Menjadi Ash-Shiddiq Masa Kini

Oleh : Nor Aniyah, S.Pd



BULAN Rajab memuat sebuah peristiwa sarat makna. Isra Mikraj adalah perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw yang mulia dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan satu peristiwa penting bagi umat Islam. 

Begitu istimewanya Isra Mikraj, peristiwa ini pun terus diperingati sebagian besar kaum Muslim, khususnya di negeri tercinta ini. Tak ketinggalan, kebanyakan masyarakat Hulu Sungai dan sekitarnya, khususnya juga mengadakan acara untuk memperingati berupa kegiatan ceramah agama dalam rangka peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad saw. Baik di tingkat instansi, masjid-masjid, langgar-langgar, dan sekolah-sekolah, kerap bergantian hari untuk mengadakan acaranya. Selalu penuh dengan peserta yang antusias, dari kalangan tua maupun muda.  

Mencoba menuturkan kembali tentang Isra Mikraj. Pada peristiwa inilah, Rasulullah saw mendapat perintah untuk kaum Muslim menunaikan salat lima waktu sehari semalam. Selain itu, Allah SWT juga memperlihatkan berbagai tanda kebesaran-Nya kepada Rasulullah saw. Di antaranya, seperti kendaraan Buraq yang melaju kencang, wilayah seperti Sinai, Golan, dan lainnya yang kelak berhasil ditaklukkan menjadi wilayah kaum Muslim, dan tentang isi neraka, surga, dan para penghuninya. Hingga beliau diangkat ke Sidratul Muntaha berdialog dengan Sang Pencipta, Allah SWT.

Allah SWT menerangkan peristiwa tersebut dalam firman-Nya: “Mahasuci Allah Yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam, dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami memperlihatkan kepada dia sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sungguh Dialah Zat Yang Maha Mendengar lagi Mahatahu.” (TQS. al-Isra' [17]: 1)

Peristiwa Isra Mikraj terjadi setelah Rasulullah saw dan para sahabat menempuh waktu perjalanan dakwah sekitar sebelas tahun. Sebelumnya, berbagai penderitaan dan siksaan terus mendera Rasulullah saw dan para sahabat, seperti difitnah, dipukuli, dijemur di bawah terik matahari, dilempari dengan batu dan kotoran hewan, diboikot berbulan-bulan hingga ancaman mau dibunuh. Namun, di tengah ujian dakwah yang amat berat tersebut mereka tetap menjalani dakwah dengan penuh kesabaran dan keyakinan bahwa suatu saat pertolongan Allah SWT akan datang. 

Ragu, itulah sikap sebagian orang saat menanggapi sebuah peristiwa yang tidak bisa dilihat langsung oleh mata. Tapi, keimanan membuat kita percaya akan hal itu adalah tanda kebesaran dari-Nya, karena dikabarkan oleh al-Amin, Rasulullah saw. Begitulah kita patut mengambil hikmah pelajaran dengan pandangan syariah.

Lantas, makna apakah yang bisa kita peroleh dari peringatan Isra Mikraj ini? Perlu kiranya kita menyimak tulisan Ibnu Ishaq, bahwa “Sungguh pada peristiwa Isra’ yang beliau jalani dan apa yang beliau sebutkan, di dalamnya terdapat ujian, seleksi, dan salah satu bukti kekuasaan Allah. Di dalamnya juga terdapat pelajaran bagi orang-orang berakal, petunjuk, rahmat pengokohan bagi orang yang beriman kepada kekuasaan Allah dan membenarkannya.” (Sirah Ibnu Hisyam, juz 1, hal. 396).

Rangkaian peristiwa Isra dan Mikraj memang di luar jangkauan akal manusia sehingga sebagian orang yang lemah keimanannya malah berbalik murtad karenanya. Keadaan ini pun dimanfaatkan oleh kaum musyrik Quraisy saat itu untuk menghasut kaum muslimin yang masih bertahan dengan keimanan mereka.

Akan tetapi, ketika diprovokasi oleh kaum musyrikin soal Isra Mikraj, sahabat Rasulullah saw yakni Abu Bakar ra malah dengan tegas mempertanyakan sikap kaum musyrik Quraisy yang masih tetap mengingkari kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah saw, “Demi Allah, jika itu yang Muhammad katakan, sesungguhnya ia berkata benar. Apa yang aneh bagi kalian? Demi Allah, sesungguhnya ia berkata kepadaku bahwa telah datang kepadanya wahyu dari langit ke bumi hanya dalam waktu sesaat pada waktu malam atau sesaat pada waktu siang dan aku mempercayainya. Inilah puncak keheranan kalian?”

