Lagi-lagi Syariat Islam dilecehkan, Umat Islam Kembali Meradang

Oleh : Suci Hardiana Idrus



Kini umat Islam kembali dibuat marah terkait sebuah Puisi yang di bacakan oleh Sukmawati Soekarnoputri yang berjudul "Ibu Indonesia" di acara pagelaran busana 29 tahun Ane Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018. Isi puisinya menuai hujatan yang dialamatkan kepada syariat Islam. Dalam puisinya ia secara blak-blakan menyinggung masalah cadar, kerudung serta suara adzan, yang menurutnya lebih indah dari sarikonde maupun kidung Ibu Indonesia. Tak memakan waktu lama selang puisi dibacakan, reaksi sejumlah masyarakat terkhususnya umat Islam itu sendiri berlomba-lomba menyampaikan surat terbuka untuknya, sejumlah kritik dan kekesalan melimpah ruah di media sosial dan juga media berita lainnya. 

Bagaimana tidak, mayoritas masyarakat kembali menginginkan agar Ibu Sukmawati Soekarnoputri agar menjalani proses pengadilan sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) atas penistaan agama yang menyinggung surah al-Maidah terkait haramnya umat Islam memilih pemimpin dan dipimpin oleh pemimpin kafir. Bagi umat Islam, penistaan agama kali ini jauh lebih sadis dibanding yang kemarin, dan mengharapkan pihak yang berwenang untuk segera memproses kasus tersebut. Selain itu, Ikatan Advokat Muslim minta Sukmawati belajar dari kasus Ahok, yang telah dikutip di detikNews pada (Selasa, 3 Maret 2018).

Lagi-lagi! Pelecehan terhadap syariat Islam kembali terjadi. Kekecewaan kembali merasuki hati umat Islam, tatkala yang menista adalah saudara seagamanya sendiri, yang juga bukan dari masyarakat biasa melainkan anak dari seorang presiden pertama Indonesia, juga saudari kandung dari presiden keempat Republik Indonesia, yang selayaknya memberi contoh dan teladan yang baik bagi masyarakat, khususnya wanita dengan taat pada aturan agama yang diyakininya dengan menutup aurat sebagai salah satu bukti ketakwaan. Bukan sebaliknya merendahkan martabat Islam dengan menista syariat-Nya. Membandingkan sesuatu hal yang tak pantas dibandingkan satu sama lain. Warisan Ibu Indonesia berbeda dengan warisan Allah. Tak mesti dicaci, tapi ditoleransi. Dimanakah ciri khas Indonesia yang sarat dengan toleransi?

Sampai kapan Islam akan terus terpojokkan, terlecehkan, dan terdiskriminasi di kalangan mayoritas sendiri? Mengapa hal yang sama selalu terulang kembali? Tidak lain karena lemahnya sistem pemerintahan Demokrasi yang diterapkan pada saat ini. Yang melepas dari dari tanggungwajab dalam mengurusi urusan umat. Sehingga syariat Islam mudah dinodai, ditambah lemahnya hukum yang memberi efek jerah terhadap para pelaku kejahatan khususnya para pelaku penista agama. Solusi atas masalah ini hanya akan selesai jika Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, yang sejatinya Islam menjunjung tinggi toleransi atas sesama dalam hal perbedaan. Dan menghukum pelaku tindak kejahatan sesuai hukum Islam demi memberi efek jerah agar tak berani mengulang kesalahan untuk kesekian kalinya.

Post a Comment

0 Comments