Jelajah Potensi Bombana Dan Wawonii

Oleh: Sitti Aisyah Al-Fatih,SE
(Crew Muslimah Media Centre Wil. Kendari)




Bombana adalah salah-satu daerah yang berada di provinsi Sulawesi Tenggara yang memiliki kekayaan Sumber Daya Alam yang berlimpah yakni tambang Nikel dan Emas yang telah di ketahui sejak tahun 2008 silam dan sempat menjadi buming dikalangan masyarakat Sulawesi tenggara, para masyarakatnya berbondong-bondang untung mendulang emas, namun kini tidak lagi sebab telah dikelola oleh perusahaan tambang yang telah bekerja sama dengan pemerintah pusat. Pertambangan dan Sumber Daya Mineral Provinsi Sultra, mencatat didalam bumi kabupaten Bombana yang berpenduduk sebanyak 139.235 jiwa ini terdapat butiran emas kurang lebih 1.125.000 metrik ton. (kendari, my sultra.com)

Selain emas dan nikelnya kabupaten bombana juga diketahui berpotensi menghasilkan hasil pertanian seperti beras, kakao dan cengkeh. Potensi pertanian di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra), ibarat Berlian yang terpendam. Ini dibuktilan dengan banyaknya jenis tanaman di daerah itu yang bisa membuahkan hasil luar biasa. potensi pertanian ini apabila dikerjakan dengan baik hasilnya akan sangat memuaskan. Namun fakta berbicara lain, potensi pertanian yang ada tidak didukung dengan Sumber Daya Manusia (SDA), banyak masyarakat hanya bermodalkan tenaga yang tidak dibarengi dengan pemahaman pengelolaan. sebagai contoh tanaman kakao misalnya, dalam satu pohon itu minimal menghasilkan 10 kilo gram per tahun tetapi yang terlihat  satu pohon itu jangankan menghasilkan kilogram, dalam satu pohon saja cuma menghasilkan beberapa buah.(Zonasultra.com, Rabu 11/11). kurangnya kepedulian pemerintah dalam melakukan penyuluhan- penyuluhan yang benar atau sosialisasi, sehingga masyarakat tidak mengetahui cara mengolah pertanian mereka dengan baik menjadi salah-satu sebab kegagalan ini dan berimpas kemiskinan semakin merata.
Sangat ironi banyaknya kekayaan alam tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakatnya, kenyataan yang ada bombana termasuk salah-satu dari tiga kabupaten tertinggal di Sultra sebagian warganya masih hidup dibawah garis kemiskinan. Ini terbukti dengan hasil survei pendapatan masyarakat Kabupaten Bombana berada di bawah rata-rata Rp 1 juta per bulan.

Sangat miris, jika melihat potensi SDA yang ada di Indonesia terkhusus Bombana begitu berlimpah namun tidak dirasakan oleh masyarakatnya sebab potensi SDA dikelola oleh Swasta. Antaranews.com merilis “Wakil Bupati Bombana, Masyura Illa Ladamai, hanya bisa pasrah melihat kondisi warganya. Dia menyadari kekayaan dimiliki kabupaten Bombana tidak bisa dinikmati warga. Sebagian besar warganya masih hidup dalam kemiskinan. Masyura memberi contoh kewenangan pengelolaan sumber daya alam berupa tambang emas dan tambang nike di Bombana. Pemerintah kabupaten Bombana, hanya sebatas memberikan izin tentang penggunaan kawasan lahan tambang. Sedangkan menyangkut pendapatan dari tambang itu sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah pusat. (antaranews.com, 22-04).

Wawonii Dan Potensi Baharinya

Tidak kalah dengan daerah lain wawonii yang di kelilingi tiga selat yakni, Selat Wawonii, Selat Buton dan laut Banda menyimpan pontensi  wisata bahari yang terhampar luas di sekelilingnya layaknya pulau bali dan kini dijuluki “Bali Dua”.
Luas wilayah Kabupaten Konawe Kepulauan (Wawonii) adalah sekitar ± 1.513.98 Km  terdiri dari daratan ± 867, 58 Km2, Luas Perairan (laut) ± 646, 40 km2 dan garis pantai  178 km2. Atas dasar kondisi tersebut, maka potensi sektor perikanan dan kelautan serta sektor pariwisata (wisata air terjun dan wisata bahari) menjadi sektor andalan daerah ini.

Secara geografis Kabupaten Konawe Kepulauan berada pada posis strategis karena perairan lautnya di lalui jalur pelayaran nasional kawasan timur dan barat, wilayah darat pulau wawonii di apit oleh laut banda dan selat buton yang memiliki sumber daya keragaman hayati cukup besar.

Jika melangka ke daratnya, Konawe Kepulauan terdapat sejuta potensi unggulan, terutama bidang pertambangan seperti nikel, pasir kroom, pasir kuarsa, marmer, emas, batu bara, batu gunung dan sirtu (Pasir Kali) yang saat ini masih perawan belum diolah dan tentunya akan menjadi lirikan para investor Asing. Di bidang pertaniannyapun tak kalah daerah ini memiliki areal persawahan yang cukup luas serta tanaman jangka panjang dan jangka pendek. Di bidang perkebunan komiditi unggalannya antara lain : Kelapa, Cengkeh, Jambu Mete, pala dll. 

Bidang Kehutanan pulau wawonii masih terdapat paru-paru bumi yang masih perawan, terdapat pula 23 sungai dan 10 air terjun yang ketinggiannya mencapai ± 120 m dimana debet airnya sangat keras, sangat cocok untuk digunakan sebagai sumber energi. Kemudian di tengah-tengah gunung waworete (Pulau Wawonii) terdapat danau yang cukup besar dan di sekitarnya terdapat danau kecil yang sangat panas. Inilah potensi besar yang ada di wawonii yang membutuhkan pengelolaan.

Khatimah

Jika mengamati potensi SDA daerah-daerah di Indonesia khususnya bombana dan wawonii sudah seharusnya kesejahteraan itu ada, namun, kondisi berbanding terbalik  masyarakatnya kini hidup dibawah garis kemiskinan dan semakin sengsara terkhusus bagi masyarakat yang hidupnya disekitaran tabang sebab merekalah yang merasakan imbas dari pengelolaan tambang. 
Belum lagi, perusahaan swasta diberikan kewenangan penuh untuk mengeruk habis Sumber Daya Alam yang seharusnya menjadi sarana kesejahteraan masyarakat. Sementara disisi lain, pemerintah mendapatkan royalti hanya dari pajak yang angkanya sangat kecil dibandingkan dengan keuntungan perusahaan. Tentu akan berbeda faktanya jika sumber daya alam dikelola sepenuhnya oleh Pemerintah yang hasilnya digunakan untuk menyejahterakan masyarakat.

Swastanisasi bisa terjadi akibat sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan di negara ini. Aturan yang ada secara otomatis melegalkan pengelolaan sumber daya alam oleh swasta. Pemerintah justru melepas peranannya dalam berbagai pengelolaan ekonomi, khususnya menyangkut sektor-sektor sentral yang menguasai hajat hidup orang banyak. Wallahu’alam bi ash-shawab


Post a Comment

0 Comments