Hari Kesehatan Internasional Vs Kesehatan Negeri Ini

Oleh : Mulyaningsih, S. Pt (Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK) Kalsel) 




DERETAN kejadian demi kejadian sili berganti mewarnai negeri ini. Tak terasa begitu cepat sang waktu bergerak cepat, hampir dua pekan lamanya April telah kita lewati. Ada sebagian yang konsen ke pemilihan daerah (Pilkada) lewat blusukan-blusukannya. Sebagian yang lain merangcang pada kemenangan 2019. Itulah gambaran beberapa aktivitas yang kini mulai mewarnai negeri ini. Masalah bahan bakar minyak yang naik, harga bawang yang mulai membumbung tinggi. Serta yang tak kalah menghebohkan dan menjadi bahan perbincangan adalah kejadian meninggalnya hampir 91 orang yang di duga telah mengkonsumsi minuman keras oplosan. Tak luput pula dengan masalah kesehatan ikut memberikan warnanya dalam negeri ini.

Pada tanggal 7 April kemarin adalah peringatan hari kesehatan internasional. Jika berbicara masalah kesehatan, maka tak akan pernah ada habisnya. Masih saja berkutat pada hal yang sama, pelayanan yang kurang memuaskan, sulitnya mendapatkan kamar ketika pasien tersebut harus rawat inap dan jalur pemeriksaaan yang berbelit-belit. Itulah gambaran pelayanan kesehatan di negeri tercinta kita. 

“75 % peserta BPJS Kesehatan menyoal pelayanan Rumah Sakit yang menuai banyak masalah,” kata kordinator kornas MP BPJS, Hendry Susanto (6/10/17) (rmol.com). Banyak pasien BPJS Kesehatan yang ditolak karena fasilitas kamar rawat inap RS penuh, RS meminta uang muka perawatan kesehatan, kelangkaan obat maupun darah bagi pesrta BPJS dan yang lainnya. Hal itu mendorong pada ketidakkuasaan publik terhadap pelayanan BPJS kesehatan.

“Problem di rumah sakit yang pertama adalah antrian yang panjang di poliklinik danpada saat mau dilaksanakan operasi,” kata Wakil Ketua Umum Irsjam (Ikatan Rumah Sakit Jakarta Metropolitan) Rachmat Mulyana Mamet (17/1/2018) (megapolitan.kompas.com). Kemudian yang selanjutnya adalah kurangnya ruang perawatan bagi bayi dan anak kecil serta dewasa.

Padahal kalau mau dikata, kita (masyarakat) bayar untuk mendapatkan fasilitas dan pelayanan kesehatan. Kenapa malah seakan-akan kita mengemis untuk mendapatkannya. Sebenarnya harusnya seperti apa? Serta bagaimana pelaksanaannya agar semua lini masyarakat dapat terpenuhi kebutuhan kesehatan? Karena sejatinya kesehatan ini adalah kebutuhan pokok yang tidak bisa diurungkan waktunya, harus segera ditindaklanjuti.

Pandangan Islam

Islam adalah sebuah agama yang tak hanya mengurusi masalah ibadah hamba kepada Robbnya saja. Namun mengatur seluruh permasalahan manusia yang lain, baik menyangkut dengan dirinya sendiri ataupun dengan orang lain. Islam mengatur akan itu semua. Tak ubahnya dalam bidang kesehatan, Islam sangat peduli terhadap hal tersebut. Karena dalam Islam kesehatan termasuk dalam kebutuhan pokok yang wajib dipenuhi.

Nabi SAW bersabda:


 “Setiap dari kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab untuk orang-orang yang dipimpin. Jadi, penguasa adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya.” (Bukhari dan Muslim).

Dari hadist tersebut didapatkan bahwa pemimpin berkewajiban untuk mengelola urusan rakyatnya. Seluruh kebutuhan pokok rakyat terpenuhi individu per-individunya. Hal ini harus dipastikan bahwa setiap orang mendapatkan kebutuhan pokok tersebut. Salah satu kebutuhan yang wajib dikelola adalah masalah kesehatan. Dalam hal ini negara lewat pemerintah berkewajiban untuk menyediakan layanan kesehatan yang mempuni kepada rakyatnya. 

Contoh nyata yang patut ditiru adalah teladan kita, Nabi Muhammad SAW. Kala itu Rasulullah SAW sebagai kepala negara di Madinah. Beliau mendapatkan hadiah dari Gubernur Romawi yang berkuasa di Mesir berupa dokter. Rasulullah langsung memerintahkan kepada dokter tersebut agar memeriksa rakyatnya. Dari sini dapat kita ambil pelajaran bahwa sebagai kepala negara harus bisa bersikap layaknya seorang pemimpin. Yang mampu mengayomi serta melindungi rakyatnya. Utamanya dalam hal kesehatan tadi, Karena ini adalah kebutuhan pokok yang wajib dipenuhi.

Islam, apabila diterapkan sebagai sebuah sistem maka akan menyediakan sarana dan prasarana untuk berprestasi dalam semua bidang. Di masa lalu ketika Islam berjaya, semua orang belomba-lomba untuk melakukan yang terbaik demi kemaslahatan ummat. Negara menyediakan rumah sakit kelas satu dan dokter-dokter yang ahi dibidangnya. Sebagai contoh adalah rumah sakit umum Bimaristan al-Mansuri di Kairo. Rumah sakit tersebut mampu mengakomodasi 8.000 pasien ditambah ada dua petugas untuk setiap satu pasien. Petugas tersebut memberikan pelayanan maksimal kepada si pasien. Termasuk didalamnya adalah menyediakan makan dan minum serta menyuapinya serta kebutuhan yang lainnya. Hal itu dilakukan agar memberikan motivasi agar yang sakit segera pulih.

Pengadaan apotik dan klinik berjalan. Hal ini dilakukan agar mampu menjangkau orang-orang didesa, utamanya bagi mereka yang mempunyai keterbatasan fisik. Khalifah Al-Muqtadir Billah memberikan mandate kepada kepada para petugas apotik dan klinik berjalan agar mengunjungi setiap desa dan tetap tinggal disana selama beberapa hari sebelum melanjutkan menuju desa lainnya.

Dari gambaran fakta sejarah diatas maka seharusnya penguasa benar-benar memperhatikan permasalahan rakyatnya. Kebutuhan pokok harus dikontrol dan diperiksa agar terpenuhi individu per-individunya. Utamanya masalah kesehatan ini. Kelak di yaumil akhir hisab terhadap ini begitu berat. Sehingga seharusnya pemerintah (penguasa) harus bersikap serius dan sungguh-sungguh terhadap pemenuhan kebutuhan pokok rakyat yang ia pimpin.Tentunya sistem yang harus diterapkan adalah Islam. Karena hanya dengan Islam semua bisa diwujudkan secara sempurna. Wallahu a’lam [ ] 





Mulyaningsih, S. Pt
Ibu rumah tangga
Pemerhati masalah anak, remaja dan keluarga
Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK) Kalsel

Post a Comment

0 Comments