Korupsi Buah Dari Sistem Demokrasi




Oleh: Minah, S.Pd.I
(Pengajar, Lingkar Studi Perempuan dan Peradapan, Revowriter Surabaya)

Miris! Demokrasi makan korban lagi, 10 kepala daerah menyandang status tersangka korupsi di KPK pada tahun 2018 ini. Beberapa diantaranya terjaring dalam operasi tangkap tangan (OOT) yang dilakukan KPK. Berdasarkan data yang dirangkum detik.com , enam kepala daerah tersebut terkena OTT yang dilakukan KPK, dari Bupati Hulu Selatan Abdul Latif hingga yang terakhir Bupati Bandung Barat Abu Bakar. Sementara itu, empat kepala daerah lain menjadi tersangka kasus korupsi karena hasil pengembangan kasus sebelumnya. Kebanyakan kepala daerah tersebut terjerat kasus penyuapan.

Inilah buah nyata dari bobroknya demokrasi yang ada. Awalnya saja yang manis, tapi malah menyengsarakan. Membuat para pejabat banyak yang melakukan korupsi. Tanpa memikirkan keharamannya. Demokrasi mahal, menghasilkan kekuasaan dengan cara menghalalkan segala cara. Mereka rela melakukan apapun tanpa melihat standar halal atau haram, yang penting mereka mampu meraih kekuasaan. Jadi wajar bagi mereka melakukan korupsi. Padahal korupsi itu adalah suatu keharaman.

Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut. (sumber Wikipedia).

Demokrasi adalah sebuah sistem dan ideologi yang lahir dari aqidah Sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan). Demokrasi adalah bagian dari produk akal manusia, bukan berasal dari Allah SWT. Demokrasi tidak disandarkan sama sekali pada wahyu Allah dan tidak memiliki hubungan sama sekali dengan agama mana pun yang pernah diturunkan oleh Allah kepada para rasul-Nya.

Sistem demokrasi kedaulatannya ditangan rakyat, namun realitasnya kedaulatan di tangan pemilik modal atau Negara-negara asing. Berdasarkan prinsipnya, maka demokrasi adalah: menjadikan setiap rakyat memiliki kedaulatan untuk membuat hukum, mengambil hak Tuhan sebagai pembuat hukum  (asy-syari’) lalu menyerahkannya kepada manusia. Padahal dalam Islam yang menatapkan hukum hanyalah Allah bukan manusia. Ini sangat bertentangan dengan Islam.

Dalam demokrasi, terdapat 4 jenis kebabasan yakni kebebasan beragama, berpendapat, kepemilikan dan berperilaku. Kebebasan beragama, berhak beragama manapun tanpa paksaan, jika masuk keluar agama tidak dipermasalahkan selama tidak menggangu. Sedangkan dalam  Islam, memang tidak ada paksaan masuk Islam. Namun, kalau sudah masuk Islam tidak boleh seenaknya keluar masuk agama. Apalagi menjadi murtad. Astaghfirullah. Realitas kebebasan beragama yang diusung demokrasi ini malah banyak terjadi Pemurtadan, aliran sesat dll.  Parah!

Kebebasan berpendapat, menurutnya setiap orang bebas berpendapat tanpa melihat halal dan haram. Oleh karena  itu, ada terjadi Penghinaan pada Rasul, alquran, pelecehan Islam, dll. Padahal kalau berpendapat haruslah melihat dari halal dan haramnya. Tidak asal-asalan. Kebebasan kepemilikan, seseorang boleh memiliki harta dan mengembangkannya tapi realitasnya Privatisasi, penjajahan asing atas SDA, UU Migas, malah pihak asing yang menguasai SDA milik rakyat dan akhirnya rakyat yang sengsara.

Dan terakhir kebebasan berprilaku mengatakan bahwa  setiap orang bebas berekspresi, bebas mengumbar aurat dimana-mana, pacaran, pergaulan bebas, minum-minuman keras dan kemaksiatan-kemaksiatan lainnya yang penting menurut mereka tidak mengganggu orang lain. Namun realitasnya  banyak terjadi seks bebas, aborsi, pembagian kondom gratis, pornografi pornoaksi, dll. Menjadi alasan serba boleh padahal kenyataannya malah melanggar syariat Islam.

Dari hakikat demokrasi diatas maka sudah seharusnya kita tidak mengambil sistem demokrasi karena demokrasi sistem kufur dan bukan berasal dari Islam serta menyengsarakan rakyat. Demokrasi, Secara akidah bertentangan dengan akidah Islam. Secara hukum bertentangan dengan hukum Islam. Secara ekonomi tidak menjamin kesejahteraan. Secara praktik penuh tipu daya.


Dalam Islam, yang berhak membuat hukum hanyalah Allah. “Keputusan itu hanyalah milik Allah.” (QS Yusuf : 40). “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. dia menerangkan kebenaran dan Dia Pemberi keputusan yang baik.” (QS. Al-An’am:57).



“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. al Maidah : 44). “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dzalim.” (QS. al Maidah : 45). “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.“ (QS. al Maidah : 47)


            Oleh karena itu, janganlah mengambil demokrasi karena demokrasi tidak ada didalam Islam.  demokrasi awalnya manis tapi ternyata menyengsarakan rakyat. Demokrasi adalah sistem kufur: haram mengambil, memanfaatkannya, menerapkan dan menyebarkannya! sebagian atau seluruhnya!. So, tinggalkan  demokrasi, Tegakkan Islam!

Post a Comment

0 Comments