Kartini Dan Sari Konde

Oleh : Emma Elhira



April. Bulan yang identik dengan Hari Karini. Begitu masuk bulan ini maka serta merta bayangan kita tertuju pada keseruan festival bernuansa Kartini-an. Tak jarang sekolah-sekolah ber level PAUD, TK dan SD memang sudah mengagendakan jauh-jauh hari program Kartini-an tersebut. Berbagai lomba dan acara sudah dipersiapkan. Terutama lomba peragaan busana adat daerah atau malah lomba mirip Kartini. Minimal, sekolah mengagendakan pawai keliling perumahan disekitar sekolahannya dengamenggunakan baju adat tersebut. Seru nya..


Seperti sudah tradisi dari zaman saya masih bocah hingga sekarang, acara ini pasti ada dan pasti diadakan. Yang tak pernah ketinggalan adalah baju adat Jawa, lengkap dengan Konde nya yang fenomenal itu akhir-akhir ini. Kartini seperti tak pernah lepas dari busana kebaya dengan sanggulan cantik dikepalanya, minimal seperti itu lah gambaran sosok Kartini itu kan.? Maka bisa dipastikan anak-anak perempuan pada hari Kartini akan menggunakan kebaya, kain jarik plus Konde. Kecuali anak perempuan atau orang tua nya yang anti mainstream , biasanya menggunakan baju adat kesukuan yang lain, misal baju adat Bali, baju adat Minang, baju adat Papua atau yang lain. Begitu pula anak lelakinya, biasanya dia memilih menggunakan beskap rapi plus blangkon nya. 


Yang menjadi keprihatinan adalah sedikitnya sekolah yang memberikan edukasi makna Hari Kartini itu sendiri. Tidak ada penjelasan bagaimana memaknai perjuangan Kartini, selain hanya berupa hapalan, tempat tanggalahir Kartini, Siapa Suami nya dan wafat dimana, paling banter pertanyaan tentang buku nya Kartini. Itu saja. Yang lainnya berupa perjuangannya Kartini muda belia yang sudah berpikir tentang bagaimana seharusnya wanita juga mendapatkan hak nya dalam mendapatkan pendidikan, bagaimana mencermati dan menelaah isi dari surat-surat Kartini dengan sahabatnya yang bernama Stella. Hal ini justru tenggelam dalam perayan dan hiruk pikuk memperingati Hari Kartini nya.


Yang justru nyaris tak pernah di bahas adalah bagaimana Kartini ingin mempelajari agama nenek moyangnya yaitu Islam, namun saat itu tak banyak atau bisa dikatakan tidak boleh menterjemahkan Al-qur’an kedalam bahasa lain selain arab sedang masa itu sedikit sekali orang yang bisa berbahasa Arab.


Yang justru menjadi ikon nya Kartini adalah Emansipasi nya, dan kemudian oleh kalangan feminisme dipakai dalih untuk memperjuangkan kesetaraan gender yang sebenarnya tak sama antara pemahaman emansipasi Kartini dengan pemahaman Feminisme. Gagal pahamnya masyarakat sekarang akibat dari lebih booming nya propaganda yang dilakukan oleh para penggiat feminisme. Sehingga menganggap emansipasi yang selama ini diperjuangkan oleh Kartini adalah kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki. Sebuah kesalah pahaman yang cukup fatal, mengingat perayaan Kartini sebagai ajang mengenang jasa-jasa nya justru tersalip oleh pemahaman yang slah kaprah dari kaum femisme.
Jika saja Kartini tau bahwa perjuangannya disalah artikan oleh sekelompok orang, tentu Kartini akan sedih dan menolak bahkan memberontak. 


Kartini Zaman Now seharusnya lebih mau memahami makna perjuangan Kartini dan mau belajar lebih baik dari Kartini sesungguhnya. Karena ilmu pengetahuan dan teknologi jauh lebih mudah di akses ketimbang zaman dulu dan bisa jauh lebih baik memaknai emansipasi. Dan Jika saja saat itu Kartini mempelajari isi Al-qur’an hingga tuntas tentu beliau tidak akan menggunakan Sari Konde tapi menggunakan khimar dan Jilbab dengan baik sesuai dengan syariat Islam.
Wallahu a’lam.

Post a Comment

0 Comments