Merindukan Pemimpin Hebat

Oleh: Heni Nuraini 



Pemimpin hebat sekaliber Umar bin Khattab ra, akankah lahir dalam sistem demokrasi (sistem buatan manusia), inilah sepenggal kisah umar bin Khattab. 

Beliau sudah didoakan oleh Rasulullah saw untuk bisa masuk Islam. Dalam sebuah riwayat dituturkan, “Nabi saw telah berdoa kepada Allah swt, Ya Allah kokohkanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang paling Engkau cintai, dengan ‘Umar bin Khaththab atau dengan Abu Jahal bin Hisyam.” (HR Tirmidziy, dari Ibnu Umar. Shahih)

Inilah doa Rasulullah saw. ketika beliau sangat menginginkan salah seorang dari dua umar tersebut bisa masuk Islam. Ketika itu, keduanya masih dalam kondisi kafir. Mereka juga memiliki kesamaan karakter, bersikap sangat keras terhadap siapa saja yang dimusuhinya. Hingga akhirnya, Allah Swt. mengabulkan doa Rasulullah saw. dengan menjadikan Umar bin Khattab sebagai seorang Muslim. Bahkan lebih dari itu, Umar ra. menjadi pengikut Nabi Muhammad saw. yang setia membela dan memperkokoh risalah Islam seraya tetap memiliki sifat kerasnya, yang sangat keras terhadap musuh- musuh Allah dan RasulNya, musuh-musuh Islam, namun sangat terlihat lembut kepada kaum Muslimin, bahkan lebih lembut daripada perlakuan mereka kepada Umar sendiri. 

Sebagaimana yang dikatakannya, “Kekerasanku hanya berlaku bagi mereka yang menyimpang dari aturanku. Dan bagi mereka yang bersama Allah maka kelembutanku melebihi dari pada saudaraku sendiri” Dialah, Umar bin Khattab yang begitu takutnya menyandang gelar Amirul Mukminin sehingga ia rela hidup secukupnya agar menjadi contoh para gubernurnya agar tidak menjadi pemimpin yang hidup berkemewahan. 

Khalifah Umar ra., pemimpin negara Khilafah yang luas wilayahnya meliputi Jazirah Arab, Persia, Irak, Syam (sekarang: Syria, Yordania, Lebanon, Israel, dan Palestina), serta Mesir, pernah berkata: “Andaikan ada seekor hewan di Irak kakinya terperosok di jalan, aku takut Allah akan meminta pertanggungjawabanku kenapa tidak mempersiapkan jalan tersebut (menjadi jalan yang rata dan bagus).”

Khalifah Umar bin al-Khattab pernah menyita sendiri seekor unta gemuk milik putranya, Abdullah bin Umar, karena kedapatan digembalakan di padang rumput milik Baitul Mal. Ini dinilai Umar sebagai bentuk penyalahgunaan fasilitas negara. Kerisauan Umar ra. yang takut kelak akan dihadapkan pada pengadilan Allah, kemudian beliau risau kalau ditanya tentang rakyatnya. 
Beliau berkata, “Demi Allah kalau benar aku telah berbuat adil terhadap mereka, aku tetap khawatir akan diri ini. Aku khawatir tidak dapat menjawab pertanyaan Allah. Dan risau kalau ada rakyat yang terzalimi olehku, sedangkan aku tidak menyadarinya” 

Umar bin Khattab terkenal tegas dan kukuh dalam berpegang kepada kebenaran. Namun, dalam hal kematian beliau pun senantiasa teringat padanya. Beliau menangis saat mendengarkan ayat-ayat atau peringatan tentang akhirat. Bahkan cincin yang dikenakannya bertuliskan “Kematian itu sudah cukup sebagai peringatan, wahai Umar!” 

Demi menumbuhkan keberanian rakyat mengoreksi aparat, Khalifah Umar bin al-Khaththab di awal pemerintahannya pernah menyatakan, “Jika kalian melihatku menyimpang dari jalan Islam maka luruskan aku walaupun dengan pedang.” Beliau juga mengajarkan para pemimpin di bawahnya, yakni para gubernur untuk tidak menyalahgunakan kekuasaannya. Pernah ‘Amru bin Ash, gubernur yang sangat berjasa menaklukkan Mesir, diberi hukuman cambuk karena seorang rakyat Mesir melapor bahwa dirinya pernah dipukul oleh anak sang gubernur. Orang yang melapor itu sendiri yang disuruh memukulnya. Sungguh adil!
ini dia yang benar-benar ikhlas demi semata mengharap ridho Allah Swt. 

Ketika berkuasa dan memimpin rakyat. Jabatan bukanlah alat untuk menumpuk harta demi memperkaya diri dan keluarganya. Sebab, jabatan adalah amanah. Umar bin Khaththab telah menunjukkan tanggung jawab dan keikhlasannya ketika menjadi pemimpin.

Subhanallah. Luar biasa! Sesuai dengan sabda Rasulullah saw., ”Seorang imam (khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Bagaimana dengan kita saat ini? Mari bersiap diri untuk belajar Islam, mendakwahkannya dan berjuang untuk menegakkannya agar lahir para pemimpin hebat kelak seperti kepemimpinan Umar bin Khaththab r.a.

Wallahu a'lam


Post a Comment

0 Comments