Hilang Nyawa Karena Cinta

Oleh : Ragil Rahayu (Pengasuh MT al Bayyinah Sidoarjo)



Putus cinta, bisa berujung maut. Seorang remaja berinisial KA mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di Denpasar. Menurut informasi, pelajar kelas XI ini nekat mengakhiri nyawanya sendiri karena patah hati setelah putus dari kekasihnya (Okezone, 20/3/2018). Di Brebes, MM seorang remaja 17 tahun nekat bunuh diri karena putus cinta (panturapost, 19/3/2018). 

Rasa cinta memang fitrah adanya. Dia ada sebagai anugerah Sang Maha Pencipta, Allah Ta'ala. Setiap yang hidup, pasti miliki cinta. Cinta pada orangtua, pada saudara, pada sesama manusia. Pun juga pada dia yang istimewa. Dia yang namanya selalu di dada. Dia yang wajahnya selalu bertahta, kala malam menjelma. 

Hati ini ingin selalu bersama. Merenda suka dan duka. Tersenyum bersama saat cerah maupun gulita. Berbagi cerita tentang hujan, pelangi dan semesta. Indahnya mereka, tak seindah dia. Karena hati bertaut enggan berlepas. Seperti raga dan nafas. 

Namun hari tak selalu cerah. Mendung datang menjelma. Tak hanya gulita, bahkan bertambah prahara. Hujan menjadi badai. Pelangi sembunyikan diri. Semesta seolah tak restui. Hati yang terpaut akhirnya putus. Lepas. Dia pergi dengan bebas. Tinggalkan diri yang susah bernafas. Terduduk di sudut, menunduk berderai airmata, tubuh pun lemas.

Setan pun berbisik mesra. Ajak habisi nyawa. Tanpa cinta, hidup untuk apa? Katanya. Tanpa fikir panjang, ikuti setan dan rayuannya. Hilanglah nyawa dari raga. Apakah itu akhir segalanya? Ternyata kematian adalah awal kehidupan baru. Kehidupan yang selamanya. Jika habisi nyawa sendiri, azab Allah balasannya. Kelak menyesal di neraka, selamanya. Sanggupkah? 

Jangan putus asa. Bersedihlah, tapi secukupnya saja. Jangan lama-lama. Setelah badai pasti ada mentari. Hapus air mata, ada kebaikan siap menyambut kita. Cahaya cerah masa depan. Namun, jangan mencari badai baru, menantang murka-Nya. Setelah putus, mencari kekasih baru. Putus lagi, menangis lagi. Ah, sampai kapan? Airmatamu terlalu berharga untuk seorang pendusta. 

Cinta Manusia

Demikianlah jika berharap cinta manusia. Fana dan tak selamanya. Suatu saat pasti pudar, pasti hilang, pasti kecewa. Karena cinta manusia tak hakiki adanya. Apalagi cinta karena nafsu buta. Cepat tumbuh, cepat merekah, cepat pula luruhnya. Gugur dan diganti kuncup lainnya. Selalu begitu, hingga diri ini lelah. Lelah mengejar cinta semu. 

Cinta manusia bergandeng erat dengan kecewa. Kadang pengkhianatan menjadi melodinya. Lelah raga dan jiwa, sampai kapan mengejar cinta? Sementara hidup tak selamanya. Muda tak seterusnya. Waktu kita ada batasnya. 

Kejarlah cinta yang hakiki. Itulah cinta Ilahi Rabbi. Cinta murni tanpa tendensi. Tiada akhirnya kecuali kebaikan. Inilah jalan lurus, taman kebahagiaan ada di ujungnya. Taman surga. Tempat dimana tak ada kesedihan dan airmata. Tak ada dusta dan pengkhianatan. Hanya ada bahagia, selamanya. 

Jika kau cintai manusia. Cintailah karena Sang Pencipta. Bukan semata karena wajahnya, tubuhnya, sifatnya. Cintailah dia karena ridha Allah ta'ala. Pelajari syariat-Nya, agar tahu cara mencintainya. Allah telah gariskan pernikahan. Satu-satunya jalan mencintai dia. Ikatan suci, atas dasar keimanan. Bahwa kita berdua, ingin berjalan bersama meraih ridha-Nya. Bahwa kita ingin berjuang masuk surga-Nya. 

Namun pernikahan bukan jalan bertabur bunga. Semerbak wangi tanpa onak. Pernikahan adalah jalan mendaki. Penuh duri, lubang dan hewan buas. Butuh keberanian, komitmen, kejujuran, dan mental baja. Sekaligus welas asih, sabar, pemaaf, dan mau mengalah. Pun ilmu yang cukup tentang syariat. Syariat memimpin, mengurus rumah dan mendidik bocah. Bekal itu, sudah punyakah kita? 

Pantaskan Diri

Saat ini kita masih belia. Belum cukup bekal kesana. Jangan terjebak romansa merah jambu. Hingga lupa menyiapkan bekal ke surga. Ada saatnya, jodoh kan tiba. Allah pilihkan yang terbaik, sesuai kesalihan kita. Sekarang fokuslah memantaskan diri, menjadi pribadi salih. Agar kelak mendapat jodoh sepadan. 

Pelajari Islam dengan segenap pikir dan perasaan. Taati syariat setiap kaki melangkah. Ingatlah Allah setiap nafas terhela. Jauhi maksiat, seperti timur menjauhi barat. Buatlah jejak kebaikan di alam semesta. Dengan prestasi, karya, dan amal jariyah. Tak putus pahala, meski kita tiada. Hormat, sayang dan patuhi orangtua. Karena kasih sayang mereka pada kita, telah terbuktikan seumur hidup kita. 

Bila saatnya tiba, kekasih hati akan Allah kirimkan. Saat kita telah pantas. Siap menjadi ibu, siap menjadi ayah. Siap menjadi pemimpin, imam dan juga panutan. Siap dipimpin, siap taat dan menjaga kehormatan. Saat itu, cinta karena Allah akan jadi penuntun. Untuk selalu mengejar ridha-Nya. Maka hidup begitu berharga, untuk memperjuangkan surga kita. Mengakhiri hidup hanya berakhir celaka. Di dunia dan neraka. Semoga kita bisa mengisi amanah umur ini untuk taat pada Allah ta'ala. 

Penulis : Ragil Rahayu
Pengasuh MT al Bayyinah Sidoarjo.

Post a Comment

0 Comments