Ketika Rajin Menunda Kebaikan

Oleh Lilis Marlina (Anggota Komunitas Revowriter)



Sobat, betapa banyak godaan yang kita hadapi dalam hidup ini. Godaan ini jika dituruti, bisa jadi penghalang bagi kita untuk bersegera dalam berbuat baik alias rajin menunda kebaikan.



Gawat nih sobat. Mau shalat, ditunda dulu sampai akhir waktu. Mau ngaji Islam tunda dulu sampai tamat kuliah. Mau berjilbab tunda dulu. Nanti aja kalau uda nikah dan punya anak. Mau dakwa juga tunda dulu sampai ilmu nya matang. 
Parahnya lagi mau menikah ditundadulu sampai mempunyai rumah dan perabotnya dulu. Bahkan mau tersenyum dan menyapa tetangga pun, malah ditunda sampai tetangga yang duluan menegur.



Menunda Itu Penyakit


Sobat, menunda melakukan kebaikan merupakan suatu penyakit. Ini bukanlah penyakit fisik, tetapi termasuk dalam penyakit hati yang dikenal dengan At Taswif (menunda-nunda melakukan kebaikan). 


Menunda kebaikan sangat berbahaya sobat, karena ketika kita menunda-nunda berbuat baik, sama dengan membuka kesempatan pada nafsu untuk tidak melakukan kebaikan karena hawa nafsu dan setan senantiasa mengajak pada keburukan dan menghalangi untuk melakukan kebaikan.
Allah SWT berfirman,

 “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Penyayang”. (Q.S. Yusuf (12), 53)


So, menunda melakukan kebaikan itu merupakan salah satu strategi Iblis dalam melancarkan misinya.Seperti perkataanulama berikut ini:


 عَنْ أَبِي الْجَلْدِ، قَالَ: وَجَدْتُ [ص:55] التَّسْوِيفَ جُنْدًا مِنْ جُنُودِ إِبْلِيسَ، قَدْ أَهْلَكَ خَلْقًا مِنْ خَلْقِ اللهِ كَثِيرًا



“Abu Al Jald (w: 70H) rahimahullah berkata: “Aku mendapati bahwa attaswif (menunda-munda kebaikan) adalah salah satu dari tentara Iblis, ia telah membinasakan banyak makhluk-makhluk Allah.” Lihat kitab Hilyat Al Awliya’ waThabaqat Al Ashfiya’, 6/54.


Menanam Bibit Penyesalan


Sifat suka menunda-nunda kebaikan sama seperti menanam bibit penyesalan di akhirat kelak. Betapa banyak orang yang menyesal di saat kiamat nanti karena kebiasaannya menunda-nunda kebaikan dan ketidakmampuannya mengisi waktu hidup dengan baik.


Sobat, setiap orang akan menyesal sesuai dengan kadar kelalaiannya karena menyia-nyiakan kesempatan. Baik orang kafir atau muslim, mereka akan mendapat ganjaran di akhirat akibat pilihannya karena tidak menyegerakan berbuat baik. 
Berkaitan dengan keadaan orang-orang kafir, Allah telah menfirmankannya;


حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ



"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan." (QS. Al Mukminun: 99-100)



Sedangkan dengan keadaan orang muslim yang suka menunda-nunda amal shalih sehingga datang kematian, maka Allah firmankan.


وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ


"Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh?" (QS. Al Munafiqun: 10)



Oleh sebab itulah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk bersegera beramal shalih, jangan menunda-nunda dan jangan membuang-buang kesempatan, yang mungkin tidak akan kembali.


Diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada seseorang yang sedang dinasihatinya;


اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْل خَمْس ، شَبَابك قَبْل هَرَمك ، وَصِحَّتك قَبْل سَقَمك ، وَغِنَاك قَبْل فَقْرك ، وَفَرَاغك قَبْل شُغْلك ، وَحَيَاتك قَبْل مَوْتك


"Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya; masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum datang sakitmu, kayamu sebelum datang miskinmu, waktu luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan hidupmu sebelum datang kematianmu." (HR. 



Al Hakim dengan syarat al Bukhari dan Muslim dan diriwayatkan juga oleh Ibnul Mubarak dalam azZuhd dengan sanad shahih dari riwayat mursal Amru bin Maimun).


Ibnu Umar radliyallah 'anhuma pernah berkata,


إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ



“Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Bukhari)



Berkaca dari Generasi Sahabat

Sobat, kita mesti berkaca dari kehidupan para sahabat. Mereka adalah orang yang paling baik perbuatannya. Paling bersegera dalam melakukan kebaikan dan paling takut untuk menunda kebaikan. 



Dalam hadis Anas yang diriwayatkan oleh Muslim: “Nabi saw berangkat bersama para sahabatnya hingga mendahuluikaum Musyrik sampai ke sumur Badar. Setelah itu kaum Musyrik pun datang. Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Berdirilah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” Anas bin Malik berkata; maka berkatalah Umair bin al-Humam al-Anshary, “Wahai Rasulullah! Benarkah yang kau maksud itu surga yang luasnya seluas langit dan bumi?” Rasulullah saw. menjawab, “Benar” Umair berkata,“ehm-ehm”. Rasulullah saw. bertanya kepada Umair, “Wahai Umair,apa yang mendorongmu untuk berkata ehm-ehm?” Umair berkata, “Tidak ada apa-apa Ya Rasulullah, kecuali aku ingin menjadi”. Rasulullah saw. bersabda, “Sesunguhnya engkautermasuk penghuninya, Wahai Umair!” Anas bin Malik berkata; KemudianUmair bin al-Humam mengeluarkan beberapa kurma dari wadahnya dan ia pun memakannya. Kemudian berkata, 


“Jika aku hidup hingga aku memakan kurma-kurma ini sesungguhnya itu adalahkehidupan yang lama sekali.” Anas berkata; Maka Umair pun melemparkan kurma yang dibawanya, kemudian maju untuk memerangi kaum Musyrik hingga terbunuh.


Begitu pun dengan para sahabiyah, mereka tidak menunda-nunda ketika berbuat baik. Mereka adalah orangyang paling taatdan paling bersegera dalam menjalankan kewajiban. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan olehAl-Bukhari dari Aisyah Ra, berkata:


“Semoga Allah merahmati kaum Wanita yang hijrah pertama kali, ketika Allah menurunkan firman-Nya, “Dan hendaklah mereka mengenakan kain kerudung mereka diulurkan ke kerah bajumereka.” (TQS. an-Nûr [24]: 31). Maka kaum wanita itu merobek kain sarung mereka (untuk dijadikan kerudung) dan menutup kepala mereka dengannya”.



Sobat. Jika kita tidak ingin menyesal di akhirat sudah sepatutnya kita menjadikan para sahabat dan sahabiyah sebagai tauladan bagi kita dalam beramal. Agar di akhirat kita tidak menyesal, lantaran di dunia karena rajin menunda kebaikan, pada hal Allah telah memberikan kesempatan untuk membuat pilihan yang terbaik demi hidup ini.

Post a Comment

0 Comments