Kartini Tanpa Konde, Nusaibah Binti Ka'ab

Oleh : Lulu Nugroho (Muslimah revowriter 6)



"Berikan perisaimu kepada yang berperang!!"
teriak Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam kepada seorang muslim yang mundur dari perang Uhud. Seketika itu juga laki-laki itu melemparkan perisainya dan berlari meninggalkan pertempuran.

Nusaibah binti Ka'ab bin Amru bin Auf bin Mabdzul al-Anshoriyah. Atau biasa dipanggil dengan nama Ummu Umaroh, adalah sosok shohabiyah kita. Segera beliau mengambil perisai dan pedang yang dilempar tadi. Kemudian berperang dengan gagah berani merangsek masuk ke dalam medan pertempuran untuk melindungi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam.

Ummu Umaroh adalah seorang perempuan dari Bani Mazi-an Najar yang datang ke Mekah. Beliau bersama seorang saudara perempuannya dan 70 laki-laki Bani Anshor datang untuk membai'at Rasulullah. Di antara 70 laki-laki muslim tadi, ada suaminya Zaid bin Ashim dan kedua puteranya yaitu Abdullah dan Hubaib.Sosok shohabiyah pemberani ini, bukan saja turut dalam bai'at. Tapi juga dalam sejumlah peperangan. 

Pada perang uhud, Ummu Umaroh bertugas memberi minum dan mengobati kaum muslim yang terluka. Tapi kemudian pasukan muslim menjadi kacau. Barisan menjadi porak poranda, akibat pasukan pemanah dari arah bukit. Maka berlarian kaum muslim menyelamatkan diri. Ketika itu dilihatnya Rasul sendiri tanpa pelindung. Maka Ummu Umaroh ingin melindungi Rasulullah. Beliau menjadi perisai bagi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.

Bukan hanya Ummu Umaroh yang menjadi perisai Rasul. Tapi juga Ghaziah bin Amru, suaminya yang kedua. Beserta kedua puteranya, Abdullah dan Hubaib."Aku melihat orang-orang sudah menjauhi Rasulullah hingga kelompok kecil tidak sampai 10 orang. Aku, kedua anakku dan suamiku melindungi beliau sementara orang kocar-kacir", kata Ummu Umaroh.

Ummu Umaroh atau Nusaibah binti Ka'ab mendapat banyak luka. Beliau gunakan ikat pinggang di perutnya karena terluka di 13 tempat. Bahkan luka terdalam ada di pundaknya, akibat senjata Ibnu Qami'ah. Hingga membutuhkan waktu setahun untuk menyembuhkan lukanya. Ketika Rasul melihat lukanya, Rasul berkata, "Wahai Abdullah, balutlah luka ibumu! Ya Allah, jadikan Nusaibah dan anaknya sebagai sahabatku di dalam surga". Kecintaan Ummu Umaroh kepada Islam dan Rasulullah, membuatnya tidak merasakan luka-luka di sekujur tubuhnya.

Beliau pun ikut serta melakukan sumpah setia untuk sanggup bersedia syahid di jalan Allah dalam Bai'at Ridwan pada perang Hudaibiyah. Tidak hanya itu, Ummu Umaroh juga ikut dalan perang Hunain.

Ketika Rasul wafat, beberapa orang muslim murtad dari Islam, di bawah pimpinan Musailamah al Kadzab. Maka pada saat Khalifah Abu Bakar Ash Shidiq memerintahkan perang terhadap Musailamah. Ummu Umaroh dan Zaid bin Ashim putranya meminta izin untuk ikut di dalamnya. "Sungguh aku telah mengakui peranmu di dalam perang Islam, maka berangkatlah dengan nama Allah", kata Khalifah Abu Bakar.

Pada peristiwa itu, Hubaib ditawan Musailamah. Disiksa bertubi-tubi dengan siksaan yang sangat berat dan mengerikan. Musailamah memotong anggota tubuh Hubaib satu persatu. Memaksa Hubaib mengakui atas kenabian Musailamah. Tapi Ummu Umaroh mendidik anaknya dengan tauhid yang benar. Hingga keimanan Hubaib tidak goyah.

Ketika terdengar oleh Ummu Umaroh bahwa Hubaib, putranya syahid, beliau tetap tegar. Perempuan ini ridha dengan kepergiaan anaknya menjemput kematian dengan syahid di jalan Allah.

Pada perang Yamamah, yang dipimpin oleh Khalid bin Walid, kembali perempuan tangguh ini ikut terlibat bersama putranya Abdullah. Ummu Umaroh dan Abdullah berhasil membunuh Musailamah. Ummu Umaroh mendapat banyak luka. 12 luka di tubuhnya dan kehilangan satu tangannya. Bahkan Abdullah pun syahid pada peristiwa ini.

Inilah sosok shohabiyah, perempuan tangguh yang rela menyerahkan segenap jiwa raganya demi tegaknya Dienul Islam. Sungguh sangat banyak pejuang wanita yang tangguh dalam dunia Islam yang patut dijadikan contoh. Kebangkitan umat, akan segera terwujud dengan izin Allah, jika muncul banyak perempuan pemberani seperti sosok Nusaibah binti Ka'ab, sosok Kartini sejati tanpa konde.


Post a Comment

0 Comments