Kartini di Zaman Now

Oleh : Sunarti



Hiruk pikuk peringatatan hari Kartini mulai tampak di masyarakat.  
Salon-salon, tempat persewaan pakaian mulai banyak didatangi pelanggan, untuk berdandan maupun dan ikuti menyewa pakaian. Bahkan hingga merambah pada toko-toko pakaian, terutama toko pakaian wanita. Kebaya dan rok stelannya laris manis. 

Pada tanggal 21 April, ibu-ibu dan mbak-mbak pegawai negeri dan juga karyawan swasta akan didapati semua berdandan ala pakaian Jawa. Ditambah dengan anak-anak sekolah yang harus berdandan sebagaimana halnya para orang dewasa, berkebaya dan memakai bawahan (semacam jarik/kain batik dimodifikasi). 
Tak lupa juga para kaum prianya yang juga diharuskan mengenakan pakaian adat. Ini merupakan moment Kartinian, yaitu meneladani Ibu Kartini.
Sebenarnya, tidak hanya pakaian Jawa, tapi bisa juga mengenakan pakaian adat daerah, sesuai dengan kesepakatan masing-masing. 


Sedangkan para penggiat feminis masih kekeuh dengan kampanyenya. Moment Kartini benar-benar dijadikan ajang untuk mendapatkan hati umat. 
Dengan slogan yang dimiliki oleh Kartini "habis gelap terbitlah terang".
Dijadikan standart pemikiran mereka, bahwasanya kegelapan dikarenakan perempuan dinomorduakan oleh kaum pria. 

.
.


Memang pada faktanya, di masa Kartini adalah masa di mana ada pembeda kelas antara kaum perempuan dan kaum laki-laki. 

Namun, perlu diketahui, pada waktu itu bukan pada masa kejayaan Islam, namun pada masa penjajahan Belanda.
Penjajah Belanda dengan sengaja tidak mengizinkan penduduk asli Indonesia untuk mengenyam pendidikan.
Termasuk kaum wanitanya, juga dilarang menempuh pendidikan. 
Kecuali, pejabat atau orang-orang yang pro Belanda/anteknya Belanda.

Terutama pendidikan Islam, sangat disembunyikan oleh penjajah Belanda.
Selain ketakutan akan kepandaian penduduk yang dijajahnya, juga ketakutan terhadap pengaruh kekuatan aqidah Islam.

Karena selain penduduk jajahannya akan menjadi pandai, juga akan memahami Islam sebagai akidah pemersatu umat. 
Islam yang juga mengajarkan kesatuan tauhid dan semangat jihad melawan penjajah. 


Di masa cengkeraman penjajah modern di zaman now, di mana penjajahan tidak berupa penjajahan fisik, namun penjajahan berupa pemikiran. Dengan berbagai dalih, kaum feminis dan kesetaraan gender membuat opini besar-besaran di tengah-tengah masyarakat, bahwasanya sosok Ibu Kartini adalah sosok pencetus kesetaraan. 
Dengan berbagai upaya juga, propaganda yang sebelumnya juga telah disiapkan oleh kaum misionaris/musuh-musuh Islam dengan menyembunyikan sejarahbtentang kaum muslimin. 
Terutama yang disembunyikan adalah sejarah tentang Ibu Kartini yang belajar Islam. 
Sungguh sangat rapi permainan musuh-musuh Islam menyembunyikan semua fakta yang hingga sekarang bahkan belum diketahui oleh anak bangsa. 

Pun dengan berbagai alasan mereka menyerang Islam dari segi penampilan (pakaian).
Pakaian muslimah (wanita muslim) ada ajarannya, yaitu berjilbab dan berkerudung/aturan tentang aurat. Ini dianggap hukum/tradisi Islam yang menghambat dan membatasi hak azazi wanita. 

Kedudukan wanita/ibu sebagai pengatur urusan rumah tangga, kewajiban istri taat pada suami, izin keluar rumah dan juga dalam hak waris juga diserang sebagai aturan yang tidak adil. 


Akibat dari semua ini adalah pengetahuan generasi now yang sudah dicekok'i dengan mindset yang salah tentang memaknai keteladanan Ibu Kartini. 
Generasi now hanya tau kesetaraan, emansipasi dan kebebasan. 
Ini hal yang sangat mengkhawatirkan. 
Mereka akan tumbuh di bawah bayang-bayang ajaran Islam yang menakutkan. 
Banyak aturan, banyak "thethek bengek" yang harus dianut. 
Jiwa kebebasan sudah merasuki jiwa generasi zaman now. 
Bagai virus yang berkembang pesat dengan diikuti hembusan angin yang sepoi-sepoi menerpa relung hati generasi penerus bangsa. 


Panutan Ibu Kartini sebagai sosok yang haus akan ilmu, sama sekali tidak diangkat dalam topik pembicaraan kaum gender. 
Bahkan masa-masa Beliau mempelajari ilmu Islam secara detail dengan Kyai Sholeh darat, tak pernah tetsentuh dalam setiap pembahasan.
Pun dalam berpakaian di masa-masa akhir mendekati hayat Beliau, juga tak pernah dimunculkan. 
Adanya unsur kesengajaan, membuat penggiat gender dan feminis menjadikan berbagai cara untuk menutup kebenaran. 
Sudahlah menyembunyikan sejarah, manipulasi pula dengan ketangguhan Ibu Kartini dalam memperdalam Islam. 
Layaknya penjajah Belanda yang takut akan kebangkitan rakyat dan kaum muslimin, hal ini juga dirasakan oleh kaum penggiat gender. 

.
.

Orang-orang yang membenci Islam terus dan terus berupaya menjauhkan seluruh ajaran Islam dari pemeluknya. 
Mereka hendak membawa kaum muslimin mengikuti mereka, sehingga melupakan ajaran Islam yang sesungguhnya.
Tujuan mereka jelas, agar kaum muslimin hanya tersibukkan dengan urusan eksistensi diri. Terutama kaum wanita, diiming-imingi dengan kesejajaran peran dan fungsi dengan kaum laki-laki (emansipasi)
.

.
.


Sesungguhnya sebagai muslimah kita tidak boleh selalu percaya dengan pemikiran-pemikiran yang belum tentu Islam membenarkannya. 
Allah memperingatkan kita dalam banyak ayat, diantaranya adalah :
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS: Al Isra’: 36).

“...dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan (0rang kafir) mereka setelah datang ilmu (petunjuk) kepadamu, sesungguhnya kamu kalau demikian termasuk golongan orang-orang dholim.” (QS: Al Baqarah: 145).

Di sini pentingnya, kita jeli dalam melihat fenomena dalam berbagai persoalan. 
Sebagaimana boomingnya peringatan jari Kartini selama ini. 


Wallahu alam bisawab

Post a Comment

0 Comments