Konde dan Cadar itu Tak Sejajar

Oleh : Tari Ummu Hamzah (Pemerhati remaja dan Anggota Komunitas Menulis di Revowriter)   



Lagi viral nih guys video puisi ibu Sukmawati Soekarnoputri. Puisi beliau dinilai SARA karena menyudutkan Islam dan membandingkan Islam dengan sesuatu yang tidak lebih baik dari Islam itu sendiri. Isinya bener-bener menohok kaum muslimin. Gimana gak menohok guys, lha wong beliau membanding bandingkan antara konde dan cadar yang jelas-jelas ngga sejajar. Why? Karena cadar itu bagian dari hijab, yang bertujuan menutupi aurat perempuan plus menjaga kehormatannya.   


Konde sendiri mirip punuk onta yang emang dilarang dalam islam. Kalau orang berkonde cenderung menampakkan kecantikan diri, bahkan sampai bertabaruj. Coba kita teliti sedikit, jika orang berkonde biasanya pakai kebaya yang ketat, berlenggak-lenggok plus berdandan menor alias bertabruj, yang juga dilarang dalam Islam.   


Sedangkan cadar bagian dari hijab muslimah, yang memang diwajibkan dalam islam, yang sebagaimana sudah tercantum dalam surat Al-Ahzab ayat 59. Hijab juga sebagai identitas diri, plus pembeda dengan wanita musyrik atau kafir. Hijab sendiri sebagai bentuk ketaatan wanita kepada Rabbnya, sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat berupa rupa yang elok. Bila rupa yang elok dijaga dengan hijab, maka disitulah letak kehormatan muslimah. Dilindungi bukan diumbar.   


Dari sini kan udah jelas guys mana yang wajib dan mana yang haram, mana yang Haq mana yang bathil. Haq dan batil itu ngga bisa disatukan guys, kayak air dan minyak yang udah dari sononya emang ngga bisa disatuin. Nah dalam puisi Bu Sukmawati Soekarnoputri, isi keseluruhannya seolah mau mencampur adukkan antara Haq dan bathil. Keduanya ngga bisa disejajarkan.   


Sebenarnya guys ketika kita hendak bersastra jangan sampai kita mengedepankan ego kita. Sebelum kita berlisan atau bertulisan baiknya pahami dulu apa yang mau kita tulis, jangan sampai yang kita tulis isinya ngawur kemana-kemana, malah nulis perkara yang sebenernya kita ngga tahu, tapi seolah kita tahu malah jadinya kita kayak orang sok tahu. Endingnya kita dicap jadi orang yang gagal paham.   


Banyaknya kaum muslimin yang membalas sastra puisi Bu Sukmawati Soekarnoputri, menandakan bahwa kaum muslimin tergerak untuk membela dienya. Kita tahu kan guys kalau negeri kita ini mayoritas kaum muslim, gua kasih tahu yah guys, ketika ada orang yang ngomongin soal Islam tapi ngga tahu Islam, itu seolah menguji kesabaran kaum muslimin di Indonesia. Why? Karena itu sebenernya bikin geram kaum muslimin. Tapi kita harus tetap berkepala dingin menghadapi ini, biar kaum muslimin ngga sampai terprovokasi.   


Berhubung di social media sudah banyak teman-teman penulis yang menulis puisi balasan dari adik Bumega, gue disini ngga mau ikutan berpuisi karena dasarnya emang gue ngga jago berpuisi. Tapi gue  coba ya guys buat menarik kesimpulan dari berbagai balasan puisi teman-teman untuk adik Bu Mega.   


Kesimpulannya, kalau nggak tahu syariat mending ngaji , jangan berpuisi. Kalau ngga tahu Islam jangan ngomongin Islam nanti malah dicap org yang fasik, bisa terjerumus kedalam sikap musyrik, Na'uzdubillah minzdalik,Dari kata-katamu mencerminkan siapa dirimu.   

Yang gue tahu bahwa yang takut kepada Islam hanyalah penjajah yang dari dulu udah begitu.  


Ngga perlu malu kalau kamu ngga tahu tentang agamamu. Karena ngga ada kata terlambat untuk berguru dan menuntut ilmu.   


Ah... Sudahlah, puisimu ngga akan buat kami gentar, malah semangat dakwah ini semakin berkobar, karna kau telah bandingkan antara konde dan cadar, yang sebenarnya emang ngga sejajar, hal ini telah membuat kami sadar, bahwa dakwah ini yang akan menyelamatkan kami diakhirat setelah dipadang Mahsyar.   



Sekian... Eh itu tadi puisi apa pantun ya? Ah... Sudahlah... Yang jelas. Suaramu dalam berpuisi dan kidung-kidung yang kau anggap agung, tak lebih merdu dari suara adzan.Wallahu a'lam bishowab

Post a Comment

0 Comments