Setelah itu Abu Bakar mendatangi Rasulullah saw. dan meminta Beliau menjelaskan ciri-ciri Baytul Maqdis. Setelah Nabi saw. menjelaskan dengan lengkap lalu Abu Bakar berkata, “Engkau berkata benar. Aku bersaksi engkau adalah utusan Allah!”. Rasulullah saw. menjawab, “Engkau Abu Bakar adalah ash-shiddiq (yang selalu membenarkan)!”

Sikap Abu Bakar ash-Shiddiq menunjukkan pribadi seorang mukmin yang teguh imannya di tengah arus opini yang hendak merusak keyakinan umat Islam terhadap Rasulullah saw. dan ajaran Islam. Sikap seperti inilah yang selayaknya diteladani oleh kaum muslimin pada hari ini. Saat seruan yang mengajak pada akidah dan penerapan syariah Islam kerap ditolak oleh sebagian kaum Muslim sendiri, bahkan banyak ulama dan dainya dihadang, dikriminalisasi, diserang orang gila, atau dilabeli dengan sebutan radikalisme. Padahal yang mereka sampaikan murni ajaran Islam. 

Mestinya menghadapi hal ini, tidaklah goyah keimanan kita saat kaum yang tidak menyukai dakwah mencoba menghasut dan menyebarkan provokasi yang menyesatkan. Sedikitpun tada keraguan bagi kita terhadap ajaran Islam yang diberikan Allah SWT Yang Maha Baik.

Kalau tidak ada yang meyakini dan membenarkan, maka kejadian besar dalam Islam itu tidak akan berarti apa-apa, tidak akan dikenang diperingati seperti saat ini. Karena itu, ibrah (pelajaran) lainnya yang dapat dipetik dari peristiwa Isra Mikraj yaitu kepercayaan dan ketaatan penuh terhadap Rasulullah saw. 

Kita beriman terhadap ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah saw secara keseluruhan (kaffah). Kita pun wajib mempercayai bahwa pertolongan (nushrah) dari Allah SWT akan segera datang. Seperti pada masa Rasulullah saw, menjadi fakta nyata bahwa tidak lama setelah isra mikraj penduduk Yatsrib masuk Islam, dan perwakilan dari merekalah yang memberikan baiat, menyerahkan ketaatan dan kekuasaan kepada Rasulullah saw. Kemudian beliau hijrah ke Madinah setelah itu berdirilah Daulah Islam di sana. Kemudian setelah Rasulullah saw tiada, penerapan syariah Islam dalam kehidupan terus dijaga dan dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin dan para khalifah setelah mereka. Sehingga, Islam benar-benar bisa tampak membawa rahmatan lil 'alamin.

Firman Allah SWT: “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka; dan akan menukar keadaan mereka -sesudah mereka berada dalam ketakutan- dengan rasa aman.” (TQS. an-Nur [24]: 55)

Menghadapi segala rintangan yang dihadapi saat ini, hendaknya kita selalu meneladani Rasulullah saw dan para sahabat. Sebagai kaum Muslim haruslah percaya, yakin, sabar, dan berharap hanya kepada Allah SWT akan pertolongan-Nya terhadap dakwah. Ingatlah selalu, kabar gembira yang telah disampaikan oleh Rasulullah saw tentang kejayaan Islam yang akan kembali. Semoga peringatan Isra Mikraj yang selalu kita peringati semakin meneguhkan keimanan dan ketaatan, menjadi generasi penyambung Ash-Shiddiq masa kini. Aamiin.[]


*) Pemerhati Masalah Sosial dan Remaja, 
    Penulis dari “Muslimah Banua Menulis” 
    Berdomisili di Hulu Sungai Selatan (HSS), KalSel.







Biodata Penulis:


Nor Aniyah, S.Pd, berdomisili di Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan. Alumnus dari STKIP PGRI Banjarmasin. Saat ini menjadi pembina di Komunitas Remaja Cinta Islam (KRCI), Kalsel dan tergabung di Komunitas “Muslimah Banua Menulis.”
Penulis bisa dikontak lewat email: noraniyah014@gmail.com

Post a Comment

0 Comments