Korupsi Merajalela di Dalam Demokrasi

Oleh: Ummu Aqeela ( Pemerhati media sosial )



SAAT ini praktek korupsi di Indonesia sangat memprihatinkan. Mulai dari Instansi tingkat bawah sampai tingkat DPR/MPR menjalar dengan cepat bak tanaman rambat yang tumbuh dengan liarnya, bahkan sebagian besar dilakukan secara sistematik. Setiap hari ada saja berita tertangkapnya pejabat dari kelas teri sampai kelas kakap yang melakukan tindakan korupsi. Contohnya kasus saat ini yang sedang hangat sebanyak sepuluh kepala daerah menyandang status tersangka korupsi di KPK pada 2018. Beberapa di antaranya terjaring dalam operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK. Berdasarkan data yang dirangkumdetikcom, enam kepala daerah tersebut terkena OTT yang dilakukan KPK, dari Bupati Hulu Selatan Abdul Latif hingga yang terakhir Bupati Bandung Barat Abu Bakar. Sementara itu, empat kepala daerah lain menjadi tersangka kasus korupsi karena hasil pengembangan kasus sebelumnya. Kebanyakan kepala daerah tersebut terjerat kasus penyuapan. Dari 10 kepala daerah yang menjadi tersangka dan ditahan KPK itu, ada juga yang tengah mencalonkan kembali dalam ajang pilkada. Mereka yakni Bupati Jombang Nyono Suharli, Bupati Lampung Tengah Mustafa, Bupati Ngada Marianus Sae, dan Bupati Subang Imas Aryumningsih. ( Detik News 14/04/2018 )


Semua ini membuktikan bahwa orang-orang yang berada di tampuk pemerintahan sudah tidak bisa lagi menjalankan amanah rakyatnya. Sistem Demokrasi yang dibangga-banggakan, menjadi senjata yang digunakan untuk meraup keuntungan pribadi dan golongan. Dan yang sangat disayangkan, aparat hukum sendiri seolah-olah hanya bersandiwara memainkan drama persidangan, yang ujungnya berakhir dengan keputusan yang mengecewakan. Karena saat ini, hukum telah kehilangan fungsi dan kekuatannya. Penerapan sistem yang salah menyebabkan tidak ada efek jera dalam melakukan tindakan kriminal. Dan lebih parah lagi dari beberapa tersangka tersebut masih bisa berperan aktif di politik dengan mencalonkan diri kembali ataupun masih duduk di kursi jabatannya. Sungguh status tersangka korupsi di negeri ini hanya sebatas status, bisa terlihat dari para tersangka yang seolah tanpa ada rasa bersalah dan juga masih mempunyai kesempatan berlenggang di kancah perpolitikan. Mau tak mau rakyatlah yang akhirnya menjadi korban masal. Ketika para tampuk pimpinan berjibaku berlomba memperkaya diri, rakyat berusaha eksis melawan persaingan dalam mencari sesuap nasi di negeri demokrasi ini. 


Yang perlu diingat, korupsi bukan hanya marak di Indonesia, tapi terjadi di masyarakat manapun yang menerapkan nilai-nilai yang bersumber dari ideologi Barat tersebut. Ledakan korupsi bukan saja terjadi di tanah air, tapi juga terjadi di Amerika, Eropa, Cina, India, Afrika, dan Brasil. Negara-negara Barat yang dianggap matang dalam menerapkan demokrasi-kapitalis justru menjadi biang perilaku bobrok ini. Para pengusaha dan penguasa saling bekerja sama dalam proses pemilu. Pengusaha membutuhkan kekuasaan untuk kepentingan bisnis, penguasa membutuhkan dana untuk memenangkan pemilu.

 

Mengapa korupsi menggila di alam demokrasi? Jawabannya selain untuk memperkaya diri, korupsi juga dilakukan untuk mencari modal agar bisa masuk ke jalur politik termasuk berkompetisi di ajang pemilu dan pilkada. Sebab proses politik demokrasi, khususnya proses pemilu menjadi caleg daerah apalagi pusat, dan calon kepala daerah apalagi presiden-wapres, memang membutuhkan dana besar.


Islam sebagai agama yang sempurna, seharusnya senantiasa dijadikan pedoman dalam kehidupan berkeluarga, bermasyrakat, dan bernegara. Semua sisi diatur dalam Islam mulai hal terkecil sampai terbesar. Dan itupun bersifat mengikat bagi setiap orang yang mengaku dirinya muslim. Semua aturanNYA harus dilakukan secara totalitas dan sempurna (kaffah) tanpa memilah-milah atau mengambil sebagian dan membuang sebagian yang lain (QS. AL Baqarah : 85).


Dalam riwayat Rasullulah SAW ada sebuah kasus korupsi yang diberitakan dalam beberapa kitab Hadist. Hadist ini merekam sebuah kasus korupsi yang dilakukan oleh salah seorang  budak yang dihadiahkan untuk Nabi SAW. Kemudian, Nabi SAW mengutusnya untuk membawakan sejumlah harta ghanimah atau hasil rampasan perang. Dalam sebuah perjalanan, tepatnya di wadil qura', tiba-tiba Mid’am atau Kirkirah, seorang budak itu terkena bidikan nyasar, salah tembak, sebuah anak panah menusuk lehernya sehingga dia tewas. Para sahabat Nabi kaget. Mereka serentak mendoakan sang budak semoga masuk surga. Di luar dugaan, Rasulullah SAW tiba-tiba bersabda bahwa dia tidak akan masuk surga.



"Tidak demi Allah, yang diriku berada di tanganNya, sesungguhnya mantel yang diambilnya pada waktu penaklukan Khaibar dari rampasan perang yang belum dibagi akan menyulut api neraka yang akan membakarnya. Ketika orang-orang mendengar pernyataan Rasulullah itu ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW membawa seutas tali sepatu atau dua utas tali sepatu. Ketika itu, Nabi SAW mengatakan: seutas tali sepatu sekalipun akan menjadi api neraka.” (HR. Abu Dawud).


Apa pelajaran yang bisa diambil dari riwayat diatas? Bahwa Korupsi sebuah mantel dan seutas tali sepatu saja, Nabi SAW bersabda pasti akan masuk neraka apalagi jika dibandingkan dengan korupsi era sekarang ini , dengan modus dan jumlah yang sangat besar, dan dampak yang sangat luas, sistemik, dan terstruktur tentunya akan mendapatkan balasan yang lebih pedih lagi.


Semoga kita akan terus selalu dibimbing oleh ALLOH SWT agar selalu terhindar dari perbuatan tercela tersebut. Dan menjadi hamba yang sejatinya hanya "Takut Akut"  kepadaNYA saja.


Masih bangga dengan Demokrasi atau memilih Syari'at Islam sampai mati?



Wallahu a’lam bi ash showab.

Post a Comment

0 Comments