Mengapa Hanya Kartini Yang Dikenang?

Oleh : Asma Ridha (Member Revowriter Aceh)



Tanggal 21 April adalah tanggal yang unik bagi kaum perempuan.  Semua kalangan mulai dari anak-anak, remaja dan orang dewasa bersuka cita menyambut hari ini.  Dengan khas sanggul dan konde serta kebaya menjadi tradisi yang dikenakan oleh kaum perempuan. Bagaimana tidak,  beliau dianggap sebagai tokoh yang memperjuangkan kaum perempuan di negeri ini, tanggal ini dikenang sebagai kelahiran ibu Indonesia yakni Raden Ajeng Kartini. 

Namun sayangnya sosok beliau dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk mengkampanyekan emansipasi wanita, yakni mendorong kaum wanita agar diperlakukan sederajat dengan kaum pria, diperlakukan sama dengan pria. Padahal kodrat pria dan wanita berbeda, demikian pula peran dan fungsinya. Beluau dikenang sebagai ibu emansipasi wanita. Maka sewajarnya,  dunia hanya mengenang beliau. Amat disayangkan ketika hanya mengenang pada aspek emansipasi yang diajarkan. Bisa jadi,  Ibu Kartini tidak bermaksud demikian.

Kartini mengenal Islam

“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902).

“Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka Kristenisasi? …. Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri untuk memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?” (Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 31 Januari 1903).

Demikianlah catatan sejarah mengukir Ibu Kartini yang mulai menaruh hati mendalami Islam. Bahkan Kartini bertekad untuk memenuhi panggilan surat Al-Baqarah:193, berupaya untuk memperbaiki citra Islam selalu dijadikan bulan-bulanan dan sasaran fitnah. Dengan bahasa halus Kartini menyatakan: “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.” (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli )

Berikut kutipan surat Kartini yang menunujukkan bahwa beliau tidak ada tujuan untuk menyetarakan posisi laki-laki dan perempuan.  Melainkan perempuan itu adalah makhluk mulia yang sewajarnya berhal mendapat pendidikan yang layak. 
“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902].

Inilah gagasan Kartini yang sebenarnya, namun kenyataannya sering diartikan secara sempit dengan satu kata: emansipasi. Sehingga setiap orang bebas mengartikan semaunya sendiri.

Perempuan Mulia Pejuang Islam

Sepatutnya negeri ini jangan hanya mengenang heroiknya Iby Kartini. Jauh sebelum Ibu Kartini ada,  sejarah telah mencatat ada dua wanita mulia yang telah menyaksikan langsung dan ikut dalam politik Rasulullah saw yaitu Ummu Imarah RA dan Ummu Mani' Asma' binti Amr RA.

Tulisan ini saya fokuskan pada sepak terjang Ummu Mani' yang nyaris terlupakan dan jarang orang mengangkat kisah beliau. Padahal, Ummu Mani' memiliki kiprah yang luar biasa dalam perjalanan dakwah Islam pada permulaannya. Beliau adalah perempuan kedua yang diutus oleh kaum Anshar dari Yatsrib menuju Mekkah untuk berbaiat pada Rasulullah saw.

Ummu Mani' RA rela menanggung segala beban dan bersusah payah hanya untuk berjumpa Rasulullah saw. Setelah berjumpa dengan Mush'ab bin Umair, keislaman beliau semakin kuat dan menjauhkan segala kejahilan dan kebersihan hati yang ada pada dirinya. Ummu Mani' adalah perempuan yang pertama ikut andil dalam menyebarkan Islam.

Ummu Mani' atau dikenal Asma' binti Amr bin Addi adalah ibunda dari Muadz bin Jabal. Dan Muadz pun ikut andil pada saat baiat aqabah kedua dan berjumpa langsung dengan kekasih Allah swt Rasulullah saw.

Sejarah mengenang kiprah Muadz yang sangat mahsyur dan selalu dipercaya oleh Rasulullah saw. Dikenal sebagai sebagai ahli fiqih, mujtahid, mujahid dan seorang mufti.

Tentang keilmuannya ini, sahabat Umar bin Khatab berkata,” Andaikan Muadz tidak ada, aku bisa celaka.” Muadz seperti Umar bin Khatab adalah sahabat yang menjunjung tinggi fungsi akal dan berani mengeluarkan ijtihadnya. Dalam suatu dialog disebutkan Rasulullah saw bertanya,” Wahai Muadz bagaimana atau dengan apakah kamu akan memacahkan persoalan agama?” Muadz menjawab,” Aku akan merujuk kepada Kitab Allah.” Kemudian rasulupun bertanya lagi,” Andaikan kamu tidak mendapat jawabannya dari Kitab Allah?” Muadzpun kemudian menjawab,” Aku akan mencari jawabannya di Sunnah Rasul-Nya.” Rasulullah bertanya lagi,” Andaikan kamu tidak menemukan jawaban dalam Sunnah Rasul-Nya?” Dengan tegas Muadz bin Jabal menjawab,” Aku akan berijtihad dengan pendapatku sendiri.” Mendengar jawaban tersebut Rasulullah tampak cerah seraya berkata,” Segala Puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada utusan Rasuln-Nya.”

Inilah sosok buah hati Ummu Mani'. Didikan sang Ibu menjadikan sosok Muadz pemuda tangguh pembela Islam. Ummu Mani' juga pernah ikut dalam perang khaibar. Beliau rela menempuh perjalanan selama tiga hari menuju khaibar. Beliau ada di barisan belakang sebagai juru rawat pasukan yang terluka. Begitu alotnya perang khaibar banyak pasukan yang terluka. Dan Ummu Mani' dengan ikhlas merawat mereka .

Inilah sosok perempuan tangguh yang sepatutnya dikenang dan dijadikan ikhtibar.  Permulaan Islam adalah masa-masa yang sangat sulit. Namun perempuan mulia ini hadir dengan keimanan dan kesadaran politiknya berani menjumpai Rasulullah saw di tengah malam,  dan dengan gigihnya siap terjun di medan pertempuran.

Jika bukan karena kesadaran politiknya,  tentulah tidak akan ada sejarah perjuangannya.  Bukan dalam rangka emansipasi,  namun keterlibatan dalam perpolitikan semata-mata adalah perintah Allah swt saja. Sehingga sepak terjangnya terbukti sebagai perempuan mulia dalam perkembangan dakwah Islam.

Dan sebagai Ibu perempuan mulia ini berhasil mendidik anak dan menoreh jiwa tangguh, pribadi pejuang, pribadi politisi yang namanya dipuji oleh Rasulullah saw.

Sepatutnya, kisah ini menjadi inspirasi utama bagi perempuan sekaligus Ibu. Sehingga tidak ragu untuk mengambil bagian dan mengambil posisi paling depan dalam perjuangan dakwah Islam. Dan melahirkan serta mendidik putra putrinya hanya dengan spirit Islam saja.

Walahua'lam bisshawab.

Post a Comment

0 Comments