada hal-hal yang hanya urgent saja. 

Ketiga,  Tidak boleh adanya ikhtilat (bercampur baur antara laki-laki dan perempuan. Dengan alasan rapat koordinasi,  atau kajian rutin, namun tidak adanya pemisah antara lelaki dan perempuan jelas telah melakukan kemaksiatan.

Maka sepatutnya bagi setiap aktivis Islam,  dalam setiap kegiatan yang diadakan adanya pemisah antara jamaah laki-laki dan jamaah perempuan agar hati dan pandangan tidak mudah teracuni virus merah jambu ini dan pada akhirnya merubah niat dan mengurangi pahala.

Keempat, tidak ada istilah pacaran Islami. Dengan alasan tak pernah berjumpa dan melakukan khalwat seakan ada istilah menjadi pembenaran aktivitas pacaran islami.  Interaksi hanya dilakulan via chat atau telepon.  Seyogyanya,  jika sudah ingin menikah dan mampu menikah maka Islam hanya membenarkan melalui khitbah,  taaruf dan nikah.

Namun jika belum mampu maka Rasulullah saw dalam riwayatnya memberi solusi :

"Abdullah Ibnu Mas’ud RA berkata: Rasulullah SAW bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.” [Muttafaq Alaihi]

Sepatutnya bagi setiap aktivis Islam,  generasi sholeh dan sholehah senantiasa memperhatikan pola tingkah laku masing-masing. Karena setiap perbuatan umat manusia wajib terikat dengan hukum syara' dan kelak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT.

Waspada terhadap perkara hati dan virus merah jambu ini.  Terkadang virus ini dapat membawa pelakunya pada jurang kenistaan.  Seyogyanya rambu-rambu diatas dapat menjadi solusi agar interaksi yang terjadi semata-mata hanya mengharap keridhoan Allah swt saja bukan yang lain. Dan para aktivis Islam tidak terjatuh dalam kubangan jatuh cinta semu, namun membangun cinta hingga ke syurga. Tidak bisa dilungkiri aktivis Islam pun juga manusia biasa, yang terkadang lebih berdetak jantungnya melihat akhwat jilbaber dari pada perempuan lain yang umumnya berbusana. Demikianpula para akhwatnya, lebih berdegup jantungnya ketika bertemu ikhwan jenggotan dari pada bejumpa laki-laki biasa pada umumnya. Jagalah hati agar hati selalu murni semata-mata karena cinta kepada Illahi Rabbi. 

Wallahu A'lam bisshawab

Profil penulis
Nama : Asmarida
Asal : Meulaboh/ Aceh Barat

Post a Comment

0 Comments