Mapping our Life

Oleh : Siti Rahmah 



Untuk meraih sebuah tujuan kita butuh proses, proses yang harus di lalui diantaranya pertama perlunya pemetaan, yang kedua perlunya pelaksanaa. Kedua hal inilah yang akan memudahkan kita dalam meraih tujuan. Bagi seorang muslim menentukan tujuan hidup adalah hal yang paling penting bahkan menjadi bagian dari proses berfikir dalam membangun akidah. Jika seorang muslim memiliki akidah yang benar tentu dia akan menjadikan Ridho Allah sebagai tujuan tertingginya. Dia tidak akan terlena oleh kemilau dunia yang fana karena dia memahami dunia hanya semata - mata tempat singgah sementara. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw, "Jadilah engakau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan menjadi seperti orang yang sekedar lewat". (HR. Bukhori)

Dalam hadits tersebut di gambarkan bahwa hendaknya manusia menjadikan dunia ini sebagai tempat sementara, bukan tujuan, bukan akhir dari hidupnya apalagi terlena di dalamnya. Maka harusnya manusia seperti orang asing yang hanya sekedar singgah. Menjadikan dunia hanya sebatas perantauan sehingga dia tidak merasa senang dengan perantauannya. Orang asing yang hanya sekedar lewat akan memahami bahwa mereka pergi hanya sekedar sementara, mereka menyadari bahwa semua akan mereka tinggalkan dan mereka merindukan berkumpul kembali di tempat asalnya, syurga.

Seorang muslim yang sudah memahami peta kehidupan dia akan menjadikan dunia hanya sebagai ladang untuk mengumpulkan bekal kepulangannya. Dia tidak akan bersedih sekalipun harus terasing demi meraih tujuan haqiqinya. 

Bagi orang beriman mungkin saja dunia akan terasa bagaikan penjara, yang mengekang hawa nafsunya dan kerangkeng ambisi - ambisinya, sebagaimana di gambarkan oleh Rasululloh dalam hadits, "Kehidupan dunia adalah penjara bagi seorang mukmin dan surga bagi orang kafir". (HR.Muslim)

Karena kesenangan orang kafir hanya mereka peroleh di dunia, sedangkan bagi seorang muslim, kesulitan yang mereka hadapi di dunia itu hanya sementara jika dia bersabar dengan semua itu maka ada tempat kembali yang indah yaitu syurga. 

Begitupun bagi seorang muslim yang di berikan kesenangan di dunia ketika itu di jalankan dalam kiridor ketaatan maka ada balasan yang lebih menyenangkan di banding kesenangannya di dunia. Itulah makna dunia ibarat penjara bagi kaum muslim karena balasan Allah, SyurgaNya Allah yang Allah sediakan bagi orang beriman jauh lebih Indah dan menyenangkan di banding kesenangan dunia. Untuk itu Abu Bakar Ash shiddiq shahabat tercinta yang begitu mencintai Rosululloh pernah berdoa; "Ya Allah jadikanlah dunia di tangan kami bukan di hati kami".

Harga Kebahagian Dunia

Tentu tidak berlebihan ketika saat ini manusia berlomba - lomba untuk mendapatkan kebahagian, karena sejatinya itulah yang di cari. Orang akan mengorbankan apapun dan melakukan apapun demi mendapatkan kebahagian. Hanya saja ada yang berbeda dalam menentukan standar kebahagian. Perbedaan ini yang menjadikan manusia banyak yang lupa dengan tujuan. Kebanyakan manusia beranggapan kebahagian adalah ketika dia bisa mendapatkan apapun dalam hidupnya. Apalagi di era masyarakat yang konsumtif dan kehidupan hedonis menjadi life style, mereka mengukur kebahagian berada pada banyaknya harta yang di dapatkan. 

Ketika terpenuhinya materi, harta yang berlimpah dan semua itu menjadikan kita bahagia tentu tidak salah hanya saja itu adalah kebahagian semu, sementara dan sesaat. Karena pada hakikatnya bagi seorang muslim akan memahami kebahagian di dunia tidaklah ada nilainya jika di bandingkan dengan kebahagian akhirat, sebagaimana di sampaikan dalam sebuah hadits; " Tidaklah dunia jika di bandingkan dengan akhirat, kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukan sebuah jarinya kedalam lautan, maka hendaklah ia melihat apa yang ia bawa oleh jarinya tersebut ketika diangkat." (HR.Muslim)

Itulah harga kebahagiaan dunia di banding akhirat, bagaikan setetes air diantara lautan, sungguh hanya secuil tidak ada apa - apanya. Oleh karena itu bagi seorang muslim hendaknya menjadikan kebahagiaan haqiqi berada pada Ridho Allah sebagai buah dari ketundukannya pada perintah Allah yang akan membuat hatinya di liputi kebahagian dan ketenangan. 

Akhir Sebuah Perantauan

Semua yang berawal pasti berakhir, semua yang hidup pasti akan mati. Sebagiamana di jelaskan dalam Al Qur'an Allah SWT berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗ وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami."(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 35)

Lama perjalanan manusia dalam mengarungi kehidupannya di dunia saat ini rata - rata kisaran usia 70 tahun, bahkan Rosululloh yang mulia wapat di usia 63 tahun. Betapa singkat betapa sebentar sebagimana di gambarkan dalam Al Quran Allah SWT berfirman:

قٰلَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِى الْاَرْضِ عَدَدَ سِنِيْنَ

"Dia (Allah) berfirman, Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di Bumi?"(QS. Al-Mu'minun 23: Ayat 112)

قَالُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَسْـئَـلِ الْعَآدِّيْنَ

"Mereka menjawab, Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada mereka yang menghitung."(QS. Al-Mu'minun 23: Ayat 113)

قٰلَ اِنْ لَّبِثْـتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا لَّوْ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

"Dia (Allah) berfirman, Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar saja, jika kamu benar-benar mengetahui."(QS. Al-Mu'minun 23: Ayat 114)

Betapa singkatnya perjalanan hidup di dunia, apalagi jika kita menengok pada gambaran kehidupan di alam kubur, di padang mahsyar yang begitu panjang dan di akhirat yang abadi. Tidaklah waktu yang di berikan Allah di dunia hanya sesat, tapi yang sesaat ini menjadi penentu kehidupan yang abadi. Sudahkah kita memiliki bekal untu perjalanan panjang itu? Sudahkah kita mempesiapkan amal untuk kita bawa pulang? Sudahkah tenggat waktu yang Allah berikan kita gunakan sebagai ladang amal yang kelak di akhirat bisa kita panen? ataukah justru kita terlena dengan kehidupan dunia ini sampai akhirnya ajal datang dan menjadi pemutus semua kenikmatan. 

Ketika manusia sudah mengetahui betapa melenakanya dunia, betapa fana dan tidak lamanya dunia. Bahkan semua yang di lakukan di dunia ada timbangan amal di sisi Tuhannya maka muslim yang cerdas adalah yang mempersiapakan perbekalan untuk kehidupan abadinya, orientasinya adalah akhirat. Dia tidak akan menukar kebahagian haqiqinya dengan kebahagian semu. 

Waallahu alam

Post a Comment

0 Comments