Krisis Ekonomi, Utang Luar Negeri Bikin Ngeri

Oleh : Suci Hardiana Idrus  



Betapa terkejutnya kita saat mengetahui utang luar negeri menyentuh angka yang begitu fantastis. Sungguh menjadi ancaman bagi Indonesia apabila tak mampu melunasi semua utangnya. Dilansir dari Kompas.com (21 Maret 2018), bahwa Utang Luar Negeri Indonesia kini telah mencapai Rp7.000 triliun.  


Sejak setahun yang lalu, Pengamat ekonomi-politik Ichsanuddin Noorsy mengingatkan, Bank Dunia telah menempatkan utang luar negeri Indonesia di level bahaya. Sebab, fluktuasinya sudah di atas 30 persen. (teropongsenayan.com, 14/7/2017).  


Menurut Ichsanuddin, jika beban utang luar negeri suatu negara itu fluktuasinya mencapai 30 %, maka dalam level bahaya. Sementara Bank dunia menempatkan Indonesia pada level tersebut, (fluktuasi beban utang luar negeri sebesar 34,08%). Dan, selama negara didikte oleh asing, maka Indonesia sampai 2040 tak akan mampu menghadapi kekuatan asing.  


Adapun negara-negara yang memberi pinjaman kepada Indonesia adalah: Singapura (58 M dollar AS), Jepang (31 M dollar AS), Belanda (11 M dollar AS), Amerika Serikat dan lain-lain.  



Ironi! Indonesia adalah negara yang begitu kaya akan sumber daya alam, baik di darat maupun di laut. Pertanyaan besar dari rakyat adalah mengapa utang Indonesia bisa sampai mencapai angka yang luar biasa? Lalu kemana hasil kemanfaatan dari sumber daya alam kita?  


Berbicara sumber daya alam, mungkin kita adalah ahli waris yang tersingkir dari tanah warisan. Sebagian besar, kalau tidak mau disebut semua, sumber daya alam kita telah berubah kepemilikan kepada swasta asing. Koordinator Indonesian for Transparency and Akuntability (Infra) Agus Chaerudin, mengungkapkan, hampir semua sektor migas dan minerba di Indonesia baik, di wilayah barat hingga kawasan timur, di pulau-pulau besar, kepulauan-kepulauan kecil hingga di laut lepas sudah dikuasai oleh perusahaan asing.  


Sungguh ini semua merupakan buah atau akibat dari diterapkannya sistem demokrasi. Dalam sistem demokrasi, apapun boleh dilakukan.  Apakah halal atau haram, tercela atau terpuji semua boleh asal disepakati bersama. Mengapa hutang indonesia setiap tahun bertambah walau setiap tahun diangsur? Jawabannya karena hutangnya senantiasa berbunga. APBN akhirnya tersedot untuk membayar pokok hutang dan bunganya. Padahal dalam islam sudah jelas, hutang dan bunga hutang hukumnya haram.    


Demikianlah, pemerintah akan terus kalang kabut menuntaskan masalah utang. Bermuamalah dengan sistem ribawi awalnya saja memberi mafaat, namun mendatangkan mudharat sepanjang hayat. Indonesia akan terus dilanda darurat, sehingga rakyat pun tak kunjung berhenti melarat.  


Lalu, masihkah sistem seperti ini dipertahankan? Disinilah pentingnya ide penerapan syariah Islam dan khilafah. Konsep  tersebut adalah satu-satunya alternatif guna menyelamatkan bangsa Indonesia dari jurang kehancuran seiring penerapan sistem kapitalisme-sekularisme. Konsep yang indah untuk membangun negara yang berdaulat, dengan sistem ekonomi Islam melepaskan ketergantungan dari hutang dan pajak.  


“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” ...

Allah berfirman:   

“Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan“ (QS. Thoha : 124-126).  

Post a Comment

0 Comments