Kala Miras Menguras Nyawa

Oleh : Nuraeni E Aswari



KETIKA menenggak minuman keras sudah menjadi kebiasaan apalagi kebutuhan, alih-alih ingin berhenti membeli yang ada mencari berbagai cara supaya tetap bisa mengonsumsinya walau banyak aral melintang di depan mata.Tarif pajak minuman keras yang sengaja ditinggikan pada kenyataannya tak mampu membuat sebagian masyarakat yang terbiasa mengonsumsinya untuk tak lagi membeli. Bahkan menjadi sebuah keuntungan besar bagi para penjualnya, tarif pajak tinggi maka harga jual pun menjadi tinggi.



Itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa minuman keras oplosan menjadi alternatif lain, bagaimana caranya agar tetap bisa mengonsumsi minuman keras namun mendapatkannya dengan harga yang murah, dibuatlah minuman keras racikan mereka sendiri meski pada kenyataannya jelas sekali resikonya.



Pada awal April saja minuman keras sudah meregang puluhan nyawa di berbagai daerah. Itu artinya puluhan nyawa masyarakat Indonesia berpulang kepada Illahi secara sia-sia. Berikut informasi terkait jumlah korban minuman keras oplosan pada April 2018:"Seperti diketahui, sebanyak delapan warga Bekasi tewas akibat menenggak minuman keras oplosan." (m.merdeka.com, Jumat, 6 April 2018)



"Sebanyak 11 orang warga di Cicalengka, Kabupaten Bandung tewas diduga akibat menenggak minuman keras oplosan. Sembilan orang lainnya masih dirawat di RSUD Cicalengka dalam kondisi kritis. Sementara enam orang lainnya sudah diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing dan satu dirujuk ke RSHS." (republika.co.id, Minggu, 8 April 2018)



"31 warga dinyatakan meninggal dunia usai menenggak minuman keras oplosan. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono menerangkan, dari 31 itu, tujuh warga Bekasi dinyatakan meninggal dunia di tiga tempat kejadian perkara." (jateng.tribunnews.com, Kamis, 5 April 2018)



Dari tidak sedikitnya kasus minuman keras oplosan yang dapat meregang puluhan nyawa di atas membuktikan bahwa peran pemerintah terhadap penanganan minuman keras ini tidak berjalan dengan baik sebagaimana seharusnya.



Pemerintah tentunya tak mengharapkan kasus kematian sia-sia ini terjadi kepada masyarakat Indonesia. Sayangnya dengan kemudahan minuman keras mendarat di Indonesia sampai bisa dipasarkan di tiap-tiap warung menjadi bukti kasat mata bahwa Pemerintah masih abai terhadap pengonsumsian minuman keras ini.



Pengonsumsian minuman keras ini memang dianggap sebagai urusan pribadi oleh Pemerintah, menjunjung prinsip kebebasan dari Demokrasi katanya. Sayangnya kemajuan bangsa ini haruslah ada campur tangan juga dari pemerintah melalui peningkatan moral pada tiap-tiap masyarakatnya khususnya generasi muda Indonesia.Dan Islam sudah mempunyai solusi untuk ini. Penerapan Islam secara kaffah (keseluruhan) akan menumbuhkan moral yang baik pada tiap-tiap pribadi masyarakat itu sendiri. Penerapan syariat Islam sudah menjamin keterjagaan masyarakat akan kerusakan moral yang terjadi pada masa ini.



Terbukti ketika pada zaman Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, meminum khamr atau minuman keras sudah menjadi tradisi yang mendarah-daging dari masa jahiliyyah apalagi cuaca di padang pasir sana sangatlah ekstrim, jika panas sampai membakar kulit, jika dingin sampai menusuk daging.



Dan pelarangan meminum khamr itu diturunkan secara berangsur-angsur kala itu, dari mulai diserukannya bahwa meminum khamr itu dosanya lebih besar daripada manfaatnya. Lalu tidak diperbolehkannya orang mabuk menunaikan shalat dan yang terakhir Allah menurunkan firman-Nya:


"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)" [QS. Al-Maidah : 90-91]



Dan tahukah apa yang dilakukan oleh para sahabat dan ummat muslim lainnya kala itu? Dengan keimanan yang tinggi disebabkan berhasilnya syariat Islam membentuk moral sebaik-baik moral. Mereka melenyapkan persediaan khamr-khamr mereka bahkan mereka sampai memasukan jari mereka ke dalam tenggorokan mereka supaya khamr yang terlampau masuk ke dalam perut mereka dapat dikeluarkan.



Sampai sebegitu taatnya ummat Muslim akan perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dan ketaatan itu takkan terbentuk ketika tiap-tiap hamba tak mempunyai keimanan sebaik-baik keimanan. Maka jelaslah kesudahan untuk kasus minuman keras oplosan ini hanyalah syariat Islam.

Post a Comment

0 Comments