(Lagi) Miras Oplosan Memakan Korban

Oleh : Fitri Hidayati, S.Pd



JAMAN now remaja nakal, ahh.. itu sudah biasa!! . Pergaulan bebas, mabuk-mabukan, hampir menjadi pemandangan yang bukan aneh lagi di setiap ujung gang, kampung, atau kota. Bagi yang melihatnya beraduk rasa galau, khawatir, miris, bahkan tak habis pikir mau jadi apa generasi ini. Mulut berbau alkohol, penampilan acak-acakan, sebagian tergeletak di jalan tak sadarkan diri, pulang ke rumah larut malam bahkan tak jarang pulang pagi. Boro-boro kerja atau belajar buat ujian besuk, selera mencari ilmu saja sudah hilang, masyaAlloh.
Gaes, sudah benar-benar tidak sayangkah kalian kepada hidup kalian sendiri?. Kalian telah merusak hari-hari kalian dengan perbuatan yang menghancurkan. Sudah tidak menarikkah untuk bermimpi mempunyai masa depan yang lebih cerah dan bermakna?. 


Sungguh itu merupakan pertanyaan-pertanyaan tak berjawab ketika harus dihadapkan kejahiliahan berpikir yang makin menggila. Bagaimana tidak, keharaman dan kemudhorotan minuman keras “khamr” masih dianggap kurang memberi sensasi sehingga harus mengoplos miras dengan bahan berbahaya seperti obat-obatan sampai obat nyamuk, tinner, bahan spiritus , dan lain-lain bisa kita bayangkan bagaimana reaksi buruk tubuh kita, ketika kita memperlakukannya di luar sunnatullohNya. Tak heran, termuat kabar 11 warga Cicalengka tewas mengenaskan setelah menenggak miras oplosan, pasangan kekasih meregang nyawa dengan sebab yang sama setelah gaul bebas. Tak rindukah kalian untuk menjumpai ajal kalian dalam keadaan husnul khotimah?.


Persoalan selanjutnya siapa yang harus bertanggung jawab dan siapa yang harus di salahkan. Remajakah, keluargakah, sekolahkah, budayakah, atau mediakah yang semakin banyak berkontribusi pada pemikiran remaja. Kalau kita urai memang seperti mengurai benang kusut. Jika kita enggan atau malas mengurainya, maka yang ada hanya sikap apatis dan pragmatis. Marilah kita sedikit lebih cermat dan dalam mengurai persoalan ini. terdapat benang merah untuk mencari penyebabnya. Tentu saja, semua unsur baik remaja, keluarga, budaya, media komunikasi jelas memberi kontribusi sebab pada persoalan ini. Namun, bukankah hal- hal tersebut bukan terjadi dengan sendirinya. Minimnya pemahaman agama di kalangan remaja karena belajar agama hanya untuk mencari nilai, sekolah masih rapuh dalam pendidikan karakter karena dihantui dengan HAM, budaya permisif serba boleh menjadi lampu hijau remaja bebas berperilaku, media komunikasi hampir tanpa sensor menginspirasi perilaku destruktif. 


Yang kesemuanya terdapat muara penyebab yaitu lemahnya sikap dan kontrol sistem yang ada. Seperti menepuk air di dulang terpercik muka sendiri, perda miras yang membolehkan miras membuat pabrik-pabrik terus berproduksi, toko-toko, swalayan, dan mall-mall tak perlu sungkan menjual barang haram ini, nah lhoh. Kiblat sekuler barat menjadikan negara gamang untuk menanamkan nilai baik-buruk pada sendi - sendi penopang masyarakat. 


Bukankah agama telah mengajarkan kepada kita tentang keharaman minuman keras “khamr”. Firman Allah dalam Al Qur'an: "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan." (QS. Al Maidah : 90). 


Sungguh tak patut bagi seorang muslim bersikap meringankan kemaksiyatan apapun, sebagaimana khutbah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu untuk mewaspadai terhadap arak karena sesungguhnya minum arak merupakan induk segala perbuatan tercela. Yang dikisahkan bahwa ada seorang laki-laki yang rajin ke masjid. Kemudian terjebak pada seorang wanita dengan memberi pilihan berzina, membunuh bayi, atau minum minuman keras. Dengan memilih minum minuman keras yang di anggap ringan. Namun apa yang terjadi kemudian laki-laki tersebut setelah meminum minuman keras, berzina dan membunuh bayi itu. Naudzubillah tsumma naudzubillah,

Post a Comment

0 Comments