Mengentaskan Kubangan Miras Oplosan

Oleh Ammylia Rostikasari, S.S. (Anggota Akademi Menulis Kreatif)



Terjadi lagi. Puluhan remaja di Cicalengka, Kabupaten Bandung dilarikan ke rumah sakit sehabis menenggak miras oplosan. Sudah miras, oplosan pula. Lengkap sudah keharamannya.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) terkait korban tewas akibat keracunan akibat Miras oplosan sudah mencapai 45 orang di wilayah tersebut.

Berdasarkan data dari Humas RSUD Cicalengka, rumah sakit itu menerima kunjungan 103 pasien keracunan alkohol dari tanggal 6-10 April 2018. Sementara itu, Kepolisian Daerah Jawa Barat merilis korban tewas setelah menenggak minuman keras (Miras) oplosan mencapai 45 orang dalam beberapa hari terakhir (republika.co.id/10/04/2018).

Miris sekali melihat peristiwa serupa yang terjadi berulang kembali. Generasi muda yang seharusnya menjadi harapan bangsa, justru terkapar bergelimpangan karena tergiur menenggak miras oplosan. 
Mengapa hal ini seolah tak bisa diatasi? Apa solusi hakiki untuk bisa menyudahi tragedi Seperti ini?

Pertama, mengokohkan keimanan. Aqidah atau keimanan merupakan pondasi bagi manusia. Keimanan mampu menentukan arah pandang dalam kehidupan. Islam mengajarkan bahwa kehidupan manusia semata-mata untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala. Sehingga ketika generasi bangsa tahu betul apa tujuan hidupnya, ia tidak akan galau arah dalam menentukan arah pergaulan. Apalagi sampai berkumpul dan ramai-ramai menenggak miras oplosan.

Bagaimana langkah untuk mengokohkan aqidah? tak lain adalah dengan mengkaji Islam. Dengan aktivitas mulia tersebut, generasi bangsa akan paham betul bahwa Islam merupakan agama sekaligus pandangan hidup yang sempurna. Ia tak akan mudah terombang-ambing paham kebebasan yang menenggelamkannya dalam kubangan miras oplosan.

Kedua, kontrol masyarakat. Islam mendefinisikan masyarakat sebagai kumpulan dari individu yang memiliki pemikiran, perasaan dan aturan yang sama. Basis Islamlah yang mampu menghasilkan kontrol optimal di tengah masyarakat. Di mana aktivitas mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran bisa berjalan maksimal guna menciptakan kemaslahatan. Peran orang tua pun sangatlah dibutuhkan. Orang tua mestilah berperan aktif dalam mengawasi pergaulan anak-anaknya supaya tidak terseret arus kebebasan. Sehingga butuh membangun sinergitas orang tua dan anak dalam menangkal paham kebebasan agar hidup tak salah jalan 

Jauh berbeda saat pemisahan agama diterapkan. Masyarakat menjadi abai terhadap kontrolnya. Kebebasan telah menjadi nafas dalam kehidupannya. Menyeru kepada kebaikan dipersulit, mencegah kemunkaran pun dibenturkan dengan penerapan aturan. Tak heran jika segala kemaksiatan dapat melenggang karena longgarnya perhatian masyarakat. 

Ketiga, butuh penerapan aturan yang sahih. Miras di negeri ini bukanlah barang yang dilarang. Adanya miras di negeri ini hanyalah diatur peredarannya. Hal demikian, karena kebijakan yang dijalankan bersumber dari paham sekuler yang sarat akan kebebasan. Miras dipandang sekadar dari kaca mata kemanfaatan. Apalagi ada.pundi-pundi yang menggiurkan yang akan masuk jadi pendapatan negara.

Berbeda dengan Islam, miras dikategorikan sebagai sesuatu yang diharamkan. Sebagaimana yang difirmankan Allah subhanahu wata’ala.
 “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan." (QS. Al Maidah : 90)
Begitu juga sabra Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasalam.
 لايدخل الجنّة مد مّن خمر
“Tak akan bisa masuk surga orang yang suka meminum khamar." (HR. Ibnu Majjah)

Menanggulangi zona darurat miras butuhlah dengan penerapan aturan yang sahih. Aturan yang lahir dari Sang Maha Pencipta, bukan aturan yang lahir dari logika manusia yang penuh dengan cacat cela.

Islam sebagai agama sekaligus sebagai pandangan hidup yang sempurna. Adanya mencakup hubungan manusia dengan Khaliknya dalam aspek ibadah. Adanya juga mencakup hubungan manusia dengan sesamanya dalam aspek sosial, ekonomi, politik, pendidikan, hukum juga budaya. Pun adanya Islam juga mencakup dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri dalam aspek makanan, minuman, pakaian dan akhlak. Standarnya jelas dan baku yaitu hal dan haram. Orientasinya kehidupan akhirat yang kekal, bukan kebahagian dunia yang fatamorgana.

Cukuplah dengan merujuk kembali kepada solusi Islam, semua permasalahan akan dapat dipecahkan. Menerapkan Islam secara kaffah dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah. Insyaallah, Indonesia bukan hanya keluar dari zona darurat miras. Namun, Indonesia dan negeri-negeri lainnya akan keluar dari setiap problematika yang menyengsarakan umatnya. Berkah melimpah datang kala khilafah tegak kembali di muka bumi. 
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (Surat Al-A’raaf : 96)
Wallahu’alam bishowab

Post a Comment

0 Comments