Kapitalis Merusak Peran Seorang ibu

Oleh: Denda Mayang Sari (Ibu Peduli Umat)



Perempuan kini terpaksa mencari nafkah karena faktor kemiskinan. Menjadi tulang punggung keluarga. Nafkah dari ayah atau suami tidak mampu menopang besarnya biaya hidup. Para ibu disibukkan mencari uang. Sementara itu anak-anak mereka terlalaikan. Demi mengejar karir, kaum ibu rela meninggalkan si buah hati. Padahal tabiat asli seorang ibu itu mendidik, merawat dan melindungi anak-anak mereka dalam dekapan kasih sayangnya. Tetapi tuntutan kerasnya kehidupan di alam kapitalistik, menggerus perasaan keibuan. Sosok ibu yang lembut bisa hilang bahkan berubah kasar dan egois. Banyak kejadian seorang ibu yang tega menghabisi darah dagingnya sendiri. Semua disebabkan stres tak kuat menahan himpitan ekonomi.

Dalam Islam, ibu sangat di muliakan. Tugas utamanya adalah menjadi ibu pengatur rumah tangga. Namun bukan berarti Islam melarang perempuan berkarya. Bekerja bagi seorang perempuan hukumnya mubah atau boleh. Bukan masalah jikalau tidak melalaikan tugas utamanya. Tentu dengan syarat mendapatkan izin dari wali atau suami. Jenis pekerjaannya pun harus diperhatikan. Islam melarang perempuan untuk mengumbar auratnya. Apalagi mengeksploitasi tubuhnya demi kepentingan bisnis.

Betapa dimuliakannya perempuan dalam Islam. Perempuan dapat hidup nyaman bersama anak-anak dan suami mereka. Rumahnya bagaikan surga. Anak-anak baginya adalah mutiara umat. Akan selalu dijaga dari tangan- tangan jahil yang akan menggores luka di kehidupannya.

Mulianya perempuan, ada dalam aturan yang mulia. Dan hanya sistem Islam yang diterapkan secara kaffah, sanggup memuliakan perempuan. Sehingga perempuan dapat menjalani peran utamanya dengan nyaman, tanpa harus berfikir keras untuk bekerja menopang ekonomi keluarga. Fokus menjadikan anak-anaknya generasi tangguh, pengemban risalah Islam, pengukir peradaban gemilang di masa depan.

Post a Comment

0 Comments