Mendidik Anak Laki-laki Lebih Sulit?

Benarkah mendidik anak laki-laki lebih sulit dibanding mendidik anak perempuan? (Ibu Nur, Bandar Lampung).

JAWABAN :

Tidak tepat bila dikatakan lebih sulit mendidik anak laki-laki dibanding anak perempuan. Akan tetapi, mendidik anak laki-laki memang berbeda dengan mendidik anak perempuan. Sebab Allah menciptakan keduanya berbeda. Bentuk fisiknya berbeda, peran dan tanggungjawabnya juga berbeda.

Laki-laki dengan bentuk fisiknya, memang dipersiapkan oleh Allah untuk pergerakan cepat di luar rumah. Diantaranya untuk memikul tanggung jawab jihad dan tanggung jawab nafkah. 

Butuhnya kaum perempuan terhadap toilet tertutup, adalah kenyataan yang menunjukkan bahwa kaum perempuan lebih lambat untuk pergerakan di luar rumah. Oleh karena itu, harus disadari bahwa disain fisik laki-laki adalah, disain terbaik dari Allah, untuk menopang pergerakan cepat mereka di luar rumah.

Selanjutnya, Allah melengkapi untuk laki-laki batas aurat yang lebih sedikit dibanding perempuan. Yaitu antara lutut dan pusar. Hukum yang menjadikan laki-laki tetap memiliki fleksibilitas yang tinggi untuk bergerak bebas di luar rumah.

Inilah laki-laki, yang dibebani Allah dengan tanggungjawab besar kepemimpinan. Mereka adalah pemilik kekuasaan di rumah dan berhak memangku kekuasaan di masyarakat.

Allah berfirman tentang kepemimpinan laki-laki dalam rumahnya, dalam surat an-Nisa’ (4) ayat 34, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.”

Dan Nabi SAW bersabda tentang hak kaum laki-laki dalam kekuasaan (ulil amri) dalam masyarakatnya, “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan kekuasaan kepada kaum perempuan.” (HR. Al Bukhari) 

Dari sini, kita bisa mengerti bahwa mendidik anak laki-laki memang berbeda dengan mendidik anak perempuan. Mendidik anak laki-laki adalah mempersiapkan mereka untuk mengarungi lapangan kehidupan di luar rumah. Dan mempersiapkan mereka memikul tanggungjawab sebagai seorang pemimpin.

Tanggungjawab seorang pemimpin secara garis besar ada dua, mengurusi (ri’ayah) dan melindungi (junnah). Dua tanggungjawab ini mengharuskan seseorang sigap, penuh inisiatif, peka terhadap bahaya lingkungan, dan berani mengambil keputusan.

Berlari, memanjat, melompat, bergelantungan dsb adalah cara untuk melatih kesigapan dan daya refleks. Ketrampilan ini sangat penting bagi seorang pemimpin. Maka tak perlu heran, bila anak laki-laki sangat menyukai kegiatan ini. 

Selanjutnya eksplorasi. Setiap anak, baik laki-laki maupun perempuan, ketika mendatangi suatu tempat yang baru, umumnya akan melakukan ekplorasi lingkungan. Akan tetapi ada perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan. Anak perempuan akan membatasi eksplorasinya sejauh pandangan orang tuanya. Artinya masih dalam batas zona aman. Sementara eksplorasi anak laki-laki umumnya, hingga hilang dari pandangan orang tuanya.

Insting sebagai pelindung akan mendorong anak laki-laki mengamati seluruh sudut tempat baru tersebut, dan memastikan bahwa tempat tersebut aman baginya dan bagi orang lain yang bersamanya. Jangan heran, terkadang ia akan memanjat pagar, untuk memastikan kokohnya pagar itu, terkadang ia melompati parit untuk memastikan bahwa parit itu bisa dilalui, dst.

Selanjutnya, anak laki-laki suka melakukan hal-hal baru yang tak lazim. Jangan cemas. Itu merupakan salah satu cara baginya untuk mengasah kemampuannya mengambil keputusan dan keberanian menjalaninya. Bukankah Muhammad al Fatih berhasil menaklukkan konstantinopel, setelah beliau mengambil keputusan yang tak lazim? Mendorong kapal melewati gunung?

Inilah tantangan pendidikan untuk anak laki-laki. Tugas ibu adalah menjadi madrasah bagi mereka. Ibu harus telaten memberi penjelasan yang tepat dan memuaskan nalar kanak-kanak mereka, hingga mereka mampu memahami dan mengukur aktivitasnya. Mampu menjauhkan diri dari tindakan yang membahayakan.

Ibu bukan alarm yang hanya berbunyi “jangan”, ketika anak laki-lakinya melakukan hal yang membahayakan, tanpa memberi penjelasan yang memuaskan. Jadilah madrasah, hingga kita bisa mengolah potensi lebih yang Allah berikan pada anak laki-laki kita, menuju apa yang Allah inginkan; bergerak cepat di luar rumah dan menjadi seorang pemimpin.

Wallahua’lam


Dijawab oleh Ustadzah Deasy Rosnawati, S.T.P

Post a Comment

0 Comments