Iman Adalah Mutiara

Oleh: Vio Ani Suwarni Karmo


IMAN adalah mutiara merupakan sebuah lagu yang bergenre Islami yang dipopulerkan oleh group nasyid Raihan asal negeri jiran Malaysia. Lagu yang fenomenal ini mampu mengetuk hati setiap insan, bukan karena penghayatannya saja, tapi karena lirik dari lagu tersebut yang membuat hati terenyuh. Betapa tidak terenyuh, dalam lagu tersebut kita dituntun untuk berpikir mendalam, bahwasannya iman itu bagaikan sebuah mutiara. Oke guys, tahu kan bagaimana sebuah mutiara, mutiara itu sangat indah, selain indah harganya pun lumayan wah. Begitu hebatnya sebuah keimanan hingga group nasyid tersebut mengumpamakannya seperti sebuah mutiara.

Dalam penggalan lagu tersebut berbunyi "Iman tak dapat diwarisi dari seorang ayah yang bertakwa, iman tak dapat dijual beli karena tiada di tepian pantai walau apapun caranya jua, engkau mendaki gunung yang tinggi, engkau merentas lautan api, namun tak dapat jua dimiliki, jika tidak kembali pada Allah".

Jelas sekali bahwa iman itu adalah mutiara, buktinya saja iman itu tidak dapat diwarisi dari seorang ayah yang bertakwa. Kita sering menjumpai di kalangan masyarakat, banyak sekali seorang anak yang kepribadiannya berbeda jauh dengan ayahnya. Begitu pun sebaliknya. Ada seorang anak yang memiliki akhlak yang buruk, tapi berbanding terbalik dengan orang tuanya yang memiliki akhlak yang baik, ataupun sebaliknya. Hal tersebut membuktikan bahwasannya sebuah keimanan tidak dapat diwariskan dari orang tua kita, walaupun pada hakikatnya anak dan orang tua itu memiliki darah yang sama. Itu artinya keimanan itu memang pure harus dicari oleh individu itu sendiri, jangan sampai ada statement "Saya beragama Islam karena ibu bapak saya beragama Islam". Jadi kesannya itu seperti Islam karena keturunan. Kalau Islam itu keturunan, seharusnya tidak ada seorang anak yang berlainan keyakinan dengan kedua orang tuanya. Tapi kenyataannya, banyak anak dan orang tua yang memiliki keyakinan yang berbeda. Itu tandanya memang iman adalah murni sebuah pilihan dari individu itu sendiri.

Karena sebuah keimanan itu menjadi pilihan setiap individu masing-masing, maka kita harus siap mencari. Mencari jawaban tentang hakikat keimanan itu sendiri. Dalam penggalan lagu pun sudah tertulis bahwasannya iman tidak dapat di jual beli. Karena tidak dapat dijual beli maka kita harus mencarinya sampai kita menemukan hakikat keimanan yang sesungguhnya. Karena mendengar kata mencari, berarti selalu muncul pertanyaan dalam benak kita. Pertanyaan apa sih yang membuat kita bertanya-tanya?

Pertanyaan pertama muncul dalam benak kita adalah, dari manakah kita berasal? Secara biologis, pasti kita akan dengan mudah menjawab kalau kita itu berasal dari rahim ibu kita. Tapi pertanyaannya lebih dari pada itu. Memang betul kita berasal dari rahim ibu kita, setelah sembilan bulan lamanya ibu kita mengandung, kemudian melahirkan kita. Tapi kita tahu bahwa ibu kita juga makhluk biasa, berarti ada sesuatu yang lebih besar yang membantu ibu kita. Agar mampu membuat ibu kita kuat untuk menghadapi proses yang cukup panjang tadi. Pasti penasaran kan, sesuatu yang lebih besarnya itu apa? Sesuatu yang lebih besar dari pada makhluk itu sudah pasti adalah Sang Khaliq Allah SWT Rabb pencipta alam semesta, tuhan seluruh alam.

Setelah kita mengetahui kita berasal dari mana, pasti kita ingin mengetahui pertanyaan yang selanjutnya. Kita diciptakan ke dunia ini untuk apa sih, apakah hanya untuk bekerja, sekolah, makan, minum, membersihkan rumah dan sejumlah pekerjaan yang lainnya. Ternyata lebih dari pada itu, kita diciptakan oleh Allah SWT untuk beribadah kepada Nya. Apakah bentuk ibadahnya itu hanya sekedar shalat, zakat, puasa dan haji? Dan lagi lagi beribadanya pun lebih dari pada itu. Beribadah kepada Allah SWT tidak sekedar pada tataran ibadah mahdah, akan tetapi segala aktivitas kita harus berstandarkan keimanan, ketakwaan dan hanya semata-mata mengharap ridha Allah SWT. Penting sekali bagi kita untuk mengetahui apakah segala bentuk ibadah kita sudah sesuai dengan aturan Allah, apakah Allah sudah ridha akan segala kegiatan dan keputusan yang sudah kita ambil. 

Setalah kita mengetahui kita berasal dari Allah, kita hidup hanya untuk beribadah kepada Allah. Maka tibalah kita pada pertanyaan puncak yang akan membuat kita paham bahwasannya iman itu memang sebuah mutiara. Pertanyaan puncaknya adalah, setelah kehidupan ini berakhir akan kembali ke manakah kita? Sudah pasti jawabannya kita akan kembali kepada Allah, sudah punya bekalkah kita untuk kembali ke pada Nya? Karena tempat yang paling baik untuk mengumpulkan bekal adalah dunia, dan pastikan ketika kita kembali kepada Allah kita membawa iman yang menyerupai mutiara.

Begitu mulianya sebuah keimanan sehingga diumpamakan seperti mutiara. Tugas makhluk hanya satu saja yakni beriman kepada Allah dan menjaga keimanannya agar seperti mutiara. Karena kita paham betul kita adalah manusia biasa, yang serba memiliki kekurangan membutuhkan orang lain dan membutuhkan sesuatu yang lebih besar yakni Allah SWT. Tak kalah penting kita harus menyadari bahwa kita berasal dari Allah SWT dan akan kembali kepada Allah SWT.

Post a Comment

0 Comments