Islam dan Perlindungan

Oleh : Mulyaningsih, S. Pt (Pemerhati Masalah Anak, Remaja dan Keluarga)



Beberapa hari ini publik dihebohkan dengan video pembacaan puisi yang disampaikan oleh ibu Sukmawati Soekarnoputri. Pasalnya isi puisi tersebut sangat melecehkan Islam. Ibu Sukmawati membandingkan cadar dengan konde serta lantunan adzan dibandingkan kidung ibu Indonesia. Tentulah akan membuat geram seluruh kaum muslimin di negeri ini. 


Ibarat luka yang baru sembuh, kemudian menganga kembali. Perih dan sakit yang dirasakan. Kita semua telah tahu bahwa ditahun 2017 Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) yang kala itu berpidato di Kepulauan Seribu melakukan penghinaan terhadap umat Islam lewat Al Maidah 51. Dengan serta merta seluruh kaum muslim se-Indonesia melakukan aksi untuk menuntut beliau. Sungguh luar biasa ketika itu, setidaknya 7 juta kaum muslim berkumpul menyuarakan hal yang sama. Yaitu bahwa hal tersebut telah menghina umat Islam dan wajib diberikan sangsi.



Dari dua kasus diatas membuktikan bahwa saat ini Islam selalu menjadi bahan guyonan, bercandaan, penghinaan dan pelecehan. Mengapa semua itu terus saja berulang dan tidak berkesudahan? Apakah negara tidak mampu menjaga Islam dan kaum Muslimin?



Pandangan Islam


Islam (Al-Islâm) adalah agama (dîn) yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengatur interaksi antara manusia dengan Tuhannya, dirinya sendiri dan orang lain. Sebagai agama yang diturunkan oleh Allah, Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta. Tak hanya pada manusia, rahmat itu dapat dirasakan hewan, tumbuhan serta makhluk yang lain. Oleh sebab itu Islam adalah agama yang sempurna karena mengatur seluruh aspek kehidupan, baik di bidang ekonomi, sosial, budaya, politik, pendidikan dan yang lainnya. 


Pada kasus di ataas telah jelas bahwa tidak adanya perlindungan baik kepada Islam dan para pemeluknya. Kasus yang terus akan berulang jika tidak ada tindakan jelas. Hal tersebut sudah terbukti benar adanya. Ada satu contoh yang sepatutnya kita tiru. Dahulu, ketika Islam Berjaya dimasa ke khalifahan Abu Ishaq ‘Abbas Al-Mu’tasim Ibn harun Ar Rasyid (795-842 M). pada suatu saat ada seorang budak wanita muslimah yang diganggu oleh orang Romawi saat berbelanja di pasar. Sang budak tersebut memakai pakaian yang menutup aurat secara sempurna. Yaitu dengan mengenakan gamis dan kerudung. Ketika itu ada orang Romawi yang berpenyakit hati mengganggu sang wanita. Ia mengkaitkan pakaian wanita tersebut pada sesuatu sehingga tersingkaplah auratnya saat bergerak. Kemudian wanita tersebut berteriak “Waa Mu’tasimaah!”. Artinya adalah dimana engkau Mu’tasim, tolonglah aku. Al Mu’tasim billah adalah sapaan sang khalifah.



Saat itu sang wanita berada di kota Ammuriyah (kota di bawah kekuasaan Romawi, masih wilayah Asia) sedangkan khalifah berada di pusat pemerintahan kota Bagdad (sekarang Irak). Ketika teriakan itu sampai pada khalifah maka dengan serta merta beliau memerintahkan kepada para pasukannya untuk memenuhi panggilan wanita tersebut. Beribu-ribu pasukan dikerahkan, pada saat berbaris pasukan terdepan sudah ada di kota Ammuriyah dan pasukan belakang ada di wilayah Bagdad. Begitu seriusnya khalifah Al Mu’tasim dalam melindungi kehormatan seorang wanita.



Sungguh contoh yang sudah semetinya kita tiru dan terapkan dalam masa sekarang. Hanya karena seorang muslimah saja seorang pemimpin langsung dengan sigap meminta kepada pasukannya untuk membela wanita tersebut. Apalagi jika Islam dihina, perintah Allah di cemooh dan dibanding-bandingkan dengan sesuatu yang lain. 
Contoh diatas juga menggambarkan bahwa sebagai seorang muslimah wajib memakai pakaian yang sesuai dengan syariat. Hal tersebut dimaksudkan agar wanita terlihat mulia dan terpandang dimata dunia. Hal ini tercantum dalam Surat Al Ahzan 59 dan An Nur 31.


Hai Nabi, katakanlah kepada Istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin:  


Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Peyayang (TQS. Al-Ahzab 59)


Katakanlah kepada wanita yang beriman: 


“Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) Nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memiliki keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (TQS AN Nur 31).



Telah jelas bahwa sesungguhnya ketika Islam ada dan di terapkan secara sempurna maka tak ada seorang yang mampu melecehkan dan menghinanya. Lewat perintah-perintah Allah, sejatinya tersirat maslahat di dalamnya. Tetapi kita tidak memandang dari maslahat tersebut, yang kita lakukan adalah murni sebagai hambaNya yang akan mematuhi semua printah dariNya.  


Pantas saja sekarang banyak sekali orang yang dengan sengaja melecehkan Islam dan para pemeluknya. Hal tersebut dikarena Islam belum diterapkan dalam kehidupan ini sehingga benteng perlindungan belum bisa terbentuk. Oleh sebab itu, hal yang mesti dilakukan adalah berusaha dengan semaksimal mungkin untuk menerapkan Islam, sehingga benteng itu segera akan terbangun. Tak ada lagi yang berani untuk melecehkan Islam dan kaum muslimin. Wallahu A’lam [ ].



Mulyaningsih, S. Pt
Ibu Rumah Tangga 
Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK) Kalsel
Pemerhati Masalah Anak, Remaja dan Keluarga

Post a Comment

0 Comments