Kelaparan di Masa Umar Bin Khatab ra.

Oleh : Sunarti



"Berkeronconganlah sesukamu dan kau akan menjumpai minyak, sampai rakyatku bisa kenyang dan hidup dengan wajar", kata Khalifah Umar bin Khatab pada perutnya. 
Di mana, masa itu sedang Tahun Abu. Tanah mengering dan tak datang hujan sehingga banyak pepohonan/tanaman yang mengering dan hewan yang mati. 
Putus asa mendera hampir seluruh warganya. 

Saat itu Umar sang pemimpin menampilkan kepribadian yang sebenar-benar pemimpin. Keadaan rakyat diperhatikannya saksama. Tanggung jawabnya dijalankan sepenuh hati. Setiap hari ia menginstruksikan aparatnya menyembelih onta-onta potong dan menyebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat. Berbondong-bondong rakyat datang untuk makan. Semakin pedih hatinya. Saat itu, kecemasan menjadi kian tebal. Dengan hati gentar, lidah kelunya berujar, “Ya Allah, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran di tangan ini.”
Khalifah Umar mengisi malam-malamnya dengan berkeliling wilayahnya, untuk menjaga keamanan dan mendetaili permasalahan rakyatnya. Namun ini tidak hanya di Tahun Abu saja, tapi hampir seluruh masa pemerintahannya.
Termasuk saat ketika Umar mengkhawatirkan keadaan rakyatnya pada Tahun Abu. 
Beliau membiarkan perutnya tidak dalam kondisi kenyang dan mengisinya hanya dengan sedikit roti dan minyak, sekedar pengganjal perut saja. Umar akan merasa sangat takut ketika perut rakyatnya lapar, sementara perut Beliau kenyang. 

Malam itu Umar berkeliling bersama Aslam di wilayah-wilayah yang belum dijangkau di malam sebelumnya. 
Tibalah mereka berdua di sebuah kampung terpencil di tengah-tengah gurun yang sepi.
Beliau menemukan kemah yang sudah usang dan didengarnya suara anak kecil menangis berkepanjangan. 
Umar dan Aslam bersegera mendekati kemah tersebut dan melihat apa yang terjadi di dalam kemah.





Setelah dekat, Umar melihat seorang perempuan tua tengah menjerangkan panci di atas tungku api. Asap mengepul-ngepul dari panci itu, sementara si ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang.
“Assalamu’alaikum,” Umar memberi salam.
 Mendengar salam Umar, ibu itu mendongakan kepala seraya menjawab salam Umar. Tapi setelah itu, ia kembali pada pekerjaannya mengaduk-aduk isi panci.
“Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?” tanya Umar.

Dengan sedikit tak peduli, ibu itu menjawab, “Anakku….”
“Apakah ia sakit?”, tanya Umar. 
“Tidak", jawab si ibu lagi. “Ia kelaparan", lanjutnya lagi. 

Umar dan Aslam tertegun. Mereka masih tetap duduk di depan kemah sampai lebih dari satu jam. 
Gadis kecil itu masih terus menangis. 
Sementara ibunya terus mengaduk-aduk isi pancinya.

Umar tidak habis pikir, apa yang sedang dimasak oleh ibu tua itu? Sudah begitu lama tapi belum juga matang. Karena tak tahan, akhirnya Umar berkata, “Apa yang sedang kau masak, hai Ibu? Kenapa tidak matang-matang juga masakanmu itu?”
Ibu itu menoleh dan menjawab, “Hmmm, kau lihatlah sendiri!”
Umar dan Aslam segera menjenguk ke dalam panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut. Sambil masih terbelalak tak percaya, Umar berteriak, “Apakah kau memasak batu?”
Perempuan itu menjawab dengan menganggukkan kepala.
“Buat apa?”, tanya Umar
Dengan suara lirih, perempuan itu kembali bersuara menjawab pertanyaan Umar, 
“Aku memasak batu-btu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum. Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah magrib tiba, makanan belum ada juga.
Sesudah magrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.”

Ibu itu diam sejenak. Kemudian ia melanjutkan, “Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”

Perkataan tersebut membuat Aslam ingin menegur perempuan itu. Ia ingin menjelaskan bahwa perempuan ini tidak pantas menjelek-jelekan Umar sementara Umar kini sedang berada di hadapannya.

Namun Umar sempat mencegah Aslam dan dengan air mata yang berlinang Ia cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda yang sengsara itu.

Karena Umar bin Khattab terlihat keletihan, Aslam berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku saya yang memikul karung itu….”

Dengan wajah merah padam, Umar menjawab sebat, “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”
Jawaban ini membuat Aslam tertunduk. Ia masih berdiri mematung, ketika tersuruk-suruk Khalifah Umar bin Khattab berjuang memikul karung gandum itu.

Khalifah Umar segera mengajak keluarga miskin tersebut makan setelah masakannya matang. Melihat mereka bisa makan, hati Khalifah Umar terasa tenang. Makanan habis dan Khalifah Umar berpamitan. Dia juga meminta wanita tersebut menemui Khalifah keesokan harinya.
"Berkatalah yang baik-baik. Besok temuilah Amirul Mukminin dan kau bisa temui aku juga di sana. Insya Allah dia akan mencukupimu," kata Khalifah Umar.

Dan benar, keesokannya wanita tersebut menemui Amirul Mukminin. Ia begitu kaget melihat sosok Amirul Mukminin yang ternyata adalah orang yang telah memasakkan makanan untuk dia dan anaknya.
"Aku mohon maaf. Aku telah menyumpahi dengan kata-kata dzalim kepada engkau. Aku siap dihukum," kata wanita itu.
"Ibu tidak bersalah, akulah yang bersalah. Aku berdosa membiarkan seorang ibu dan anak kelaparan di wilayah kekuasaanku. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah? Maafkan aku, ibu," kata Khalifah Umar. (disarikan dari learningfromlives.com)

Salah satu kisah kepemimpinan seorang Khalifah. Semata-mata melaksanakan tugas karena ketaatan kepada Rabbnya. Bukan karena mencari sanjungan dan dan penghargaan. 
Menempatkan rakyat sebagai tuannya, bukan sebagai pangsa pasar perekonomian mitra kerjanya. 
Mengurusi kebutuhan rakyat hingga sedetail-detailnya. Termasuk kebutuhan sandang, papan dan perumahan rakyat menjadi perhatian dalam periayahan umat. Karena pertanggungjawaban di hadapan Allah akan lebih berat dibanding dengan hanya memanggul bahan makanan. 

”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll).

Berbeda masa kekhalifahan dengan masa kepemimpinan di era sekarang. Sosok sekelas Umar Bin Khatab ra. tidak akan pernah bisa ditemui. Karena dalam sistem buatan manusia, aturan yang ada di dalamnya akan disusun sesuai kepentingan orang-orang yang berada atau dibalik pengaturan sistem. Banyaknya kebijakan yang 'pro rakyat' memang benar-benar untuk kesusahan rakyat. Bukan kesejahteraan sesuai tujuan di awal, karena pada faktanya dalam pelaksanaan kebijakan tidaklah sesuai. Kehidupan takyat semakin sulit, bahan makanan pokok yang melonjak, biaya sekolah, biaya kesehatan dan kebutuhan akan energi listrik juga semakin mahal. 


Umar bin Khatab ra. menerapkan sistem Islam, sebagaimana Beliau mencontoh Rosulullah saw. Jadi kepemimpinan yang benar-benar dekat dengan rakyat, kebijakan yang memihak rakyat akan benar-benar bisa ditegakkan. 

Waallahu alam bisawab.

Post a Comment

0 Comments