Keperawanan Dilelang, Hidung Belang Girang

Oleh : Maya A


TRAGIS!!! Objek lelang kini tak hanya berupa barang. Tapi juga keperawanan. Adalah 'cinderella escort', sebuah situs yang difungsikan sebagai agensi penyalur wanita yang ingin menjual keperawanan kepada pembeli secara lelang. Situs yang bermarkas di Jerman ini dikelola oleh Jan Zakobileski, pemuda 27 tahun yang kini berhasil meraih gelar miliarder berkat usahanya itu. (Tribunnews 31/03)

Berdasarkan hasil wawancara ekslusif dengan Tribunnews, Jan mengaku bahwa sudah 350 perempuan asal Indonesia yang melamar ke agensi tersebut. Tak hanya perempuan, penawar nya pun ternyata banyak yang berasal dari Indonesia. Meski didominasi oleh kalangan pengusaha, Jan berani buka suara soal satu politisi terkenal yang turut menawar keperawanan gadis dengan harga tinggi.

Sungguh sangat disayangkan. Kesenangan duniawi pada akhirnya mampu merenggut kewarasan manusia hingga berhasil membuat mereka tergiur. Iming iming materi, dan juga kepuasan syahwat seolah menjadi sesuatu yang mustahil untuk bisa ditolak. Perempuan tidak lagi memandang tinggi kehormatan, bahkan berani mengalih fungsinkannya sebagai objek yang bisa diperjualbelikan.

Lalu, inikah wujud emansipasi yang mereka perjuangkan dan harapkan? Tolak eksploitasi, perlindungan dan pemulihan korban kejahatan seksual? Omong kosong!!

Rasanya rusak sudah image perempuan Indonesia yang digemborkan menjunjung nilai-nilai ketimuran dengan segala aturan tata krama, sopan santun dan penjagaan terhadap kehormatan. Belum lagi sentuhan sentuhan sekulerisme yang masih bermain di tengah tengah masyarakat. Makin besarlah stimulus yang merangsang untuk tetap mempertahankan gaya hidup hedonis. Gaya hidup mewah yang dalam pola pikir mereka akan sulit terpenuhi jika hanya mengandalkan otot atau otak. Alhasil, segala macam cara akhirnya dihalalkan. Atau dengan definisi lain, mereka bebas berbuat apapun sekehendak hati tanpa mempertimbangkan hukum perbuatan tersebut. Dan inilah sejatinya buah dari sekulerisme. Buah dari tidak dilibatkan nya agama dalam kehidupan.

Selain materi dan sekulerisme yang berbuntut liberalisme, minim atau abainya pemerintah dalam menyejahterakan perempuan adalah faktor yang tidak bisa diabaikan. Tekanan finansial yang terus dibebankan, memaksa mereka untuk melakukan blunder. Banting setir pada perkara haram tak bermoral. Lebih miris lagi ketika pemerintah seperti tidak berkenan mengusik jaringan pelacuran lokal, padahal transaksi terlihat jelas terjadi disana. Alexis di Jakarta saja baru berhasil ditutup setelah sekian lama beroperasi. (CNN 31/10/17)

Problematika ini sebenarnya bukan sesuatu yang tidak bisa diatasi. Seperti halnya penyakit, akan selalu ada obat yang bisa digunakan sebagai penawar. Dan Islam, sebagai suatu ideologi yang sempurna sekaligus paripurna, tentu saja memiliki kemampuan untuk itu.

Dari sisi individu misalnya, maka perlu adanya perubahan mindset bahwasanya tujuan hidup bukan sekedar mengejar materi. Namun lebih dari itu. Ada rules yang sifatnya mengikat Menuntut manusia untuk tetap berada di jalur yang telah ditetapkan oleh Sang Pemilik Kehidupan. Menjadikan standard halal-haram sebagai patokan suatu perbuatan. Hanya saja, perubahan pemikiran taraf individu tersebut tidak akan bertahan lama jika tidak ada peran pemerintah dalam menggempur paham sekuler. Membumihanguskan nya untuk kemudian diganti Islam, yang ketika diterapkan sudah pasti mampu memberikan jaminan kesejahteraan bagi perempuan. Peran negara juga dibutuhkan dalam memblock situs maupun tempat yang memfasilitasi transaksi haram tersebut. Jika sinergi yang apik antara individu masyarakat dengan pemerintah ini terealisasi, dan keduanya sepakat menghadirkan Islam di tengah tengah mereka sebagai pedoman dalam berkehidupan, bukan mustahil pintu pintu penghantar kemaksiatan bisa terminimalisir.


Post a Comment

0 Comments